LEMBAR PENGESAHAN
Laporan pencandraan
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian
praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan I.
NAMA : NUR AFIYAH SULAIMAN
N I M : H4113504
Makassar, 21
November 2014
Koordinator
Praktikum, Asisten
pembimbing,
NURUL QALBY CINDY YOHANA SIGA
H411 11 271 H411 11 293
Dosen Penanggung Jawab Mata
Kuliah,
DR. SRI SUHADIYAH, M.Agr.
19540403
1988102 001
KATA PENGANTAR
Segala puji hanyalah milik Allah SWT yang telah memberikan kesehataan dan
kesempatan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan penyandraan yang kini ada di tangan pembaca, walaupun dalam penyusunannya sangat banyak rintangan-rintangan atau kesalahan yang
terjadi dalam penyusunan laporan ini.
Adapun bahan sampel
penyandraan yang dipilih untuk dibahas di dalamnya yaitu
mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. Sedangkan penyandraan itu sendiri dapat diartikan sebagai teknik penggambaran sifat-sifat tumbuhan dalam
tulisan verbal yang dapat dilengkapi dengan gambar, data penyebaran, habitat,
asal-usul, dan manfaat dari golongan tumbuhan yang dimaksud.
Terima
kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan laporan penyandraan
ini, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Telah disadari bahwa dalam penyusunan laporan pencandraan ini masih terdapat banyak kesalahan,
sehingga diharapkan kritik dan
sarannya untuk kemudian hari. Semoga
laporan penyandraan ini dapat memberikan manfaat yang besar kepada semua pihak terutama bagi diri saya
sendiri. Sekian
dan terima kasih.
Makassar, 21 November
2014
Nur Afiyah Sulaiman
DAFTAR ISI
Lembar
Pengesahan ..........................................................................................1
Kata
Pengantar ..................................................................................................2
Daftar
Isi .............................................................................................................3
BAB
I Pendahuluan ....................................................................................5
I.1 Latar
Belakang .........................................................................5
I.2 Tujuan ......................................................................................6
I.3 Alasan
memilih
judul ...............................................................6
BAB
II Tinjauan Pustaka ............................................................................7
II.1 Tinjauan
Umum ........................................................................7
II.2 Tinjauan
Khusus .......................................................................9
II.2.1
Aspek
Botani............................................................................9
II.2.2
Aspek Ekologi.........................................................................12
II.2.3
Aspek Reproduksi dan Penyerbukan......................................12
II.2.4
Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya ........................................14
BAB
III Kunci Determinasi...........................................................................18
III.1 Kunci
Determinasi ...................................................................18
III.2 Klasifikasi ................................................................................19
BAB
IV Penyandraan /
Descriptio ...............................................................20
IV.1 Penyandraan
Umum .................................................................20
IV.2 Penyandraan
Khusus ................................................................20
IV.2.1 Sel dan Jaringan..............................................................................20
IV.2.2 Akar.................................................................................................21
IV.2.3 Batang..............................................................................................21
IV.2.4 Daun.................................................................................................21
IV.2.5 Bunga................................................................................................22
IV.2.6 Buah dan Biji.....................................................................................22
BAB V Penutup......................................................................................................23
V.1 Kesimpulan ..........................................................................................23
V.2 Saran. ....................................................................................................23
DAFTAR
PUSTAKA .............................................................................................24
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Mangkokan atau daun mangkokan merupakan salah satu tumbuhan hias
pekarangan dan tanaman obat yang relatif populer di Nusantara. Namanya mengacu
pada bentuk daunnya yang melengkung serupa mangkok. Semak yang tumbuh di daerah
tropika, asal dari Pasifik Barat Daya, yang dapat mencapai ketinggian 6 m.
Mangkokan dikenal sebagai tanaman berkhasiat peluruh, antiseptik, dan deodoran.
Bagian yang dipakai adalah daun dan akarnya (Mukhlishah, 1999).
Mangkokan memiliki banyak
nama, baik nama lokal maupun sinonim nama ilmiah. Nama ilmiah sinonimnya
yaitu Polyscias
scutellaria, Nothopanax cochleatum, dan
Panax cochleatum. Mangkokan memiliki banyak nama yang berbeda di
beberapa tempat, diantaranya di Sunda Mangkokan lebih dikenal dengan nama
Mamanukan, di Jawa Mangkokan dikenal dengan nama Godong Mangkokan, di Roti
dikenal dengan nama lanido, ndalido, ranido, ndari, di daerah Ambon Mangkokan
dikenal masyarakat dengan nama ai lohoi, ai laun niwel, daun koin, daun papeda,
sedangkan di Sumatra Mangkokan terkenal dengan nama daun koin, daun mangkok,
memangkokan, daun papeda, pohon mangkok, di Menado disebut Daun mangkok, orang
Makassar menyebutnya dengan mangko-mangko, di wilayah Halmahera Mangkokan
disebut dengan Goma matari, sawoko, Ternate dengan nama rau paroro (Utami,
2008).
Berdasarkan
penjelasan di atas maka dibuatlah laporan penyandraan ini dengan Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. sebagai tanaman yang akan dibuat pencandraannya.
Hal ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai tanaman tersebut.
I.2 Tujuan Laporan
Tujuan dibuatnya laporan
ini adalah :
1.
Untuk mengetahui cara pencandraan dari tanaman Mangkokan Nothopanax
scutellarium Merr.
2.
Untuk mengetahui kunci determinasi dan klasifikasi dari tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.
3.
Untuk mengetahui morfologi tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.
I.3 Alasan Memilih Judul
Melalui
penyandraan suatu tumbuhan, kita lebih mudah mengenali suatu tumbuhan. Judul Mangkokan Nothopanax
scutellarium Merr. ini dipilih karena
tanaman ini sering kita temui sebagai tanaman pagar, namun masih banyak yang belum
mengetahui lebih jauh manfaatnya dari berbagai aspek. Padahal selain sebagai tanaman hias, daun mangkokan (Nothopanax
Scutellarium) banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan dapat dijadikan obat dari
beberapa jenis penyakit. Maka diharapkan dengan adanya laporan penyandraan ini
dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. tersebut. .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Tinjauan Umum
Suatu jenis makhluk hidup yang baru ditemukan
harus dicandra terlebih dahulu. Mencandra adalah mengidentifikasi atau
mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi. Untuk
mencandra atau mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita
memerlukan alat pembanding. Alat pembanding tersebut dapat berupa gambar,
spesimen (awetan hewan atau tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui
namanya, serta kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci
determinasi (Steenis, dkk., 2008).
Pencandraan merupakan proses awal
klasifikasi. Yang dilakukan dalam proses ini adalah identifikasi makhluk hidup
satu dengan makhluk yang lainnya. Pencandraan digunakan untuk mengamati tingkah
laku, bentuk morfologi, anatomi dan fisiologi pada makhluk hidup (Darmojo dan Sastrowiyono, 1997).
Pencandraan atau
pertelaan (deskripsi, deskriptio) adalah teknik penggambaran sifat-sifat
tumbuhan dalam tulisan verbal yang dapat dilengkapi dengan gambar, data
penyebaran, habitat, asal-usul, manfaat dari golongan tumbuhan yang dimaksud.
Pertelaan golongan (takson) tumbuh dapat pada tingkat suku (familia), marga
(genus), jenis (spesies), dan dibawah tingkat jenis yaitu anak jenis (sub jenis),
varitas (varietas), dan forma. Pertelaan suatu jenis takson tumbuhan dilakukan
untuk populasi dalam wilayah penyebarannya sehingga dapat menggambarkan variasi
sifat yang ada. Untuk mempertelakan suatu takson tumbuhan diperlukan adanya aturan baku tertentu
(Issirep, 2005).
Kunci identifikasi atau kunci determinasi pertama
kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya Jean Baptiste de
Lamarck-lah yang menggunakan kunci modern untuk tujuan identifikasi. Salah satu
kunci identifikasi adalah kunci analisis menggunakan ciri taksonomi yang saling
berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan kuplet yang terdiri
atas dua bait pernyataan atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri yang
saling berlawanan sehingga disebut kunci dikotomis . Jika salah satu ciri ada
yang cocok dengan ciri makhluk hidup yang diidentifikasi, ciri atau alternatif
lainnya gugur (Steenis, dkk., 2008).
Sistem klasifikasi APG III merupakan sistem klasifikasi untuk tumbuhan berbunga yang dirilis pada bulan Oktober 2009
oleh Kelompok Filogeni Tumbuhan Berbunga (Angiosperm Phylogeny Group, APG) dalam berkala Botanical Journal of the
Linnean Society enam tahun setelah
pendahulunya, yaitu sistem klasifikasi APG II. Pada bulan yang sama, para
anggota Masyarakat Linnaeus (Linnean Society), organisasi
internasional para pakar taksonomi, mengajukan klasifikasi filogenetik formal bagi semua Embryophyta (tumbuhan darat) untuk mendampingi
sistem klasifikasi APG III.. Pengajuan ini dianggap
mendesak karena para ahli botani dan fikologi (ilmu tentang alga) masih berdebat tentang
posisi taksonomi sejumlah kelas tumbuhan (Darmojo dan Sastrowiyono, 1997).
Menggunakan kunci determinasi,
setiap spesies yang akan diidentifikasi dihadapkan pada dua ciri-ciri morfologi
yang salah satunya paling sesuai dengan spesies tersebut. Apabila sudah
diperoleh ciri-ciri yang sesuai dengan spesies tersebut, kita kemudian menuju ciri-ciri
berikutnya sesuai dengan angka yng tercantum di belakang ciri-ciri tersebut.
Demikian seterusnya, sampai diperoleh nama spesies tersebut (Steenis, dkk., 2008).
II.2 Tinjauan Khusus
II.2.1 Aspek Botani
Melalui pemeriksaan anatomi secara
mikroskopis didapatkan ciri-ciri stomata tipe anisositik dengan tiga sel
tetangga tidak sama besar yang hanya terdapat pada epidermis bawah, kristal
oksalat bentuk roset dan prisma, berkas pengangkutan bikolateral dengan jumlah
banyak dan letak tersebar, dan penebalan xilem bentuk spiral
(Herawati, 2004).
Secara teori, Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. Sebagai tumbuhan dikotil
memiliki akar tunggang (radix primaria)
yang tidak mempunyai pelindung khusus karena akar lembaga tumbuh terus menjadi
akar pokok. Pada akar sifat radial berkas pengangkutnya hanya nyata pada akar yang
belum mengadakan pertumbuhan yang menebal. Akar tumbuhan ini berwarna putih
kecoklatan dan biasanya nampak kotor oleh tanah (Tjitrosoepomo, 2009).
Bentuk morfologi batang Nothopanax scutellarium Merr. memiliki batang yang berkayu (lignosius) dengan
bentuk batang bulat (teres). Sifat permukaan batangnya memperlihatkan bekas-bekas
daun dan arah tumbuh batang tegak lurus (erectus). Percabangan batangnya simpodial yaitu batang
pokok susah ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu
menghentikan pertumbuhannya dibandingkan dengan percabangannya .arah tumbuh
cabangnya tegak (fastigiatus) (Tjitrosoepomo,
2009).
Berdasarkan umurnya termasuk tanaman tahunan
atau tanaman keras. Tumbuh tegak, tinggi 1- 3 m. Batang berkayu,
bercabang, bentuknya bulat, panjang,
dan lurus. Pada saat masih muda berwarna ungu setelah tua putih
kehijauan (Dalimartha, 1999).
Daunnya tunggal, bertangkai, agak tebal, berupih
sehingga termasuk daun tunggal sempurna. Bentuknya
bulat berlekuk seperti mangkok, pangkal berbentuk jantung, tepi bergerigi,
diameter 6-12 cm, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua. Mempunyai bangun daun (circumsriptio) bulat
(orbicularis) karena bagian terlebar berada di tengah-tengah daun
dengan tepi yang menekuk ke atas hingga menyerupai mangkuk, karenanya
orang menyebut sebagai daun mangkokan dan pada zaman dahulu orang sering
menggunakan sebagai pengganti wadah makanan. Morfologi yang lain dari daun ini
adalah mempunyai pangkal daun (basis folii) berlekuk (emarginatus), ujung daun (apex folii) membulat (rotundatus), berbentuk/ bangun daun (circumscriptio) jantung (cordatus), tepi (margo) bergerigi (serratus), diameter, warna daunnya
hijau tua. Permukaan
daun licin (laevis) dalam hal ini permukaan daun dapat kelihatan mengkilap (nitidus) (Tjitrosoepomo, 2009).
Daun Nothopanax scutellarium Merr. memiliki
daging daun (intervenium) agak kaku seperti kulit (coriaceus) permukaan helaian daun licin (laevis),
sisi bawah gundul dengan pertulangan
daun (nervatio) menyirip (penninervis) dan cabang cabang tulang
daun melengkung bercabang di ujung ke arah ujung daun, ibu tulang daun
jelas menonjol pada sisi bawah. Daun tunggal, bulat, berlekuk, tepi bergerigi, diameter
1-12 cm, pertulangan menyirip, tangkai daun silindris (Tjitrosoepomo,
2009).
Duduk daun (phyllotaxis) Nothopanax
scutellarium Merr adalah tersebar (folia sparsa). Dengan jika
dibuat diagram daun memiliki deret fibonaci ½. Deret fibonacci ½ ini yang artinya untuk mencapai dua daun yang tegak lurus
satu sama lain harus melewati 2 dua daun. Dengan kata lain, Mangkokan memiliki 1 jumlah garis
spiral genetik dan 2 ortostik (Tjitrosoepomo, 2009).
Apabila memiliki bunga bunganya majemuk, bentuk
payung, dan warnanya hijau. Bunga memiliki kelopak bergigi pendek atau rompang, tinggi
± 1,5 mm, benang sari lima, bakal buah beruang tiga sampai empat, tangkar pendek,
mahkota waktu kuncup tersusun seperti genting, kemudian melengkung. Buahnya buah buni, pipih, hijau.
Biji kecil, keras, dan berwarna cokelat (Tjitrosoepomo, 2009).
Mangkokan termasuk suku Araliaceae yang kebanyakan berupa tumbuhan berbatang berkayu
atau terna. Daun tunggal menyirip, duduknya tersebar (folia sparsa). Bunga terangkai dalam bentuk payung, bongkol, bulir
atau tandan atau bentuk lain, kebanyakan banci, aktinomorf. Kelopak kecil,
bertepi rata atau bergigi. Mahkota 3 atau lebih, sering 5, bebas atau
berlekatan. Benang sari sama banyaknya dengan
daun mahkota, duduk
berseling dengan daun
mahkotanya. Cakram diatas bakal buah yang tenggelam, beruang 5,
kadang-kadang dengan 1 atau banyak ruang, tiap ruang berisi 1 bakal
biji. Buahnya buah buni, dan biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil
(Tjitrosoepomo, 2013).
II.2.2 Aspek Ekologi
Mangkokan termasuk ke dalam suku Araliaceae. Suku
ini mencakup sekitar 110 jenis, terbagi dalam 50 marga yang semuanya merupakan
penghuni daerah tropika (Tjitrosoepomo, 2013).
Tumbuhan mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. sering ditanam sebagai tanaman hias
atau tanaman pagar, walaupun dapat ditemukan tumbuh liar di ladang dan tepi
sungai. Mangkokan di sini jarang atau tidak pernah berbunga, menyukai tempat
terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, dan dapat tumbuh
pada ketinggian 1-200 m dpl. Tergolong tumbuhan perdu, tahunan, tumbuh tegak, tinggi 1-3 m. Batang
berkayu, bercabang, bentuknya bulat, panjang, dan lurus (Tampubolon, 1995).
Mangkokan merupakan tumbuhan menahun atau tumbuhan
keras. Tumbuhan ini dapat mencapai umur sampai bertahun-tahun belum juga mati.
Sifat ini ditunjukkan dengan tanda planet Saturnus, yaitu tanda 21 karena
termasuk golongan semak-semak (Tjitrosoepomo, 2009).
II.2.3 Aspek Pertumbuhan dan Reproduksi
Pengembangbiakan dapat
dilakukan secara vegetatif yaitu dengan setek batang. Sebenarnya Mangkokan Nothopanax scuttelarium Merr. ini
memiliki alat perkembangan generatif berupa bunga dan biji akan tetapi
kemunculan bunga apalagi biji ini sangat jarang dijumpai sehingga orang-orang
lebih memilih untuk memperbanyak tumbuhan ini dalam bentuk stek batang (Mukhlisah,
1999).
Orang barat menyebut tanaman
yang berasal dari New Caledonia ini dengan dinner
plate aralia. Tanaman ini menyukai tempat yang teduh. Perkembangbiakannya
sangat mudah, yaitu dengan setek pucuk. Tanaman mangkokan dapat tumbuh mulai
dataran rendah sampai ketinggian 700m dpl. Karena tanaman ini tanaman berbatang kayu, maka
pembibitannya bisa dilakukan dengan stek batang atau cangkok (Dalimartha, 1999).
Untuk media tanam untuk tumbuhan Mangkokan ini dibuat dari olahan tanah dan pupuk kandang/kompos
(1:1).Tanam bibit dengan arah tegak ke atas pada media tanam tadi. Penanaman
sebaiknya sedalam 10-20 cm supaya akarnya nanti dapat tumbuh kuat menahan berat
tanaman. Selanjutnya berikan siraman air untuk menjaga kelembaban tanah dan
menghindari layu. Mangkokan
dapat bertahan dalam kondisi kering, sehingga untuk penyiraman dilakukan saat tanaman diperkirakan sudah memerlukan air saja (Widura, 2011).
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan stek Mangkokan Nothopanax
scutellarium Merr. diantaranya
faktor lingkungan dan faktor internal. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
keberhasilan pertumbuhan stek yaitu media perakaran, suhu, kelembaban, dan
cahaya Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan
akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal
stek. Media perakaran yang baik adalah yang dapat memberikan aerasi dan
kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat
merusak stek. Media perakaran stek yang biasa dipergunakan adalah tanah, pasir,
campuran gambut dan pasir, perlite danVermikulit. Setelah penanaman stek dalam
polybag belum dilaksanakan pemeliharaan yang intensif lingkungan tumbuhnya,
seperti kelembapan suhu perakaran pada stek kurang diperhatikan. padahal suhu perakaran
optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21oC – 27oC
pada pagi dan siang hari dan 15oC pada malam hari. Suhu yang
terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan
perakaran dan meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 1983).
Pengaruh naungan tidak nyata terhadap bobot basah dan kering total per
tanaman serta bobot basah total per petak tanaman Mangkokan, namun perlakuan naungan nyata terhadap kadar air total tanaman. Bobot
basah dan kering total baik per tanaman maupun per petak di lahan tanpa naungan
lebih tinggi dibanding di lahan tanpa
naungan, namun persentase kadar air total per tanaman di lahan naungan lebih
tinggi dibanding di lahan tanpa naungan (Ekawati, 2010).
Selain faktor lingkungan, faktor internal juga mempengaruhi pertumbuhan
stek mangkokan seperti umur bahan tanam. Tanaman stek akan lebih baik hasilnya
apabila bahan tanam diambil dari tanaman muda karena stek yang berasal dari
tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua,
hal ini disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan
produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang
berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek
(Hartman, 1983).
II.2.4 Aspek Sosial
Ekonomi dan Budaya
Zaman dahulu, dalam keadaan darurat daunnya digunakan
sebagai piring atau mangkok untuk makan bubur sagu sehingga dinamakan daun
mangkok. Daun
Mangkokan merupakan salah satu jenis tanaman yang tergolong ke dalam jenis
tanaman hias. Daun ini biasa tumbuh di pekarangan rumah dan di pinggir jalan. Banyak ibu rumah tangga
memberdayakan tanaman ini sebagai penambah aksentual halaman rumahnya. Tidak jarang juga anak-anak kecil ikut
memanfaatkan daun ini sebagai bahan dari mainan mereka (Dalimartha, 1999).
Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. adalah tanaman suku
Araliaceae yang secara tradisional telah digunakan untuk menghilangkan bau
badan, pelumas kepala terhadap kerontokan rambut, menyembuhkan buah dada yang
bernanah, diuretika, dan peluruh keringat (Herawati, 2004).
Manfaat daun mangkokan adalah mengobati
radang payudara, rambut rontok, sukar kencing, bau badan, luka; pembengkakan
dan melancarkan pengeluaran ASI serta dapat digunakan sebagai makanan seperti
lalap, urapan mentah dan gulai (Mukhlishah, 1999).
Tanaman mangkokan diduga berkhasiat untuk mengatasi luka,
sukar kencing, radang payudara dan membantu pertumbuhan rambut. Tanaman ini
berpotensi sebagai penumbuh rambut. Daun mangkokan mempunyai efek mempercepat
pertumbuhan rambut pada kelinci jantan (Purwantini, dkk., 2012).
Daun muda dapat dimakan sebagai lalap, urapan mentah,
atau direbus dan dibuat sayur. Daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Perbanyakan dapat dilakukan dengan setek batang.
Batang dan daun mengandung kalsium-oksalat, peroksidase, amygdalin, fosfor,
besi, lemak, protein, serta vitamin A, B1, dan C (Utami, 2008).
Daun mangkokan memiliki aroma khas, seperti daun kenikir, dapat
mengurangi aroma amis pada hidangan ikan, jeroan maupun daging. Selain itu daun
muda dapat dimakan sebagai lalap, urapan mentah, atau direbus dan dibuat sayur.
Di Sumatera daun mangkokan ini biasanya diiris tipis dan digunakan sebagai
campuran gulai banak (otak) atau gulai ikan. Manfaat lainnya
daun mangkokan juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak (Mukhlisah, 1999).
Daun mangkokan mengandung zat gizi, seperti protein,
lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, B1, dan C. Daun Nothopanax scutellarium juga mengandung beberapa kandungan kimia seperti
alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol. Akar dan daun mangkokan berkhasiat untuk mengatasi radang
payudara, pembengkakan dan melancarkan pengeluaran ASI, rambut rontok, sukar
kencing, bau badan, dan luka (Tampubolon, 1995).
Dapat dijadikan sebagai bahan obat yang bersifat diuretik. Diuretik
adalah obat yang memungkinkan ginjal untuk mengekskresikan urin lebih banyak,
yang pada gilirannya membantu menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh.
Diuretik sering diberikan kepada pasien yang menderita gagal jantung kongestif dan dapat diberikan baik intravena sebagai larutan atau dalam bentuk pil.
Beberapa diuretik adalah agen antihipertensi yang efektif (Katzung, 1998).
Untuk obat rambut rontok
dipakai ± 25 gram daun segar Nothopanax scutellarium, dicuci dan
dirajang kecil-kecil, ditambah minyak kelapa ± 100 ml dan diremas-remas
kemudian diperas. Hasil perasan dioleskan seperti minyak rambut, sambil kulit
kepala dipijat-pijat (Tampubolon, 1995).
Terdapat beberapa tanaman yang
secara empirik digunakan oleh masyarakat untuk merangsang pertumbuhan rambut,
dan banyak yang didasarkan secara ilmiah. Penelitian-penelitian dalam usaha
mencari tanaman yang potensial untuk digunakan sebagai hair tonic juga sudah dilakukan, diantaranya adalah daun teh dan mangkokan.
Daun mangkokan telah terbukti secara ilmiah mampu mempercepat pertumbuhan
rambut kelinci, dan aktivitasnya setara dengan hair tonic yang terdapat di pasaran ((Purwantini, dkk., 2012).
BAB III
KUNCI DETERMINASI DAN KLASIFIKASI
III.1 Kunci Determinasi
|
1b…, 2b…, 3b…, 4b…, 6b…, 7b…, 9b…,10b…, 12b…, 13b…, 14a…,
15b… (golongan 9) 197b… 208a…, 209b….,
210b…, 211a…, 212b…, 213a… (Araliaceae) (Nothopanax scutellarium Merr.) (Steenis, dkk., 2008)
|
Keterangan
1b
: Tumbuh-tumbuhan dengan bunga sejati, sedikit-dikitnya dengan benang sari dan
(atau) putik. Tumbuh-tumbuhan berbunga 2.
2b : Tiada alat pembelit. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memanjat atau membelit (dengan batang, poros daun atau tangkai) 3.
3b : Daun tidak berbentuk jarum ataupun tidak terdapat dalam berkas tersebut di atas 4.
4b : Tumbuh-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput. Daun dan (atau) bunga berlainan dengan yang diterangkan di atas 6.
6b : Dengan daun yang jelas 7.
7b : Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya 9.
9b : Tumbuh-tumbuhan tidak memanjat dan tidak membelit 10.
10b : Daun tidak tersusun demikian rapat menjadi rozet 12.
12b :Tidak semua daun duduk dalam karangan atau tidak ada daun sama sekali 13.
2b : Tiada alat pembelit. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memanjat atau membelit (dengan batang, poros daun atau tangkai) 3.
3b : Daun tidak berbentuk jarum ataupun tidak terdapat dalam berkas tersebut di atas 4.
4b : Tumbuh-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput. Daun dan (atau) bunga berlainan dengan yang diterangkan di atas 6.
6b : Dengan daun yang jelas 7.
7b : Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya 9.
9b : Tumbuh-tumbuhan tidak memanjat dan tidak membelit 10.
10b : Daun tidak tersusun demikian rapat menjadi rozet 12.
12b :Tidak semua daun duduk dalam karangan atau tidak ada daun sama sekali 13.
13b : Tumbuh-tumbuhan berbentuk lain. 14.
14a : Daun tersebar, kadang-kadang sebagian berhadapan 15.
15b: Daun majemuk menjari atau majemuk menyirip atau juga tunggal, kalau demikian
tentu berbagi meyirip rangkap sampai bercanggap menyirip rangkap (golongan 9). 197.
197b : Daun menyirip dan terdiri atas paling sedikit 2 pasang anak daun. 208.
208a : Daun majemuk (semu-Pent.) rangkap tiga
209.
209b : Tumbuh- tumbuhan lain 210.
210b : Daun dan bunga lain
211.
211a : Anak daun bergerigi
212.
212b : Tidak terdapat sisik demikian di sisi bawah daunnya 213.
213a : Malai di ujung, bunga terujung tersusun dalam karangan anak payung berbentuk
bola. Benang sari 5, bebas. Daun jika diremas berbau sekali.97. Araliaceae
III.2 Klasifikasi
Regnum :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo :
Umbelliflorae (Apiales)
Famili :
Araliaceae
Genus : Nothopanax
Spesies : Nothopanax scutellarium Merr.
Sumber :
Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Gembong Tjitrosoepomo.
BAB IV
PENCANDRAAN
IV.1 Pencandraan secara Umum
Tanaman mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. merupakan tanaman perdu
menahun, berakar tunggang (radix primaria),
batang berkayu (lignosius) dan berbentuk bulat (teres). Daun
tunggal sempurna menyirip (penninervis),
bangun daun jantung (cordatus), tepi daun bergerigi
(serratus). Daging daun agak kaku
seperti kulit (coriaceus). Permukaan helaian daun licin (laevis) dan duduk
daun tersebar (folia sparsa).
Bunganya majemuk, bentuk payung, dan warnanya hijau. Bersifat banci atau hermaprodit
dan aktinomorf. Buahnya buah buni,
pipih, hijau. Biji kecil, keras, berwarna
cokelat dengan endosperm dan lembaga
yang kecil. Namun, biasanya tanaman ini tidak berbunga dan berbuah sehingga
perkembangbiakannya sering secara vegetatif dengan cara stek batang.
IV.2 Pencandraan Khusus
a.
Sel dan jaringan
Melalui pemeriksaan anatomi secara
mikroskopis didapatkan ciri-ciri stomata tipe anisositik dengan tiga sel
tetangga tidak sama besar yang hanya terdapat pada epidermis bawah, kristal
oksalat bentuk roset dan prisma, berkas pengangkutan bikolateral dengan jumlah
banyak dan letak tersebar, dan penebalan xilem bentuk spiral.
b.
Akar (radix)
Pada akar tanaman mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. terdapat akar tunggang (radix primaria), berwarna putih kecoklatan dan biasanya nampak kotor
oleh tanah.
c.
Batang (caulis)
Secara morfologi, batang Nothopanax scutellarium Merr. memiliki batang yang berkayu (lignosius) dengan
bentuk batang bulat (teres). Sifat permukaan batangnya memperlihatkan bekas-bekas
daun dan arah tumbuh batang tegak lurus (erectus). Percabangan batangnya simpodial dengan arah tumbuh cabangnya tegak (fastigiatus)
d.
Daun (folium)
Daunnya
tunggal, bertangkai dan berupih sehingga termasuk
daun tunggal sempurna. Mempunyai pertulangan
daun (nervatio) menyirip (penninervis), pangkal
daun (basis folii) berlekuk (emarginatus), ujung daun (apex folii) membulat (rotundatus), berbentuk/ bangun daun (circumscriptio) jantung (cordatus), tepi (margo) bergerigi (serratus).
Nothopanax scutellarium Merr. memiliki daging daun (intervenium) agak kaku seperti kulit (coriaceus). Permukaan helaian daun licin (laevis) dalam hal ini
permukaan daun dapat kelihatan mengkilap (nitidus). Duduk daun (phyllotaxis)
tersebar (folia sparsa). Pada tiap buku-buku daun hanya terdapat satu daun. Jika dibuat diagram daun memiliki deret fibonaci ½.
e. Bunga (flos)
Apabila
memiliki bunga, maka bunganya majemuk, bentuk payung, dan warnanya hijau. Bunga memiliki kelopak kecil bergigi
pendek atau rompang, tinggi ± 1,5 mm, daun mahkota lima, benang sari lima duduk berseling
dengan daun mahkotanya, bakal buah beruang tiga sampai empat, tiap ruang berisi 1 bakal biji, tangkar pendek, mahkota
waktu kuncup tersusun seperti genting, kemudian melengkung. Bersifat banci atau hermaprodit dan aktinomorf.
f.
Buah (fructus) dan biji (semen)
Buahnya
buah buni, pipih, hijau. Biji kecil, keras, berwarna
cokelat dengan endosperm dan lembaga yang
kecil. Akan tetapi jarang didapatkan tumbuhan perdu ini berbunga, berbuah dan
berbiji.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan pencandran ini adalah:
1.
Setelah dilakukan pencandraan dengan dilihat beberapa
aspek, mangkokan Nothopanax
scutellarium Merr. memiliki akar tunggang, batang berkayu, daun
tunggal, jarang jarang
atau tidak pernah berbunga, habitus berupa perdu atau semak, hidup di daerah tropis, menyukai tempat terbuka yang terkena sinar
matahari atau sedikit terlindung. Dapat dimanfaatkan untuk mengobati radang payudara, rambut rontok,
sukar kencing, bau badan, luka, pembengkakan melancarkan pengeluaran ASI dan dapat dijadikan makanan.
2.
Berdasarkan klasifikasi dan determinasi yang didapatkan
maka diperoleh hasil bahwa tumbuhan ini termasuk divisi Dicotyledoneae.
3.
Secara morfologi, ternyata tumbuhan mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. termasuk tumbuhan dikotil atau berkeping dua.
V.2 Saran
Saran untuk laboratorium sebaiknya laboratorium
memiliki buku penunjang yang dapat dipinjam dalam penyusunan laporan apabila
ada yang tidak mendapatkan referensi mengenai hal itu. Saran untuk percobaan
ini agar deskripsi tumbuhan bisa lebih singkat, tepat, terperinci lengkap dan
menyeluruh lagi agar kunci determinasi yang didapatkan bisa lebih akurat.