Kamis, 20 November 2014

Pencandraan Mangkokan Lengkap

LEMBAR PENGESAHAN
            Laporan pencandraan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk  mengikuti ujian praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan I.

NAMA           NUR AFIYAH SULAIMAN
                                    N I M              : H4113504



Makassar, 21 November 2014

 Koordinator Praktikum,                                                    Asisten pembimbing,


    NURUL QALBY                                                     CINDY YOHANA SIGA
         H411 11 271                                                                    H411 11 293     

Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah,


DR. SRI SUHADIYAH, M.Agr.
19540403 1988102 001
KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah milik Allah SWT yang telah memberikan kesehataan dan kesempatan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan penyandraan yang kini ada di tangan pembaca, walaupun dalam penyusunannya sangat banyak rintangan-rintangan atau kesalahan yang terjadi dalam penyusunan laporan ini.
Adapun bahan sampel penyandraan yang dipilih untuk dibahas di dalamnya yaitu mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. Sedangkan penyandraan itu sendiri dapat diartikan sebagai teknik penggambaran sifat-sifat tumbuhan dalam tulisan verbal yang dapat dilengkapi dengan gambar, data penyebaran, habitat, asal-usul, dan manfaat dari golongan tumbuhan yang dimaksud.
Terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan laporan penyandraan ini, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Telah disadari bahwa dalam penyusunan laporan pencandraan ini masih terdapat banyak kesalahan, sehingga diharapkan kritik dan sarannya untuk kemudian hari. Semoga laporan penyandraan ini dapat memberikan manfaat yang besar kepada semua pihak terutama bagi diri saya sendiri. Sekian dan terima kasih.
Makassar,  21 November 2014


Nur Afiyah Sulaiman         
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ..........................................................................................1
Kata Pengantar ..................................................................................................2
Daftar Isi .............................................................................................................3
BAB I        Pendahuluan ....................................................................................5
                   I.1     Latar Belakang .........................................................................5
                   I.2     Tujuan ......................................................................................6
                   I.3     Alasan memilih judul ...............................................................6    
BAB II       Tinjauan Pustaka ............................................................................7
                   II.1   Tinjauan Umum ........................................................................7
                   II.2   Tinjauan Khusus .......................................................................9
                   II.2.1 Aspek Botani............................................................................9
                   II.2.2 Aspek Ekologi.........................................................................12
                   II.2.3 Aspek Reproduksi dan Penyerbukan......................................12
                   II.2.4 Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya ........................................14
BAB III     Kunci Determinasi...........................................................................18
                   III.1 Kunci Determinasi ...................................................................18
                   III.2 Klasifikasi ................................................................................19
BAB IV     Penyandraan / Descriptio ...............................................................20
                   IV.1  Penyandraan Umum .................................................................20
                   IV.2  Penyandraan Khusus ................................................................20
            IV.2.1 Sel dan Jaringan..............................................................................20
            IV.2.2 Akar.................................................................................................21
            IV.2.3 Batang..............................................................................................21
            IV.2.4 Daun.................................................................................................21
            IV.2.5 Bunga................................................................................................22
            IV.2.6 Buah dan Biji.....................................................................................22
BAB V  Penutup......................................................................................................23
            V.1   Kesimpulan ..........................................................................................23
            V.2   Saran. ....................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................24












BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Mangkokan atau daun mangkokan merupakan salah satu tumbuhan hias pekarangan dan tanaman obat yang relatif populer di Nusantara. Namanya mengacu pada bentuk daunnya yang melengkung serupa mangkok. Semak yang tumbuh di daerah tropika, asal dari Pasifik Barat Daya, yang dapat mencapai ketinggian 6 m. Mangkokan dikenal sebagai tanaman berkhasiat peluruh, antiseptik, dan deodoran. Bagian yang dipakai adalah daun dan akarnya (Mukhlishah, 1999)
Mangkokan memiliki banyak nama, baik nama lokal maupun sinonim nama ilmiah. Nama ilmiah sinonimnya yaitu Polyscias scutellaria, Nothopanax cochleatum, dan Panax cochleatum. Mangkokan  memiliki banyak nama yang berbeda di beberapa tempat, diantaranya di Sunda Mangkokan lebih dikenal dengan nama Mamanukan, di Jawa Mangkokan dikenal dengan nama Godong Mangkokan, di Roti dikenal dengan nama lanido, ndalido, ranido, ndari, di daerah Ambon Mangkokan dikenal masyarakat dengan nama ai lohoi, ai laun niwel, daun koin, daun papeda, sedangkan di Sumatra Mangkokan terkenal dengan nama daun koin, daun mangkok, memangkokan, daun papeda, pohon mangkok, di Menado disebut Daun mangkok, orang Makassar menyebutnya dengan mangko-mangko, di wilayah Halmahera Mangkokan disebut dengan Goma matari, sawoko, Ternate dengan nama rau paroro (Utami, 2008).
            Berdasarkan penjelasan di atas maka dibuatlah laporan penyandraan ini dengan Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. sebagai tanaman yang akan dibuat pencandraannya. Hal ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai tanaman tersebut.
I.2 Tujuan Laporan
            Tujuan dibuatnya laporan ini adalah :
1.        Untuk mengetahui cara pencandraan dari tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.
2.        Untuk mengetahui kunci determinasi dan klasifikasi dari tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.
3.        Untuk mengetahui morfologi tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.
I.3 Alasan Memilih Judul
Melalui penyandraan suatu tumbuhan, kita lebih mudah mengenali suatu tumbuhan. Judul Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. ini dipilih karena tanaman ini sering kita temui sebagai tanaman pagar, namun masih banyak yang belum mengetahui lebih jauh manfaatnya dari berbagai aspek. Padahal selain sebagai tanaman hias, daun mangkokan (Nothopanax Scutellarium) banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan dapat dijadikan obat dari beberapa jenis penyakit. Maka diharapkan dengan adanya laporan penyandraan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai tanaman Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. tersebut.  .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Tinjauan Umum
Suatu jenis makhluk hidup yang baru ditemukan harus dicandra terlebih dahulu. Mencandra adalah mengidentifikasi atau mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi. Untuk mencandra atau mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan alat pembanding. Alat pembanding tersebut dapat berupa gambar, spesimen (awetan hewan atau tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya, serta kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi (Steenis, dkk., 2008).
Pencandraan merupakan proses awal klasifikasi. Yang dilakukan dalam proses ini adalah identifikasi makhluk hidup satu dengan makhluk yang lainnya. Pencandraan digunakan untuk mengamati tingkah laku, bentuk morfologi, anatomi dan fisiologi pada makhluk hidup (Darmojo dan Sastrowiyono, 1997)
Pencandraan atau pertelaan (deskripsi, deskriptio) adalah teknik penggambaran sifat-sifat tumbuhan dalam tulisan verbal yang dapat dilengkapi dengan gambar, data penyebaran, habitat, asal-usul, manfaat dari golongan tumbuhan yang dimaksud. Pertelaan golongan (takson) tumbuh dapat pada tingkat suku (familia), marga (genus), jenis (spesies), dan dibawah tingkat jenis yaitu anak jenis (sub jenis), varitas (varietas), dan forma. Pertelaan suatu jenis takson tumbuhan dilakukan untuk populasi dalam wilayah penyebarannya sehingga dapat menggambarkan variasi sifat yang ada. Untuk mempertelakan suatu takson tumbuhan diperlukan adanya aturan baku tertentu (Issirep, 2005).
Kunci identifikasi atau kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya Jean Baptiste de Lamarck-lah yang menggunakan kunci modern untuk tujuan identifikasi. Salah satu kunci identifikasi adalah kunci analisis menggunakan ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan kuplet yang terdiri atas dua bait pernyataan atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri yang saling berlawanan sehingga disebut kunci dikotomis . Jika salah satu ciri ada yang cocok dengan ciri makhluk hidup yang diidentifikasi, ciri atau alternatif lainnya gugur (Steenis, dkk., 2008).
Sistem klasifikasi APG III merupakan sistem klasifikasi untuk tumbuhan berbunga yang dirilis pada bulan Oktober 2009 oleh Kelompok Filogeni Tumbuhan Berbunga (Angiosperm Phylogeny Group, APG) dalam berkala Botanical Journal of the Linnean Society enam tahun setelah pendahulunya, yaitu sistem klasifikasi APG II. Pada bulan yang sama, para anggota Masyarakat Linnaeus (Linnean Society), organisasi internasional para pakar taksonomi, mengajukan klasifikasi filogenetik formal bagi semua Embryophyta (tumbuhan darat) untuk mendampingi sistem klasifikasi APG III.. Pengajuan ini dianggap mendesak karena para ahli botani dan fikologi (ilmu tentang alga) masih berdebat tentang posisi taksonomi sejumlah kelas tumbuhan (Darmojo dan Sastrowiyono, 1997).
Menggunakan kunci determinasi, setiap spesies yang akan diidentifikasi dihadapkan pada dua ciri-ciri morfologi yang salah satunya paling sesuai dengan spesies tersebut. Apabila sudah diperoleh ciri-ciri yang sesuai dengan spesies tersebut, kita kemudian menuju ciri-ciri berikutnya sesuai dengan angka yng tercantum di belakang ciri-ciri tersebut. Demikian seterusnya, sampai diperoleh nama spesies tersebut (Steenis, dkk., 2008).
II.2 Tinjauan Khusus
II.2.1 Aspek Botani
            Melalui pemeriksaan anatomi secara mikroskopis didapatkan ciri-ciri stomata tipe anisositik dengan tiga sel tetangga tidak sama besar yang hanya terdapat pada epidermis bawah, kristal oksalat bentuk roset dan prisma, berkas pengangkutan bikolateral dengan jumlah banyak dan letak tersebar, dan penebalan xilem bentuk spiral (Herawati, 2004).
Secara teori, Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. Sebagai tumbuhan dikotil memiliki akar tunggang (radix primaria) yang tidak mempunyai pelindung khusus karena akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok. Pada akar sifat radial berkas pengangkutnya hanya nyata pada akar yang belum mengadakan pertumbuhan yang menebal. Akar tumbuhan ini berwarna putih kecoklatan dan biasanya nampak kotor oleh tanah (Tjitrosoepomo, 2009).
Bentuk morfologi batang Nothopanax scutellarium Merr. memiliki batang yang berkayu (lignosius) dengan bentuk batang bulat (teres). Sifat permukaan batangnya memperlihatkan bekas-bekas daun  dan arah tumbuh batang tegak lurus (erectus). Percabangan batangnya simpodial yaitu batang pokok susah ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya dibandingkan dengan percabangannya .arah tumbuh cabangnya tegak (fastigiatus) (Tjitrosoepomo, 2009).
Berdasarkan umurnya termasuk tanaman tahunan atau tanaman keras. Tumbuh tegak, tinggi 1- 3 m. Batang berkayu, bercabang, bentuknya bulat, panjang, dan lurus. Pada saat masih muda berwarna ungu setelah tua putih kehijauan (Dalimartha, 1999).
Daunnya tunggal, bertangkai, agak tebal, berupih sehingga termasuk daun tunggal sempurna. Bentuknya bulat berlekuk seperti mangkok, pangkal berbentuk jantung, tepi bergerigi, diameter 6-12 cm, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua. Mempunyai bangun daun (circumsriptio) bulat (orbicularis) karena bagian terlebar berada di tengah-tengah daun dengan tepi yang menekuk ke atas hingga menyerupai mangkuk, karenanya orang menyebut sebagai daun mangkokan dan pada zaman dahulu orang sering menggunakan sebagai pengganti wadah makanan. Morfologi yang lain dari daun ini adalah mempunyai pangkal daun (basis folii) berlekuk (emarginatus), ujung daun (apex folii) membulat (rotundatus), berbentuk/ bangun daun (circumscriptio) jantung (cordatus), tepi (margo) bergerigi (serratus), diameter, warna daunnya hijau tua. Permukaan daun licin (laevis) dalam hal ini permukaan daun dapat kelihatan mengkilap (nitidus) (Tjitrosoepomo, 2009).
Daun Nothopanax scutellarium Merr.  memiliki daging daun (intervenium) agak kaku seperti kulit (coriaceus) permukaan helaian daun licin (laevis), sisi bawah gundul dengan  pertulangan daun (nervatio) menyirip (penninervis) dan cabang cabang tulang daun melengkung bercabang di ujung ke arah ujung daun, ibu tulang daun jelas menonjol pada sisi bawah. Daun tunggal, bulat, berlekuk, tepi bergerigi, diameter 1-12 cm, pertulangan menyirip, tangkai daun silindris (Tjitrosoepomo, 2009).
Duduk daun (phyllotaxis) Nothopanax scutellarium Merr adalah tersebar (folia sparsa). Dengan jika dibuat diagram daun memiliki deret fibonaci ½. Deret fibonacci ½ ini yang artinya untuk mencapai dua daun yang tegak lurus satu sama lain harus melewati 2 dua daun. Dengan kata lain, Mangkokan memiliki 1 jumlah garis spiral genetik dan 2 ortostik (Tjitrosoepomo, 2009).
Apabila memiliki bunga bunganya majemuk, bentuk payung, dan warnanya hijau. Bunga memiliki kelopak bergigi pendek atau rompang, tinggi ± 1,5 mm, benang sari lima, bakal buah beruang tiga sampai empat, tangkar pendek, mahkota waktu kuncup tersusun seperti genting, kemudian melengkung. Buahnya buah buni, pipih, hijau. Biji kecil, keras, dan berwarna cokelat (Tjitrosoepomo, 2009).
Mangkokan termasuk suku  Araliaceae yang  kebanyakan berupa tumbuhan berbatang berkayu atau terna. Daun tunggal menyirip, duduknya tersebar (folia sparsa). Bunga terangkai dalam bentuk payung, bongkol, bulir atau tandan atau bentuk lain, kebanyakan banci, aktinomorf. Kelopak kecil, bertepi rata atau bergigi. Mahkota 3 atau lebih, sering 5, bebas atau berlekatan. Benang sari sama banyaknya dengan daun  mahkota,  duduk  berseling  dengan  daun  mahkotanya. Cakram diatas bakal buah yang tenggelam, beruang 5, kadang-kadang dengan 1 atau banyak ruang, tiap ruang berisi 1 bakal biji. Buahnya buah buni, dan biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil (Tjitrosoepomo, 2013).
II.2.2 Aspek Ekologi
Mangkokan termasuk ke dalam suku Araliaceae. Suku ini mencakup sekitar 110 jenis, terbagi dalam 50 marga yang semuanya merupakan penghuni daerah tropika (Tjitrosoepomo, 2013).
Tumbuhan mangkokan Nothopanax scutellarium Merr.  sering ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman pagar, walaupun dapat ditemukan tumbuh liar di ladang dan tepi sungai. Mangkokan di sini jarang atau tidak pernah berbunga, menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, dan dapat tumbuh pada ketinggian 1-200 m dpl. Tergolong tumbuhan perdu, tahunan, tumbuh tegak, tinggi 1-3 m. Batang berkayu, bercabang, bentuknya bulat, panjang, dan lurus (Tampubolon, 1995).
Mangkokan merupakan tumbuhan menahun atau tumbuhan keras. Tumbuhan ini dapat mencapai umur sampai bertahun-tahun belum juga mati. Sifat ini ditunjukkan dengan tanda planet Saturnus, yaitu tanda 21 karena termasuk golongan semak-semak (Tjitrosoepomo, 2009).
II.2.3 Aspek Pertumbuhan dan Reproduksi
Pengembangbiakan dapat dilakukan secara vegetatif yaitu dengan setek batang. Sebenarnya Mangkokan Nothopanax scuttelarium Merr. ini memiliki alat perkembangan generatif berupa bunga dan biji akan tetapi kemunculan bunga apalagi biji ini sangat jarang dijumpai sehingga orang-orang lebih memilih untuk memperbanyak tumbuhan ini dalam bentuk stek batang (Mukhlisah, 1999).
Orang barat menyebut tanaman yang berasal dari New Caledonia ini dengan dinner plate aralia. Tanaman ini menyukai tempat yang teduh. Perkembangbiakannya sangat mudah, yaitu dengan setek pucuk. Tanaman mangkokan dapat tumbuh mulai dataran rendah sampai ketinggian 700m dpl. Karena tanaman ini tanaman berbatang kayu, maka pembibitannya bisa dilakukan dengan stek batang atau cangkok (Dalimartha, 1999).  
Untuk media tanam untuk tumbuhan Mangkokan ini dibuat dari olahan tanah dan pupuk kandang/kompos (1:1).Tanam bibit dengan arah tegak ke atas pada media tanam tadi. Penanaman sebaiknya sedalam 10-20 cm supaya akarnya nanti dapat tumbuh kuat menahan berat tanaman. Selanjutnya berikan siraman air untuk menjaga kelembaban tanah dan menghindari layu. Mangkokan dapat bertahan dalam kondisi kering, sehingga untuk penyiraman dilakukan saat tanaman diperkirakan sudah memerlukan air saja (Widura, 2011).
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan stek Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. diantaranya faktor lingkungan dan faktor internal. Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek yaitu media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal stek. Media perakaran yang baik adalah yang dapat memberikan aerasi dan kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak stek. Media perakaran stek yang biasa dipergunakan adalah tanah, pasir, campuran gambut dan pasir, perlite danVermikulit. Setelah penanaman stek dalam polybag belum dilaksanakan pemeliharaan yang intensif lingkungan tumbuhnya, seperti kelembapan suhu perakaran pada stek kurang diperhatikan. padahal suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21oC – 27oC pada pagi dan siang hari dan 15oC pada malam hari. Suhu yang terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 1983).
Pengaruh naungan tidak nyata terhadap bobot basah dan kering total per tanaman serta bobot basah total per petak tanaman  Mangkokan, namun perlakuan naungan  nyata terhadap kadar air total tanaman. Bobot basah dan kering total baik per tanaman maupun per petak di lahan tanpa naungan lebih tinggi  dibanding di lahan tanpa naungan, namun persentase kadar air total per tanaman di lahan naungan lebih tinggi dibanding di lahan tanpa naungan (Ekawati, 2010).
Selain faktor lingkungan, faktor internal juga mempengaruhi pertumbuhan stek mangkokan seperti umur bahan tanam. Tanaman stek akan lebih baik hasilnya apabila bahan tanam diambil dari tanaman muda karena stek yang berasal dari tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua, hal ini disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek (Hartman, 1983).
II.2.4 Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya
Zaman dahulu, dalam keadaan darurat daunnya digunakan sebagai piring atau mangkok untuk makan bubur sagu sehingga dinamakan daun mangkok. Daun Mangkokan merupakan salah satu jenis tanaman yang tergolong ke dalam jenis tanaman hias. Daun ini biasa tumbuh di pekarangan rumah dan di pinggir jalan. Banyak ibu rumah tangga memberdayakan tanaman ini sebagai penambah aksentual halaman rumahnya. Tidak jarang juga anak-anak kecil ikut memanfaatkan daun ini sebagai bahan dari mainan mereka (Dalimartha, 1999).
Mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. adalah tanaman suku Araliaceae yang secara tradisional telah digunakan untuk menghilangkan bau badan, pelumas kepala terhadap kerontokan rambut, menyembuhkan buah dada yang bernanah, diuretika, dan peluruh keringat (Herawati, 2004). 
Manfaat daun mangkokan adalah mengobati radang payudara, rambut rontok, sukar kencing, bau badan, luka; pembengkakan dan melancarkan pengeluaran ASI serta dapat digunakan sebagai makanan seperti lalap, urapan mentah dan gulai (Mukhlishah, 1999).
Tanaman mangkokan diduga berkhasiat untuk mengatasi luka, sukar kencing, radang payudara dan membantu pertumbuhan rambut. Tanaman ini berpotensi sebagai penumbuh rambut. Daun mangkokan mempunyai efek mempercepat pertumbuhan rambut pada kelinci jantan (Purwantini, dkk., 2012).
Daun muda dapat dimakan sebagai lalap, urapan mentah, atau direbus dan dibuat sayur. Daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Perbanyakan dapat dilakukan dengan setek batang. Batang dan daun mengandung kalsium-oksalat, peroksidase, amygdalin, fosfor, besi, lemak, protein, serta vitamin A, B1, dan C (Utami, 2008).
Daun mangkokan memiliki aroma khas, seperti daun kenikir, dapat mengurangi aroma amis pada hidangan ikan, jeroan maupun daging. Selain itu daun muda dapat dimakan sebagai lalap, urapan mentah, atau direbus dan dibuat sayur. Di Sumatera daun mangkokan ini biasanya diiris tipis dan digunakan sebagai campuran gulai banak (otak) atau gulai ikan. Manfaat lainnya daun mangkokan juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak (Mukhlisah, 1999).
Daun mangkokan mengandung zat gizi, seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, B1, dan C. Daun Nothopanax scutellarium juga  mengandung beberapa kandungan kimia seperti alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol. Akar dan daun mangkokan berkhasiat untuk mengatasi radang payudara, pembengkakan dan melancarkan pengeluaran ASI, rambut rontok, sukar kencing, bau badan, dan luka (Tampubolon, 1995).
Dapat dijadikan sebagai bahan obat yang bersifat diuretik. Diuretik adalah obat yang memungkinkan ginjal untuk mengekskresikan urin lebih banyak, yang pada gilirannya membantu menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh. Diuretik sering diberikan kepada pasien yang menderita gagal jantung kongestif dan dapat diberikan baik intravena sebagai larutan atau dalam bentuk pil. Beberapa diuretik adalah agen antihipertensi yang efektif (Katzung, 1998).
Untuk obat rambut rontok dipakai ± 25 gram daun segar Nothopanax scutellarium, dicuci dan dirajang kecil-kecil, ditambah minyak kelapa ± 100 ml dan diremas-remas kemudian diperas. Hasil perasan dioleskan seperti minyak rambut, sambil kulit kepala dipijat-pijat (Tampubolon, 1995).
Terdapat beberapa tanaman yang secara empirik digunakan oleh masyarakat untuk merangsang pertumbuhan rambut, dan banyak yang didasarkan secara ilmiah. Penelitian-penelitian dalam usaha mencari tanaman yang potensial untuk digunakan sebagai hair tonic juga sudah dilakukan, diantaranya adalah daun teh dan mangkokan. Daun mangkokan telah terbukti secara ilmiah mampu mempercepat pertumbuhan rambut kelinci, dan aktivitasnya setara dengan hair tonic yang terdapat di pasaran ((Purwantini, dkk., 2012).















BAB III
KUNCI DETERMINASI DAN KLASIFIKASI

III.1 Kunci Determinasi
1b…, 2b…, 3b…, 4b…, 6b…, 7b…, 9b…,10b…, 12b…, 13b…, 14a…, 15b… (golongan 9) 197b… 208a…,  209b…., 210b…, 211a…, 212b…, 213a… (Araliaceae) (Nothopanax scutellarium Merr.) (Steenis, dkk., 2008)
Keterangan
1b  : Tumbuh-tumbuhan dengan bunga sejati, sedikit-dikitnya dengan benang sari dan (atau) putik. Tumbuh-tumbuhan berbunga                                                                2.
2b  : Tiada alat pembelit. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memanjat atau membelit (dengan batang, poros daun atau tangkai)
                                                                       3.
3b  : Daun tidak berbentuk jarum ataupun tidak terdapat dalam berkas tersebut di ata
s 4.
4b  : Tumbuh-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput. Daun dan (atau) bunga berlainan dengan yang diterangkan di atas
                                                                    6.
6b   : Dengan daun yang jelas
                                                                                       7.
7b   : Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya
                    9.
9b   : Tumbuh-tumbuhan tidak memanjat dan tidak membelit
                                   10.
10b : Daun tidak tersusun demikian rapat menjadi rozet
                                           12.
12b :Tidak semua daun duduk dalam karangan atau tidak ada daun sama sekali
     13.
13b : Tumbuh-tumbuhan berbentuk lain.                                                                    14.
14a : Daun tersebar, kadang-kadang sebagian berhadapan                                       15.
15b: Daun majemuk menjari atau majemuk menyirip atau juga tunggal, kalau demikian tentu berbagi meyirip rangkap sampai bercanggap menyirip rangkap (golongan 9).                                                                                                            197.
197b : Daun menyirip dan terdiri atas paling sedikit 2 pasang anak daun.              208.
208a : Daun majemuk (semu-Pent.) rangkap tiga                                                    209.
209b : Tumbuh- tumbuhan lain                                                                                210.
210b : Daun dan bunga lain                                                                                     211.
211a : Anak daun bergerigi                                                                                      212.
212b : Tidak terdapat sisik demikian di sisi bawah daunnya                                  213.
213a : Malai di ujung, bunga terujung tersusun dalam karangan anak payung berbentuk bola. Benang sari 5, bebas. Daun jika diremas berbau sekali.97. Araliaceae
III.2 Klasifikasi
Regnum           : Plantae         
Divisi               : Spermatophyta
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Umbelliflorae (Apiales)
Famili              : Araliaceae
Genus              : Nothopanax
Spesies            : Nothopanax scutellarium Merr.
Sumber            : Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Gembong Tjitrosoepomo.

BAB IV
PENCANDRAAN

IV.1 Pencandraan secara Umum
  Tanaman mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. merupakan tanaman perdu menahun, berakar tunggang (radix primaria), batang berkayu (lignosiusdan berbentuk bulat (teres). Daun tunggal sempurna menyirip (penninervis), bangun daun jantung (cordatus), tepi daun bergerigi (serratus). Daging daun agak kaku seperti kulit (coriaceus). Permukaan helaian daun licin (laevis) dan duduk daun tersebar (folia sparsa).
 Bunganya majemuk, bentuk payung, dan warnanya hijau. Bersifat banci atau hermaprodit dan aktinomorf. Buahnya buah buni, pipih, hijau. Biji kecil, keras, berwarna cokelat dengan endosperm dan lembaga yang kecil. Namun, biasanya tanaman ini tidak berbunga dan berbuah sehingga perkembangbiakannya sering secara vegetatif dengan cara stek batang.
IV.2 Pencandraan Khusus
a.        Sel dan jaringan
 Melalui pemeriksaan anatomi secara mikroskopis didapatkan ciri-ciri stomata tipe anisositik dengan tiga sel tetangga tidak sama besar yang hanya terdapat pada epidermis bawah, kristal oksalat bentuk roset dan prisma, berkas pengangkutan bikolateral dengan jumlah banyak dan letak tersebar, dan penebalan xilem bentuk spiral.
b.        Akar (radix)
 Pada akar tanaman mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. terdapat akar tunggang (radix primaria), berwarna putih kecoklatan dan biasanya nampak kotor oleh tanah.
c.         Batang (caulis)
 Secara morfologi, batang Nothopanax scutellarium Merr. memiliki batang yang berkayu (lignosius) dengan bentuk batang bulat (teres). Sifat permukaan batangnya memperlihatkan bekas-bekas daun  dan arah tumbuh batang tegak lurus (erectus). Percabangan batangnya simpodial dengan arah tumbuh cabangnya tegak (fastigiatus)
d.        Daun (folium)
 Daunnya tunggal, bertangkai dan berupih sehingga termasuk daun tunggal sempurna. Mempunyai pertulangan daun (nervatio) menyirip (penninervis), pangkal daun (basis folii) berlekuk (emarginatus), ujung daun (apex folii) membulat (rotundatus), berbentuk/ bangun daun (circumscriptio) jantung (cordatus), tepi (margo) bergerigi (serratus).
Nothopanax scutellarium Merr.  memiliki daging daun (intervenium) agak kaku seperti kulit (coriaceus). Permukaan helaian daun licin (laevis) dalam hal ini permukaan daun dapat kelihatan mengkilap (nitidus). Duduk daun (phyllotaxis)  tersebar (folia sparsa). Pada tiap buku-buku daun hanya terdapat satu daun. Jika dibuat diagram daun memiliki deret fibonaci ½.
e.       Bunga (flos)
       Apabila memiliki bunga, maka bunganya majemuk, bentuk payung, dan warnanya hijau. Bunga memiliki kelopak kecil bergigi pendek atau rompang, tinggi ± 1,5 mm, daun mahkota lima, benang sari lima duduk  berseling  dengan  daun  mahkotanya, bakal buah beruang tiga sampai empat, tiap ruang berisi 1 bakal biji, tangkar pendek, mahkota waktu kuncup tersusun seperti genting, kemudian melengkung. Bersifat banci atau hermaprodit dan aktinomorf.
f.         Buah (fructus) dan biji (semen)
 Buahnya buah buni, pipih, hijau. Biji kecil, keras, berwarna cokelat dengan endosperm dan lembaga yang kecil. Akan tetapi jarang didapatkan tumbuhan perdu ini berbunga, berbuah dan berbiji.












BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan pencandran ini adalah:
1.        Setelah dilakukan pencandraan dengan dilihat beberapa aspek, mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. memiliki akar tunggang, batang berkayu, daun tunggal, jarang jarang atau tidak pernah berbunga, habitus berupa perdu atau semak, hidup di daerah tropis, menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung. Dapat dimanfaatkan untuk mengobati radang payudara, rambut rontok, sukar kencing, bau badan, luka, pembengkakan melancarkan pengeluaran ASI dan dapat dijadikan makanan.
2.        Berdasarkan klasifikasi dan determinasi yang didapatkan maka diperoleh hasil bahwa tumbuhan ini termasuk divisi Dicotyledoneae.
3.      Secara morfologi, ternyata tumbuhan mangkokan Nothopanax scutellarium Merr. termasuk tumbuhan dikotil atau berkeping dua.
V.2 Saran
       Saran untuk laboratorium sebaiknya laboratorium memiliki buku penunjang yang dapat dipinjam dalam penyusunan laporan apabila ada yang tidak mendapatkan referensi mengenai hal itu. Saran untuk percobaan ini agar deskripsi tumbuhan bisa lebih singkat, tepat, terperinci lengkap dan menyeluruh lagi agar kunci determinasi yang didapatkan bisa lebih akurat.