LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN
PERCOBAAN I
JARINGAN TRANSPORT AIR
NAMA : NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM : H
411 13 504
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : VIKI WULANDARI
HARI/TANGGAL : RABU/ 05 NOVEMBER
2014
LABORATORIUM BOTANI JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Air diserap tanaman
melalui akar bersama-sama dengan unsur-unsur hara yang terlarut di dalamnya,
kemudian diangkut ke bagian atas tanaman, terutama daun, melalui pembuluh
xilem. Pembuluh xilem pada akar, batang, dan daun merupakan suatu sistem yang
kontinyu, berhubungan antara satu sama lain (Lakitan, 2012).
Stomata terletak pada daun tepatnya di epidermis yang memungkinkan adanya
pertukaran gas antara udara luar dan mesofil. Air yang menguap akan hilang
melaui dinding epidermis dan mesofil yang berdekatan dengan rongga di bawah stomata kemudian
udara hilang melalui stomata pada daun tanaman (Salisbury dan Ross, 1992).
Air yang masuk dari dalam tanah ke dalam jaringan melalui
sel secara difusi dan osmosis. Larutan tanah mengandung ion-ion dan ion-ion
yang terdapat pada tanah akan terbawa melalui proses masuknya air melaui sel.
Jika air yang berada pada tanah sedikit, maka tumbuhan juga menyerap airnya
sedikit, sehingga tumbuhan tidak mampu untuk mencukupi kebutuhannya dan lama
kelamaan jika hal tersebut berkelanjutan maka tanaman akan layu karena air
merupakan faktor utama bagi pertahanan bagi tumbuhan (Wijaya, 2006).
Berdasarkan teori yang telah dijelaskan diatas,
maka dilakukan percobaan ini untuk mengetahui proses pengangkutan air dari akar
ke bagian atas tumbuhan terutama bagian daun untuk diproses melalui
fotosintesis.
I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan
dari percobaan ini adalah melihat proses transport air melalui xilem.
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan mengenai Jaringan Transport Air ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 November 2014 pukul 14.00-17.00 WITA,
bertempat di Ruang Herbarium, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tumbuhan
memerlukan air dan mineral. Air dan mineral ini diserap dari dalam tanah
menggunakan akar. Pengambilan zat-zat ini dilakukan secara difusi dan osmosis.
Difusi merupakan perpindahan molekul atau ion dari daerah berkonsentrasi tinggi
ke daerah berkonsentrasi rendah. Sedangkan osmosis adalah perpindahan air dari
larutan berkonsentrasi rendah ke larutan berkonsentrasi tinggi melalui selaput
semipermeabel (Wijaya,
A., 2006).
Jaringan
xilem adalah suatu komponen jaringan pengangkut yang mempunyai dua fungsi
utama. Xylem berfungsi untuk mengangkut air serta garam-garam mineral dari akar
ke semua anggota tumbuhan dan juga menjadi penyokong/ kekuatan mekanis untuk
tumbuhan. Istilah xilem sendiri berasal dari bahasa Yunani, xylos yang berarti kayu sehingga xilem
juga dapat disebut pembuluh kayu. Jaringan xilem mempunyai beberapa komponen
seperti trakeid, serat xilem, trakea dan parenkim xilem (Pamungkas, 2012).
Penyimpanan air
dan nutrisi pada jaringan
xilem batang merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesegaran tanaman dan ketahanan hidup. Misalnya, air
yang tersimpan membantu untuk menyeimbangkan
kondisi tumbuhan terhadap defisit air musiman yang
parah. Xilem juga merupakan
jaringan penyimpanan penting untuk nutrisi, seperti nitrogen dan pati (Pratt, dkk., 2007).
Konsep
dan istilah apoplas dan simplas pertama kali diperkenalkan oleh E. Munch dari
Jerman pada tahun 1930. Beliau mengemukakan bahwa dinding sel dari keseluruhan
bagian tanaman dan pembuluh xylem dapat dianggap sebagai suatu sitem tunggal
yang disebut sebagai apoplas. Pada dasarnya bagian apoplas merupakan bagian “mati”
dari tanaman kecuali bagian Pita Casparian pada sel-sel endodermis. Bagian
tanaman lainnya (selain dinding sel dan pembuluh) merupakan bagian yang hidup
dari tanaman. Munch menyebutnya sebagai bagian simplas yang meliputi sitoplasma
sel bersama organel-organel yang terdapat di dalamnya. Namun beberapa ahli
menganggap vakuola bukan merupakan bagian dari simplas (Lakitan, 2012).
Floem adalah suatu
jaringan yang kompleks tersusun atas sel tapis, sel penyerta,
sel serabut, kulit kayu dan sel parenkim kulit kayu. Jaringan floem berfungsi dalam peristiwa translokasi
zat-zat hasil fotosintensis di daun untuk diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan.
Floem bersama dengan jaringan xilem (pembuluh kayu) membentuk berkas pembuluh
angkut (vaskuler) pada tumbuhan. Susunan floem dengan xilem menunjukkan
tipe-tipe berkas pembuluh angkut seperti tipe kolateral, bikolateral, radial,
konsentrik amfivasal dan konsentrik amfikribal (Kardiawarman dan Suroso, 2003).
Pada awalnya xilem merupakan
hasil aktivitas meristem apikal lewat pembentukan prokambium. Xilem yang
terbentuk dari prokambium dinamakan xilem primer. Bila tumbuhan ini setelah
pertumbuhan primernya lengkap, kemudian membentuk jaringan sekunder sebagai
hasil aktivitas kambium, maka xilem yang terbentuk itu dinamakan xilem
sekunder. Meskipun xilem primer dan xilem sekunder itu tidak berbeda bentuknya,
tetapi keduanya akan berbaur pada pertumbuhan selanjutnya. (Mulyani, 2006).
Xylem dan floem dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel yang hidup disebut
dengan perisikel. Jaringan vaskuler dan perisikel membentuk suatu tabung yang
disebut dengan stele. Di sebelah luar stele terdapat sel-sel endodermis yang
bagian dinding radial dan transversalnya terdapat penebalan yang dipadati oleh
suberin yang dikenal dengan pita kasparian. Suberin bersifat sulit ditembus air
sebagaimana halnya lignin dan kitin pada kutikula daun. Bagian dinding
tangensial dari sel-sel endodermis umumnya tidak mengalami penebalan, sehingga
masih bisa dilewati air (Lakitan, 2012).
Sistem vaskular tumbuhan meliputi floem
dan xilem untuk mengangkut zat-zat nutrisi yang dibutuhkan seluruh tumbuhan. Hal ini
dikarenakan air diambil oleh akar
sementara makanan yang diambil dari matahari di bagian atas tumbuhan, dua
nutrisi utama berjalanan pada arah yang berlawanan. Dengan demikian, dua set jaringan
dibedakan oleh apa yang mereka transportasikan (Sridanti, 2013).
Terdapat beberapa perbedaan pada
pembuluh xylem dan floem. Xilem sebagai jaringan yang mengangkut air dan mineral
dari akar ke batang dan semua daun terbuat dari sel mati, berdinding sel tipis, memiliki dinding sel terbuat
dari lignin (selulosa keras), tidak mempunyai sitoplasma, aliran air
pada xilem umumnya menuju ke atas, dan jaringan yang menyertai xilem termasuk
jaringan
serabut.
Sedangkan floem sebagai jaringan yang
mengangkut hasil fotosintesis terbuat dari sel hidup, berdinding sel tebal, dinding sel terbuat dari
selulosa, memiiki sitoplasma, aliran floem dapat menuju
bagian atas dan bawah tumbuhan, dan jaringan yang menyertai adalah jaringan
sel pengiring (Atinirmala, 2006).
Untuk dapat diserap tanaman melalui akar,
molekul-molekul air harus berada pada permukaan akar. Dari permukaan air ini
air bersama bahan-bahan yang terlarut diangkut menuju pembuluh xylem. Lintasan
pergerakan air dari permukaan akar menuju pembuluh xylem ini disebut lintasan
radial pergerakan air (Lakitan, 2012).
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengangkutan air
antara lain (Wijaya, 2006):
a. Daya Hisap Daun (Tarikan Transpirasi)
Pada organ daun terdapat proses
penguapan air melalui mulut daun (stomata ) yang dikenal sebagai proses
transpirasi. Proses ini menyebabkan sel daun kehilangan air dan timbul tarikan
terhadap air yang ada pada sel-sel di bawahnya dan tarikan ini akan diteruskan molekul demi molekul,
menuju ke bawah sampai ke seluruh kolom air pada xilem sehingga menyebabkan air
tertarik ke atas dari akar menuju ke daun. Dengan adanya transpirasi membantu
tumbuhan dalam proses penyerapan dan transportasi air di dalam tumbuhan. Adapun
transpirasi itu sendiri merupakan mekanisme pengaturan fisiologis yang
herhubungan dengan proses adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan.
b. Kapilaritas Batang
Pengangkutan air melalui xilem mengikuti prinsip kapilaritas. Pengangkutan
air melalui pembuluh kayu (xilem), terjadi karena pembuluh kayu (xilem) tersusun seperti rangkaian
pipa-pipa kapiler. Daya
kapilaritas disebabkan karena adanya kohesi antara molekul air dengan air dan
adhesi antara molekul air dengan dinding pembuluh xilem. Baik kohesi maupun
adhesi ini menimbulkan tarikan terhadap molekul air dari akal sampai ke daun
secara bersambungan.
c. Tekanan Akar
Akar tumbuhan menyerap air dan €taram mineral baik siang maupun malam. Pada
malam hari, ketika transpirasi sangat rendah atau bahkan nol, sel-sel akar
masih tetap menggunakan energi untuk memompa ion-ion mineral ke dalam xilem. Endodermis yang mengelilingi stele akar
tersebut membantu mencegah kebocoran ion - ion ini keluar dari stele.
Akumulasi mineral di dalam stele akan menurunkan potensial air. Air akan
mengalir masuk dari korteks akar, menghasilkan suatu tekanan positif yang
memaksa cairan naik ke xilem. Dorongan getah xilem ke arah atas ini disebut
tekanan akar atau roof pressure. Tekanan akar juga menyebabkan
tumbuhan mengalami gutasi, yaitu keluarnya air yang berlebih pada malam hari melalui
katup pelepasan (hidatoda) pada daun.
Penyesuaian osmotik dan keseimbangan garam dalam
tanaman terus-menerus berubah responnya terhadap lingkungan. Penyesuaian ini merupakan
inang dari faktor-faktor internal yang mencakup potensial air, pertumbuhan dan differensiasi,
metabolisme mineral dan hormon. Tanaman yang toleran terhadap salinitas dapat
melakukan penyesuaian dengan menurunkan potensial osmosis tanpa kehilangan
turgor. Laju penyesuaian ini relatif tergantung pada spesies tanaman.
Penyesuaian dilakukan dengan penyerapan ataupun dengan pengakumulasian ion-ion
dan sintetis solute-solute organik di dalam sel. Dua cara ini dapat bekerja
secara bersamaan walaupun mekanisme yang lebih dominan dapat beragam diantara
berbagai spesies tanaman (Sipayung, 2003).
Pergerakan vertikal air dalam pembuluh xilem salah
satunya dapat dijelaskan oleh teori kohesi yang didasarkan atas 3 konsep, yakni
adanya perbedaan potensi air antara air dan atmosfir sebagai tenaga pendorong,
dan adanya gaya kohesi antara molekul air yang menjaga keutuhan kolom air di
dalam pembuluh xylem. (Lakitan, 2012).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang
digunakan adalah mikroskop, object glass, cover glass, pipet
tetes, gelas kimia, kertas saring, pisau silet, batang pengaduk dan kamera.
Bahan-bahan yang
digunakan adalah sirih-sirihan Peperomia sp., pacar air Impatiens balsamina, air destilata dan
pewarna (safranin dan metilen biru).
III.2
Tahapan Kerja
Tahapan
kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Air destilata dicampurkan dengan pewarna safranin dan
metilen biru pada botol yang berbeda, kemudian disaring menggunakan kertas
saring.
3. Dimasukkan sirih-sirihan Peperomia sp. pada botol berisi metilen biru sampai seluruh bagian
akarnya terendam larutan pewarna.
4. Dimasukkan pacar
air Impatiens balsamina ke dalam botol berisi pewarna safranin sampai
seluruh bagian akarnya terendam larutan pewarna.
5. Ditungggu dan dibiarkan air yang telah dicampur pewarna
naik pada batang tanaman
6. Dibuat preparat sayatan melintang batang tanaman kemudian
diamati menggunakan mikroskop.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Gambar 1 Penampang melintang batang sirih-sirihan Peperomia sp.
Gambar 2 Penampang melintang batang pacar air Impatiens balsamina
Penjelasan
Sirih-sirihan
Peperomia sp. dimasukkan ke dalam
botol yang berisi larutan metilen biru dan pacar air Impatiens balsamina dimasukkan ke dalam botol larutan pewarna
safranin. Lalu dibiarkan larutan pewarna naik pada batang melalui xylem. Kemudian
dibuat preparat batang dari keduanya untuk diamati pada mikroskop.
Pada
saat tanaman dimasukkan ke dalam larutan pewarna, dapat dilihat pergerakan air dimulai
dari akar ke bagian atas batang. Hal tersebut ditandai dengan adanya aliran
berwarna biru dan merah yang menjalar menuju daun. Proses transport air ini
dapat dilihat dari luar karena batang Peperomia
sp. dan Impatient balsamina
bersifat transparan sehingga digunakan sebagai bahan percobaan.
Pada
mikroskop dapat diperhatikan adanya jaringan pembuluh yang membiru dan memerah
sesuai dengan warna pewarna yang dipakai sehingga terbukti bahwa air dibawa ke
daun melalui jaringan pembuluh xylem. Dapat pula dilihat bagaimana bentuk dan penampakan
pembuluh tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari
percobaan ini adalah proses transport air pada tumbuhan dilakukan melalui
xylem. Hal ini dapat ditunjukkan pada gambar penampang melintang batang yang
nampak sebagai pembuluh yang berwarna merah pada pacar air Impatiens balsamina dan pembuluh berwarna biru pada sirih-sirihan Peperomia sp.
V.2 Saran
Sebaiknya pada percobaan ini tanaman pacar air
dan sirih-sirihan ditanam dalam pot agar ketika percobaan masih segar. Selain
itu, sebaiknya disesuaikan antara ukuran botol dengan tanaman yaitu tidak
terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
daftar pustakanya mana?
BalasHapus