LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN VII
METODE SAMPLING BIOTIK UNTUK MENDUGA POPULASI
HEWAN BERGERAK
NAMA :
NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM :
H41113504
KELOMPOK :
V (LIMA) B
HARI/TGL :
SELASA/ 25 MARET 2014
ASISTEN :
MUH. NURDIN
PUBI INDASARI
LABORATORIUM
ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Populasi adalah kumpulan
kelompok makhluk yang sama jenis yang mendiami suatu ruangan khusus, yang
memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara
statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam
kelompok itu. Salah satu hal yang berkaitan erat dengan populasi adalah jumlah atau yang
biasa disebut kepadatan populasi, yang menyatakan cacah individu di dalam
satuan luas atau volume tertentu. Ada banyak metode yang dapat
dilakukan untuk mengetahui jumlah atau kepadatan populasi tergantung dengan keadaan
sekitarnya. Salah satu metode yang paling akurat untuk mengetahui kepadatan
populasi di suatu wilayah adalah dengan melakukan sensus tetapi
kendala dari diadakannya sensus adalah lokasi penelitian. Misalnya jika
penghitungan sensus dengan lokasinya berada di hutan terbuka dengan hewan liar
seperti ular yang akan dihitung kerapatan populasinya. Pergerakan hewan yang
akan dihitung juga mempengaruhi keakuratan sensus (Soegianto, 1994).
Kepadatan populasi satu jenis
atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa
per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan.
Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk
membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya parameter ini
tidak begitu tepat.
Oleh karena itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan
relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan
kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif
biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin, 1989).
Berdasarkan materi tesebut, percobaan ini dilakukan
untuk mengaplikasikan metode dan rumus dalam menduga populasi hewan bergerak
pada suatu komunitas serta untuk melatih mahasiswa
menggunakan peralatan sederhana dalam percobaan ini.
I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah :
1. Untuk menduga atau mengetahui populasi dari suatu
areal dengan menggunakan metode
Lincoln-Peterson dan metode Zippin.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan
teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis
populasi.
I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Maret 2014, pukul
14.00-17.00 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan selama
2 hari. Pengambilan dan penandaan sampel pertama dilakukan pada hari Senin, 24 Maret 2014 pukul 06.00 - 07.30 WITA dan
pengambilan sampel kedua dilakukan pada hari Selasa, 25 Maret 2014 pukul 06.00
– 08.00 WITA, bertempat di danau Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik
dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak
ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk
mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di suatu daerah adalah
menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan
menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Biasanya untuk metode
sampling biotik hewan bergerak digunakan metode Capture-Recapture. Merupakan metode yang sederhana untuk menduga
ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan,
burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan
melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada
menggunakan kancing hitam dan putih yang dianggap sebagai populasi yang
tersebar di alam (Resosoedarmo, 1990).
Ukuran populasi umumnya
bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola. Beberapa populasi
mempertahankan ukuran poulasi yang relatif konstan sedangkan populasi lain berfluktasi cukup
besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk
meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada
hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi
dalam upaya untuk memahami di alam (Naughton dan Wolf, 1973).
Untuk mengetahui jumlah atau
kepadatan populasi dapat dilakukan dengan banyak metode tergantung dengan
keadaan sekitarnya. Salah satu metode yang paling akurat untuk mengetahui
kepadatan populasi di suatu wilayah adalah dengan melakukan sensus, akan tetapi
kendala dari diadakannya sensus adalah lokasi penelitian. Misalnya jika
penghitungan sensus dengan lokasinya berada di hutan terbuka dengan hewan liar
seperti ular yang akan dihitung kerapatan populasinya. Pergerakan hewan yang
akan dihitung juga mempengaruhi keakuratan sensus (Soegianto, 1994).
Bila jumlah unsur populasi itu
terlalu banyak, akan
membutuhkan waktu dan biaya yang lebih untuk mengukurnya. Karakteristik sampel disebut statistik dalam hal ini parameter dari statistic
harus diperhatikan secara cermat. Metode pendugaan inilah yang
dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan
semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan
sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif.
Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama
pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan
karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari
karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi,
galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan
hasil yang didapat dari sensus (Soegianto, 1994).
Banyaknya
variabel yang diteliti dan rancangan analisis yang akan digunakan. Semakin
banyak variabel yang akan dianalisis, misalnya dengan menggunakan rancangan
analisis tabulasi silang atau uji chi-square of independent (uji chi kuadrat), mengingat adanya persyaratan
pengujian hubungan antarvariabel yang tidak membolehkan adanya nilai frekuensi
hasil penelitian < 1, maka ukuran sampelnya harus besar serta alasan-alasan
peneliti (waktu, biaya, tenaga, dan lain-lain) (Suin, 1989).
Terdapat dua cara untuk menghitung populasi
hewan bergerak yakni secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung yaitu
dengan perkiraan. Misalnya untuk menghitung populasi rumput di suatu kebun
dapat digunakan metode kuadrat rumput, untuk hewan yang relatif mudah ditangkap dapat dilakukan dengan metode CMR atau Capture-Mark-Recapture dalam bahasa
indonesia adalah “tangkap tandai dan tangkap kembali” (Soegianto, 1994).
Metode Capture-Recapture merupakan metode yang sudah populer digunakan untuk
menduga ukuran populasi daari satu spesies hewan yang bergerak cepat seperti
ikan, burung, atau mamalia kecil. Adapun metode Capture-Recapture yang biasa digunakan antara lain Metode Lincoln
Peterson. Pada dasarnya metode ini menangkap sejumlah individu dari suatu
populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang tertangkap diberi tanda,
kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu 1 hari. Setelah jangka waktu
tertentu dilakukan penangkapan kedua terhadap sejumlah hewan individu dari
populasi yang sama. Dari penangkapan kedua
ini lalu diidentifikasi individu yang bertanda yang berasal dari hasil
penangkapan kedua. Maka dapat diduga populasi hewan dalam suatu areal melalui
hasil yang didapatkan (Umar, 2014).
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap
kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi merupakan metode yang umumnya
dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan
wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan
menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan
mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi
dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan
mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus (Resosoedarmo, 1990).
Metode Capture-Recapture
seringkali sulit digunakan untuk menduga ukuran populasi alami. Hal ini
disebabkan karena asumsi-asumsi dalam metode Capture-Recapture sulit dilaksanakan di lapangan. Berdasarkan hal itu
maka dilakukan metode Removal
Sampling yang tidak melepaskan kembali hewan yang telah disampling.
Contoh metode Removal Sampling adalah
Metode Zippin yang dilakukan dengan cara penangkapan pertama tidak dilepaskan
kembali, kemudian dalam jangka waktu tertentu dilakukan kembali penangkapan
kedua dan juga hewan tidak dilepaskan kembali sehingga dengan menggunakan
persamaan Zippin dapat diduga populasi hewan dalam suatu areal (Umar, 2014).
Model
Peterson menangkap sejumlah individu
dari sejumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu
diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat (24
jam). Setelah itu dilakukan pengambilan penangkapan ke-2 terhadap sejumlah
individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi
individu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang
tidak bertanda dari hasil penangkapan kedua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ketidakvalidan dalam
metode Peterson. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson
yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu
periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan
penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali dan untuk setiap
periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda serta dilepaskan
kembali (Tarumingkeng, 1994).
Terdapat beberapa metode sampling lain
contohnya metode simple random sampling yang dilakukan dengan memberikan suatu
nomor yang berbeda terhadap setiap anggota populasi, kemudian memilih sampel
dengan menggunakan angka-angka random. Dalam metode ini semua elemen dari
kerangka sampel diperlakukan sejajar dan tidak dilakukan pembagian atau
sub-sub lagi (Suin, 1989).
Keuntungan menggunakan teknik ini, peneliti tidak
membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya, bebas dari kesalahan
klasifikasi yang memungkinkan dapat terjadi dan dengan mudah data dianalisis
serta kesalahan-kesalahan dapat dihitung. Kelemahan dalam teknik ini, peneliti
tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dipunyainya tentang populasi dan
tingkat kesalahan dalam menentukan ukuran sampel lebih besar (Suin, 1989).
Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan
probabilitas (probability sampling). Pada sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai
nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih karena sampel ini mengasumsikan
kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut
sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental
sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Jadi untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif
teknik penelitian sampel yang bisa dilakukan. Teknik penarikan sampel
sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design)
(Heddy, 1986).
Penentuan
besar kecilnya ukuran sampel tergantung pada antara lain, derajat keseragaman populasi
(degree of homogenity). Semakin tinggi tingkat homogenitas populasi
semakin kecil ukuran sampel yang boleh diambil, semakin rendah tingkat
homogenitas populasi semakin besar ukuran sampel yang harus diambil. Semakin
tinggi tingkat presisi yang diinginkan peneliti (level of precisions), semakin
besar pula sampel yang harus diambil (Soegianto, 1994).
BAB
III
METODE
PERCOBAAN
III. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sweeping net, botol sampel, pulpen dan kertas.
III. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tinta cina warna merah dan
sampel yang akan diamati.
III. Cara Kerja
Prosedur
kerja pada percobaan ini adalah:
Pengambilan
Sampel
A. Metode Lincoln Peterson
1.
Ditentukan
areal yang areal
yang akan diamati populasinya, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi
tersebut (periode penangkapan pertama)
2.
Dilakukan
penangkapan dengan sweeping net. Pada
daerah yang telah ditentukan, sweeping
net diayunkan sebanyak 2 kali dalam satu langkah dengan total keseluruhan
langkah 10 langkah ke depan dan 10 langkah ke belakang dan penangkapan ini
dilakukan sebanyak 2 kali.
3. Serangga yang diperoleh ditandai
dengan tinta cina, selanjutnya dilepaskan kembali ke habitatnya (tempatnya
ditangkap), dicatat jumlahnya sebagai M.
4.
Selang
24 jam dilakukan penangkapan kedua dengan jumlah ulangan penangkapan sesuai
dengan jumlah ulangan penangkapan pada periode pertama.
5.
Serangga
yang ditangkap kemudian dikumpulkan dan dicatat jumlahnya sebagai n.
6.
Serangga
yang diperoleh diperiksa untuk diidentifikasi ada atau tidaknya serangga yang
bertanda yang tertangkap pada penangkapan kedua. Jumlah serangga bertanda yang
tertangkap tersebut kemudian dicatat jumlahnya sebagai R.
B. Metode Zippin
1. Ditentukan areal yang areal yang akan diamati
populasinya, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi tersebut (periode
penangkapan pertama)
2. Dilakukan penangkapan dengan sweeping net. Pada daerah yang telah
ditentukan, sweeping net diayunkan
sebanyak 2 kali dalam satu langkah dengan total keseluruhan langkah 10 langkah
ke depan dan 10 langkah ke belakang.
3. Serangga yang diperoleh kemudian
dimasukkan ke dalam botol sampel sebagai nilai n1. Pada metode ini
tidak dilakukan pelepasan hewan kembali.
4. Selang 24 jam dilakukan
penangkapan yang kedua dengan jumlah ulangan penangkapan sesuai dengan jumlah
ulangan penangkapan pada periode pertama.
5. Serangga yang telah berhasil ditangkap
kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam botol sampel yang kedua serta
dicatat jumlahnya sebagai n2.
Cara Analisis Data :
A.
Metode Lincoln-Peterson
1. Sampel diambil dari
botol, diletakkan pada suatu wadah.
2.
Serangga yang
diperoleh kemudian dihitung dengan ketentuan M adalah jumlah individu yang ditangkap
pada penangkapan pertama dan ditandai, n adalah jumlah individu tertangkap pada
penangkapan kedua baik yang bertanda maupun tidak bertanda, dan individu yang
bertanda yang tertangkap pada penangkapan kedua adalah R.
3.
Data yang diperoleh
kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Lincoln-Peterson.
B.
Metode Zippin
1. Sampel dikeluarkan dari botol, diletakkan ke dalam
suatu wadah
2. Serangga yang terdapat di dalam botol sampel 1 dan 2
kemudian dihitung sebagai nilai untuk n1 dan n2.
3. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan
menggunakan metode Zippin.
DAFTAR
PUSTAKA
Heddy,
S. 1986. Pengantar Ekologi. Rajawali. Jakarta.
Naughton, S. J dan Wolf, L. L. 1973. Ekologi Umum edisi Ke
2. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar
Ekologi. Remaja Rosdakarya. Jakarta.
Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha
Nasional. Surabaya.
Suin, N. M., 1989. Ekologi Hewan Tanah.
Bumi Aksara. Jakarta.
Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika
Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Umar, M. Ruslan. 2014. Penuntun Praktikum
Ekologi Umum. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
