BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Sistem integumen/ sistem penutup tubuh
(covering) adalah suatu sistem penyusun tubuh suatu makhluk hidup yang
berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Fungsinya antara lain sebagai
pelindung, penerima rangsangan dari luar /eksteroreseptor, respirasi, ekskresi, termoregulasi dan
osmoregulasi /homeostatis.
Fungsi lain dari sistem integumen diantaranya :
1. Sebagai tempat cadangan makanan. Lemak pada hewan yang
hidup di daerah 4 musim.
2. Sebagai alat nutrisi / kelenjar susu,
pada mammalia.
3. Sebagai alat gerak, sayap pada
burung, sirip pada ikan,selaput renang pada katak.
4. Sebagai tempat pembentukan vitamin D.
Sistem integumen adalah
sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan
hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian
sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku,
kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal dari
bahasa Latin "integumentum", yang berarti "penutup".
Secara
ilmiah kulit adalah lapisan terluar yang terdapat di luar jaringan yang
terdapat pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh, kulit
merupakan organ yang paling luas permukaan yang membungkus seluruh bagian luar
tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia.
Cahaya matahari mengandung sinar ultra violet
dan melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh misalnya menjadi pucat,
kekuning-kunigan, kemerah-merahan atau suhu kulit meningkat.Ganguan psikis juga
dapat mengakibatkan kelainan atau perubahan pada kulit misanya karna stres,
ketakutan, dan keadaan marah akan mengakibatkan perubahan pada kulit wajah.
I.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini
adalah :
1.
Apa yang dimaksud dengan sistem integumentum?
2.
Apa fungsi dari kulit?
3.
Bagaimana perbandingan susunan
jaringan kulit hewan?
4.
Bagaimana struktur epidermis dan dermis?
5.
Bagaimana bentuk-bentuk keratin?
6.
Apa saja macam-macam sisik?
7.
Bagaimana peranan bulu, rambut, kelenjar
kulit (chromatophor)?
I.3 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui pengertian integumentum.
2.
Mengetahui fungsi kulit.
3.
Mengetahui perbandingan susunan jaringan kulit
hewan.
4.
Mengetahui struktur epidermis dan dermis.
5.
Mengetahui bentuk-bentuk keratin.
6.
Mengetahui macam-macam sisik.
7.
Mengetahui bulu, rambut, kelenjar kulit (chromatophor).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN INTEGUMENTUM
Integumen merupakan suatu
sistem yang sangat bervariasi.
Pada sistem ini terdapat sejumlah
organ ataupun struktur tertentu dengan fungsi yang bermacam-macam. Sistem
integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang sebenarnya dan
derivat-derivatnya.
Kulit yang sebenarnya yaitu
lapisan penutup yang umumnya terdiri dua lapisan utama, letaknya sebelah luar
dari jaringan ikat kendur yang meliputi otot dan struktur permukaan lain.
Sedangkan derivat integumen yaitu struktur tertentu yang secara embriogenetik
berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit sebenarnya. Struktur ini dapat
berupa struktur yang lunak, seperti kelenjar eksresi, tetapi dapat juga berupa
struktur keras dari kulit ini, dinamakan eksoskelet.
Sehubungan dengan
bervariasinya integumen pada vertebrata khusunya ikan, maka fungsinya pun
bermacam-macam pula, antara lain : pelindung terhadap
gangguan mekanis, fisis, organis atau penyesuaian diri terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk pelindung terhadap hewan lain yang
merupakan musuhnya.
Kulit juga digunakan sebagai alat ekskresi dan osmoregulasi dan
sebagai alat pernapasan pada beberapa jenis ikan tertentu. Beberapa alat lain
yang terdapat dalam kulit sebagai alat untuk mempertahankan diri ataupun menyerang
mangsa adalah kelenjar racun, pewarnaan, sumber cahaya, kelenjar mucus (lendir)
yang membuat tubuhnya licin dan menghasilkan bau khas sebagai alat komunikasi
kimiawi.
B. FUNGSI KULIT
Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam
menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi
fungsi proteksi (perlindungan), absorpsi ,ekskresi, persepsi, pengaturan
suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D.
1. Kulit sebagai pelindung
Kulit memiliki lapisan kulit yang berfungsi
sebagai pelindung tubuh dari tiap bagian lapisan kulit terdalam sampai luar,
seperti :
·
Sel keratin
·
Lipid
·
Sebum
·
Pigmen melanin
Sel keratin berfungsi
melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin
merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu
bata di permukaan kulit.
Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air
dari permukaan kulit dan dehidrasi, selain itu juga mencegah masuknya air dari
lingkungan luar tubuh melalui kulit.
Sebum yang berminyak yang berasal dari kelenjar
sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat
bakterisid yang berfungsi untuk membunuh bakteri di permukaan kulit. Dengan
adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel
asam dengan kadar pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
Pigmen melanin yang berfungsi untuk melindungi
kulit efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit
melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas
melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat
tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin,
maka dapat timbul keganasan. Pigmen melanin merupakan lapisan kulit yang
berfungsi sebagai pemberi dan perubahan warna kulit. Usaha
untuk
mencegah kulit terpapar pancaran sinar matahari secara
berlebihan dapat berupa menggunakan handbody lotion karena pigmen kulit
mudah sekali berubah.
Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel
imun yang protektif. Sel imun yang pertama adalah sel
Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel
fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan
sel Langerhans.
2. Fungsi absorpsi
Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa
menyerap material larut-lipid seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu,
oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen,
karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi
respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton,
CCl4, dan merkuri. Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak,
seperti kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan
antihistamin di tempat peradangan.
Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal
tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum.
Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran
kelenjar tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang
melalui muara kelenjar.
3. Fungsi ekskresi
Kulit juga berfungsi sebagai tempat pembuangan
suatu cairan yang keluar dari dalam tubuh beruoa keringat dengan perantara 2
kelenjar keringat yang dimiliki, yakni kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
- Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat
pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju
lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan
kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan
kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol,
protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri,
melumasi dan memproteksi keratin.
- Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun
sekitar 400 ml air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat
tiap hari. Bagi seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 ml
keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif bekerja di luar ruangan akan
menghasilkan kelenjar keringat yang lebih terbuka sehingga keringat yang
dikeluarkan lebih banyak dari mereka yang bekerja di dalam ruangan. Selain
mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk
mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan
protein yaitu amoniak dan urea.
4.
Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung syaraf sensorik di
dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan
Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan
Krause yang terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis
berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di
epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di
epidermis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang
erotik.
5.
Fungsi sebagai pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)
Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu
tubuh (termoregulasi) melalui dua cara yaitu pengeluaran keringat
dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh
akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah
(vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada
saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan
mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran
panas oleh tubuh.
6. Fungsi pembentukan vitamin D
Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi
prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di
hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk
vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi
kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah.
Tubuh memang mampu menghasilkan vitamin D dengan
sendirinya tetapi masih belum mampu memenuhi kebutuhan tubuh secara menyeluruh
sehingga pemberian vitamin D secara buatan atau yang dapat diperoleh dari
sumber makanan, buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung vitamin D masih
tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena
adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.
C. STRUKTUR SUSUNAN
KULIT
Pada hewan vetebrata, terdapat beberapa perbedaan
dalam susunan kulit. Maka, dapat diperbandingkan diantaranya dari Pisces,
Amphibi, Reptil, Aves dan mamalia (manusia sebagai contohnya) sebagai berikut:
1.
Kulit Pisces
Kulit
ikan terdiri at as lapisan epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis. Lapisan
epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh
sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya.
Lapisan dermis berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan
derivat-derivat kulit lainnya.
Lendir - Umumnya ikan yang tidak
bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal dibanding dengan ikan
yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan dipengaruhi oleh
kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam epidermis.
Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu, misalnya
pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada
saat atau keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air
supaya ia dapat berenang dengan lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka,
berperan dalam osmoregulasi sebagai lapisan semipermeable yang mencegah keluar masuknya air
melalui kulit.
Pada beberapa ikan tertentu menggunakan
lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan, misalnya ikan
paru-paru (Protopterus) yang menanamkan diri pada lumpur selama musim panas
dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba. Beberapa
ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar,
misalnya anggota dari genus Trichogaster.
Sisik - Ikan yang bersisik keras biasanya
ditemukan pada golongan ikan primitif, sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel.
Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik
dibuat di dalam dermis sehingga sering diistilahkan sebagai rangka dermis. Di samping ikan bersisik terdapat pula ikan
yang sama sekali tidak bersisik, ditemukan pada ikan lajur (Trichiurus,
Lepturancanthus, Demissolinea), ikan subordo Siluroidea (Pegasius, Clarias,
Fluta alba). Pisces tersebut memiliki lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin sebagai suatu kompensasi
dari tidak terdapatnya lendir pada tubuhnya.
Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh
tertentu saja. Namun adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat
(Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi
sisiknya kecil dan dilapisi lendir yang tebal.
- Kulit Amfibi
Pada amfibi, kulit merupakan organ yang penting. Kulit
katak memiliki sifat permeabilitas, dimana air dan gas dapat “keluar-masuk”.
Kulit katak juga berfungsi sebagai alat pernafasan dan harus lembab sehingga
tidak kekeringan. Oleh karena itu katak harus mengembangkan adaptasi yang
berhubungan erat dengan sifat dari kulit mereka. Untuk mengurangi kemungkinan
kulit mengering maka adaptasi yang dilakukan antara lain:
1. Merapatkan tubuh untuk mengurangi luas
permukaan yang bisa mongering,
2. Hidup dekat badan air,
3. Berlindung di tumbuhan teduh atau permukaan
batu,
4. Menutupi kulit dengan bahan licin dan
5. Masuk ke dalam
tanah. Seperti juga pada beberapa jenis reptil (yang terlihat jelas adalah
ular) yang mengelupaskan kulitnya maka pada waktu-waktu tertentu katak juga
akan mengelupaskan kulit bagian atas (stratum corneum) secara berkala, terutama
saat tumbuh. Kebanyakan dari jenis amfibi akan memakan kulit lamanya,
yang merupakan sumber air dan unsur hara. Kulit
yang lemas sebagai penutup tubuh berfungsi menutupi tubuh terhadap gangguan
yang bersifat fisis dan pathologis. Disamping itu sebagai alat untuk mengisap air
karena katak tidak minum.
Kulit
tersusun atas epidermis, dermis yang terbagi atas jaringan lain. Pada epidermis
sebelah bawah merupakan lapisan germ yang selalu menghasilkan lapisan jangat
yang setiap waktu bisa terkelupas. Tiap bulan selama musim hujan di bsawah
lapisan jangat baru, sehingga setiap waktu lapisan jangat yang lama terlepas
sudah siap penggantinya. Pada dermis terdapat jaringan ikat, di sebelah luar jaringan
tersebut terdapat jaringan seperti karet busa yang mengandung banyak kelenjar
dan pigmen. Bagian sebelah dalam dari dermis terdapat saraf dan pembuluh darah yang mempunyai
peranan penting dalam proses pernafasan
melalui kulit. Kelenjar kulit
menghasilkan sekresi yang berupa cairan untuk membasahi kulit luar.
Kelenjar kulit terbagi atas 2 yaitu:
1.
Glandulae mucosa
(kelenjar lendir) yang menghasilkan lendir bening untuk memudahkan katak
melepaskan diri bila ditangkap.
2.
Glandulae toxicon
(kelenjar racun) yang menghasilkan zat racun yang pada tingkat tertentu dapat
secara efektif mematikan hewan lain.
Dalam kulit
terdapat butir-butir pigmen pada epidermis dan sel pigmen pada dermis. Beberapa jenis katak mempunyai kelenjar beracun (glanular gland) pada kulit yang pada
saat terganggu akan mengeluarkan cairan berwarna susu ataupun bening (kadang-kadang
berbau dan lengket) yang bersifat racun yang secara kimiawi terdiri dari
bicyclic dan steroid alkaloid. Kelenjar ini biasanya terkonsentrasi pada kepala
atau pada bintil-bintil di sepanjang tubuh dan disebuat sebagai kelenjar
paratoid. Jenis-jenis katak dari Amerika
Selatan memiliki racun yang sangat kuat yang dapat mematikan manusia. Katak Dendrobates memiliki warna yang indah
sebagai “tanda” bahwa mereka beracun. Hasil penelitian menunjukan bahwa racun
ini sebagian besar berasal dari serangga yang dimakan mereka, oleh karena itu
katak-katak Dendrobatidae yang
ditangkarkan dan diberi makana biasa akan kehilangan daya racunnya. Racun kodok umumnya memiliki kandungan
kimiawi berupa Biogenic amines yaitu epinephrine, nor epinephrine, dopamine,
epinine, indolealkylamines yang dapat mengakibatkan halusinasi dan melembutkan
otot.
3. Kulit Reptil
Kulit/Integument pada Reptilia umumnya tidak mengandung
kelenjar keringat. Integument adalah jaringan penutup permukaan, seperti kulit
dan mukosa. Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung
sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan
mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini
akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Pada calotes (bunglon)
integument mengalami modifikasi warna. Perubahan warna ini dikarenakan adanya
granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar karena pengaruh yang
bermacam-macam. Pada calotes (bunglon) perubahan ini relatif cepat, karena
selalu dibawah kontrol sistem nervosum outonomicum.
Untuk mempertahankan diri dari mangsa dan penyakit
ataupun memudahkan menangkap mangsa, reptil mengembangkan berbagai pertahanan
diri. Pewarnaan berfungsi baik sebagai
kamuflase maupun peringatan terhadap predator potensial atas keberadaan racun.
Secara morfologi, bentuk dan warna yang menyerupai lingkungan sekitar
menyulitkan predator memangsa mereka. Kulit amfibi memiliki kelenjar mucus.
Sekresi mucus membuat kulit tetap lembab, mencegah masuknya bakteri dan pathogen
lainnya.
Kulit reptilia
menunjukkan adaptasi untuk membuat kulit menjadi kedap air dengan terbentuknya penutup tubuh berupa sisik tanduk. Hubungan antara
sisik berupa daerah-daerah dimana bahan tanduk tipis dan dapat melipat. Pada
lepidosauria seluruh generasi epidermis menyilih
menjadi satu unit. Dalam stadium istirahat, epidermis terdiri atas stratum germinativum dan suatu generasi epidermis luar yang khas
terdiri atas 5 lapisan. Lapisan ini dari luar ke dalam mula-mula tebal dengan sel-sel yang
menanduk oleh B-keratin. Lapisan permukaan mempunyai duri-duri yang mikroskopis.
Lapisan ini disebut oberhautchen. Di bawah lapisan B-keratin terdapat lapisan tengah,
kemudian diikuti suatu lapisan yang cukup tebal dari bahan yang lepas-lepas, mati,
tidak berintiserta mengandung a-keratin. Di bawah lapisan ini terdapat 2 lapisan sel hidup,
yaitu suatu lapisan yang nantinya akan termasuk a-keratin dan suatu lapisan dalam
yang nantinya menjadi jernih dan menyebabkan pemisahan dengan lapisan yang akan menyilih. Pada akhir stadium istirahat, epitel germinal secara cepat
berproliferasi untuk membuat lapisan-lapisan generasi
epidermis dalam. Bila generasi epidermis dalam ini menjadi dewasa, lapisan tersebut akan memisahkan diri dari lapisan yang
paling dalam dari generasi epidermis luar dan penyilihan dapat berlangsung.
Lempeng keratin
pada permukaan luar suatu sisik datar yang besar disebut skutum (scute). Skutum buaya dan
kura-kura tidak pernah ditanggalkan. Pertumbuhan skutum berlangsung dengan menambah bahan keratin pada seluruh permukaan dalam
skutum. Setiap gelombang pertumbuhan terentang hingga di luar batas skutum yang
lama, membentuk cincin konsentris pada batok kura-kura (turtle shell).
4. Kulit
Aves
Tubuh
dibungkus oleh kulit yang seolah-olah tak melekat pada otot. Dari kulit akan
muncul bulu, yang merupakan hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan,
fleksibel, dan sebagi pembungkus tubuh sangat resistensi. Pertumbuhan serupa
sisik pada reptil. Pada mulanya bulu sebagai papil dermal yang selanjutnya mencuat
menutupi epidermis. Dasar kuncup bulu itu melekuk kedalam pada tepinya sehingga terbentuk foliculus
yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari
kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus sedang epidermis membentuk
lapisan penyusun rusuk bulu. Setral kuncup bulu itumempunyai bagian epidermis
yang lunak yang mengandung pembuluh darah sebagi pembawa zat-zat makanan dan
proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain.
Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal
dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis
bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi
epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk
folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar
dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis
membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian
epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat
makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
Berdasarkan susunan anatomis bulu
dibagi menjadi :
· Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh.
Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan
tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
· Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan
perbedaan detail.
· Plumae, Bulu yang sempurna.
· Barbae
· Barbulae, ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut
barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.
Lubang pada
pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus
disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile,
sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile.
Menurut
letaknya, bulu aves dibedakan menjadi :
· Tectrices, bulu yang menutupi badan.
· Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan
berfungsi sebagai kemudi.
· Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
· remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara
metacarpal pada metacarpalia.
· Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
· Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan
sekunder daerah siku.
· Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
· Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari
Bentuk bulu
ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk
persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan
raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan
berujung runcing.
Warna bulu
dihasilkan oleh butir pigmen, dengan difraksi dan refleksi cahaya oleh struktur
bulu atau oleh pigmen dan struktur bulu. Pigmen pokok yang menimbulkan warna
pada bulu adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid sering disebut dengan
lipokrom yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam metanol, eter atau
karbon disulfida. Karotenoid terbagi menjadi 2, yaitu zooeritrin (animal red)
dan zoosantin (animal yellow). Pigmen melanin terklarut dalam asam. Butir-butir
eumelanin beraneka macam yaitu dari hitam sampai coklat gelap. Feomelanin yaitu
hampir tanpa warna hingga coklat kemerahan.
Bulu-bulu
burung sebenarnya tidak merata, tetapi dirancang pada bidang-bidang terbatas
yang disebut pterilae dan ada bidang kecil yang tidak ditumbuhi bulu
disebut apterile. Pengecualian pada penguin dan burung kiwi yang bulunya
menutupi hampir sebagian besar tubuhnya. Bulu burung dapat dinamai sesuai
dengan bidangnya berada, yaitu:
- capital tract yaitu bulu
yang menutup bagian atas, samping dan belakang kepala dan terus ke pterilae
berikutnya.
- Spinal tract, bulu yang
memanjang dari atas leher ke punggung terus ke dasar ekor dan bisa berlanjut
atau terpisah ditengah.
- Ventral tract, berawal diantara cabang rahang
bawah dan memanjang turun ke sisi ventral leher. Biasanya bercabang menjadi dua
bidang lateral melewati sepanjang sisi tubuh dan berakhir disekitar anus.
Bagian apterilae dadabawah dan perut beberapa burung, kaya pembuluh darah
selama bersarang dan merupakan daerah mengeram (brood patch). Pada saat mengeram bulu pada brood patch akan rontok dan kulitnya tipis.
- Humeral
tract yaitu sepasang pterilae yang sejajar seperti pita sempit yang meluas
ke belakang pada sisi pundak.
- Caudal tract termasuk
retrices, bulu pada ekor, biasanya panjang dan kuat.
- Alar tract termasuk berbagai pterilae yang
terletak pada sayap. Thumb merupakan sisa jari kedua.
Sedangkan bulu yang menutupi permukaan atas dan bawah sayap disebut dngan
covert dan bulu pada aksial sayap disebut aksillaria.
- Femoral tract, bulu yang
meluas sepanjang permukaan luar paha dekat sendi lutut ke tubuh.
- Crural tract, bulu yang
menyususn sisa bidang bulu lainnya pada kaki
Bulu burung
terbentuk dari struktur tak hidup sehingga mudah kusut akibat oksidasi dan
gesekan. Bulu-bulu yang telah lama akan lepas secara periodik dan digantikan
oleh bulu yang baru. Pelepasan dan pergantian bulu ini disebut dengan molting.
Pergantian bulu terjadi pada waktu tertentu dalam satu tahun dan diselesaikan
dalam satu periode (selama beberapa minggu).
5. Kulit Mamalia
Penutup
tubuh berupa kulit lunak dan tipis kecuali bagian tertentu mengalami penebalan dan cornifikasi. Pada umumnya
seluruh kulit ditutupi oleh rambut. Pada kulit (integumen) merupakan lapisan
terluar tubuh manusia dan pelindung bagian dalam tubuh.
Mamalia memliki
integumen yang terdiri dari 3 lapisan: paling luar adalah epidermis, yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya terdiri atas 30 lapis sel yang berfungsi menjadi
lapisan tahan air. Sel-sel terluar dari lapisan epidermis ini sering
terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering membelah dan sel anakannya
terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis, memiliki ketebalan
15-40 kali dibanding epidermis. Dermis terdiri dari berbagai komponen seperti
pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis tersusun atas jaringan
adiposa dan berfungsi untuk menyimpan lemak, penahan benturan, dan insulasi. Ketebalan lapisan ini bervariasi pada setiap spesies.
Kulit tersusun
atas tiga lapisan, yaitu epidermis (lapisan luar/kulit ari), dermis (lapisan
dalam/kulit jangat), hipodermis (jaringan ikat bawah kulit):
1) Epidermis.
Lapisan
epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum. stratum granulosum,
dan stratum germinativum. Stratum korneum tersusun dari sel-sel mati dan selalu
mengelupas. Stratum lusidum tersusun atas sel-sel yang tidak berinti dan
berfungsi mengganti stratum korneum. Stratum granulosum tersusun atas sel-sel
yang berinti dan mengandung pigmen melanin. Stratum germinativum tersusun atas
sel-sel yang selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar.
* Stratum korneum, merupakan
lapisan zat tanduk, mati dan selalu mengelupas.
* Stratum lusidium, merupakan lapisan zat tanduk
* Stratum granulosum, mengandung
pigmen
* Stratum germonativum,
selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar
2) Dermis
Dermis terletak
di bawah epidermis. Lapisan ini mengandung akar rambut, pembuluh darah,
kelenjar, dan saraf. Kelenjar yang terdapat dalam lapisan ini adalah kelenjar
keringat (glandula sudorifera) dan kelenjar minyak (glandula sebasea). Kelenjar
keringat menghasilkan keringat yang di dalamnya terlarut berbagai macam garam.
terutama garam dapur. Keringat dialirkan melalui saluran kelenjar keringat dan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui poripori. Di dalam kantong rambut terdapat
akar rambut dan batang rambut. Kelenjar minyak berfungsi menghasilkan minyak
yang berfungsi meminyaki rambut agar tidak kering. Rambut dapat tumbuh terus
karena mendapat sari-sari makanan pembuluh kapiler di bawah kantong rambut. Di
dekat akar rambut terdapat otot penegak rambut.
* Akar rambut
* Pembuluh darah
* Syaraf
* Kelenjar minyak (glandula
sebasea)
* Kelenjar keringat (glandula
sudorifera)
* Lapisan lemak, terdapat di bawah
dermis yang berfungsi melindungi tubuh dari
pengaruh suhu luar
3) Hipodermis
Hipodermis
terletak di bawah dermis. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi
sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas
tubuh.
D. EPIDERMIS DAN DERMIS
Gambar 2.1
Kulit tersusun atas lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan
hipodermis :
1) Epidermis
Epidermis
merupakan lapisan teratas pada kulit
manusia dan memiliki tebal yang
berbeda-beda: 400-600 μm untuk kulit
tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki) dan 75-150 μm untuk kulit tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki
rambut). Selain sel-sel epitel, epidermis
juga tersusun atas lapisan: Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses melanogenesis. Sel
Langerhans, yaitu sel yang merupakan
makrofag turunan sumsum tulang, yang
merangsang sel Limfosit T, mengikat,
mengolah, dan merepresentasikan antigen
kepada sel Limfosit T. Dengan demikian, sel Langerhans berperan penting dalam imunologi
kulit. Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris dan berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.
Epidermis yang merupakan lapisan terluar terdiri
atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, dan stratum germinativum. Stratum korneum
tersusun dari sel-sel mati dan selalu mengelupas. Stratum lusidum tersusun
atas sel-sel yang tidak berinti dan berfungsi mengganti stratum korneum. Stratum granulosum
tersusun atas sel-sel yang berinti dan mengandung pigmen melanin. Stratum germinativum
tersusun atas sel-sel yang selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar.
2) Dermis
Dermis
yaitu lapisan kulit di bawah epidermis,
memiliki ketebalan yang bervariasi
bergantung pada daerah tubuh dan
mencapai maksimum 4 mm di daerah punggung. Dermis terdiri atas dua lapisan dengan batas yang tidak nyata, yaitu stratum
papilare dan stratum reticular. Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis, terdiri atas
jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel mast,
makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi). Stratum
retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun atas jaringan
ikat padat tak teratur.
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung syaraf,
kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat
menghasilkan keringat. Keringat mengandung air,
garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima
rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit,
serta untuk pengaturan suhu tubuh.
3) Hipodermis
Hipodermis
terletak di bawah dermis. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi
sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas
tubuh.
E. BENTUK-BENTUK KERATIN
Keratin melindungi kulit
dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan
struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di
permukaan kulit.
Keratinisasi merupakan
suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel yang membelah.
Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel basal akan
berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel
menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti
menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang
sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya
yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu
seterusnya. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis
dengan ketebalan 0,1 mm. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus, seperti
pada abrasi atau terbakar, maka sel-sel basal akan membelah lebih cepat.
Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh hormon epidermal growth factor (EPF).
Di dalam kulit serta
apendiksnya terdapat dua macam keratin, yaitu keratin lunak dan keratin keras.
Keratin lunak selain terdapat pada folikel rambut juga terdapat di permukaan
kulit. Keratin lunak dapat diikuti terjadinya pada epidermis yang dimulai dari
stratum granulosum dengan butir-butir keratohyalinnya, kemudian sel-sel menjadi
jernih pada stratum lucidum dan selanjutnya menjadi stratum korneum yang dapat
dilepaskan. Sedangkan keratin keras terdapat pada cuticula, cortex rambut dan
kuku. Keratin keras dapat diikuti terjadinya mulai dari sel-sel epidermis yang
mengalami perubahan sedikit demi sedikit dan akhirnya berubah menjadi keratin
keras yang lebih homogen. Keratin keras juga lebih padat dan tidak dilepaskan,
serta tidak begitu reaktif dan mengandung lebih banyak sulfur.
F. MACAM-MACAM SISIK
Sisik secara umumnya
berarti semacam lapisan kulit yang keras dan berhelai-helai, seperti pada ikan,
ular atau kaki ayam. Sisik-sisik pada hewan, secara struktur
umumnya merupakan bagian dari sistem integumen,
yakni penutup luar tubuh binatang.
A. Sisik Ikan
Ada beberapa macam sisik
ikan yang dikenal, yakni:
1. Sisik kosmoid (cosmoid)
Sisik kosmoid
yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang
telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari
tulang yang memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah,
dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang
disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin. Ikan coelacanth memiliki
semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan
lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
2. Sisik ganoid
Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidae dan Polypteridae. Sisik-sisik
ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoin terletak
di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat,
mengkilap dan keras.
3. Sisik plakoid
Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan
bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
4. Sisik leptoid
Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang
keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan
ktenoid (ctenoid).
a) Sisik-sisik sikloid memiliki tepi
luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif
yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper.
b) Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi
luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘modern’ yang
memiliki sirip-sirip berduri.
B. Sisik
Reptil
Beberapa bentuk sisik yang
umum pada reptil adalah sikloid (cenderung datar membundar), granular
(berbingkul-bingkul), dan berlunas (memiliki gigir memanjang di
tengahnya, seperti lunas perahu). Perbedaan
bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada berbagai bagian tubuh reptil biasa
digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan tersebut.
G. Bulu, Rambut, Kelenjar
Kulit (Chromatophor)
·
Bulu
Bulu merupakan hasil
pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel, dan sebagai pembungkus
tubuh secara resisten. Pada mulanya bulu sebagai papil dermal yang selanjutnya
mencuat menutupi epidermis. Dasar kuncup bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya
sehingga terbentuk foliculus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput
epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang
halus, sedangkan epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral
kuncup bulu itu mempunyai bagian epidermis yang lunak yang mengandung pembuluh
darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan
selanjutnya.
·
Rambut
Rambut atau sering disebut
bulu adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit hewan dan manusia,
terutama mamalia. Rambut muncul dari epidermis (kulit luar), walaupun berasal dari
folikel rambut yang berada jauh di bawah dermis. Struktur mirip rambut, yang
disebut trikoma, juga ditemukan pada tumbuhan.
·
Kelenjar Kulit
Kulit
juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya,
yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
a)
Kelenjar sebasea
Kelenjar
sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan
lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika
muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum
dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan
campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum
berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin.
b)
Kelenjar keringat
Walaupun
stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara
menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam ruangan
mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya
lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan
sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik
hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.
Terdapat
dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar
keringat merokrin:
·
Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah
aksila, payudara dan pubis, serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan
sekret yang kental dan bau yang khas. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika
ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di
sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin.
Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu
ke permukaan luar.
·
Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat
di daerah telapak tangan dan kaki. Sekretnya mengandung air, elektrolit,
nutrien organik, dan sampah metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0 – 6.8.
Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan,
mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara
mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin, sebuah peptida
kecil dengan sifat antibiotik.
Kelenjar kulit yang terdapat pada hewan khususnya vetebrata juga dapat
terbagi menjadi :
1.
Kelenjar lendir (mukus)
Kelenjar lendir dapat dijumpai pada pisces dan amphibi. kebanyakan kelenjar lendir pada ikan bersel tunggal.
Lendir membuat suatu lapisan pelindung di
permukaantubuh yang berperan untuk mengurangi gesekan tubuh dengan air, serta
menghalau mikroorganisme oleh karena itu lendir selalu ditanggalkan dan dibuat baru. Kelenjar lendir pada amphibia bersifat multiseluler dengan bagian
sekretorinya terbenam di dalam dermis. Selain itu terdapat pula kelenjar bisa yang
disebut kelenjar serous. Kelenjar ini menghasilkan
zat-zat toksik untuk menghalau lawannya.
2. Kelenjar bau
Kelenjar ini terdapat misalnya pada kaki kambing, rodentia, karnivora. Pada sigung (skunk) terdapat kelenjar bau di dekat anus, sedangkan pada ular
terdapat di dekat kloaka. Fungsi kelenjar bau
adalah untuk komunikasi intraspesies, seperti membatasi teritori, untuk menarik pasangan, atau untuk pertahanan.
3. Kelenjar minyak
Kelenjar ini terbatas terdapat pada mammalia dan biasanya berhubungan
dengan rambut. Fungsi kelenjar minyak adalah menggetahkan sebum yang berguna untuk melumasi rambut dan lapisan tanduk kulit. Modifikasi kelenjar minyak berupa
kelenjar serumen yang terdapat pada telinga luar mammalia. Selain itu, kelenjar
tarsal pada kelopak mata sebelah dalam dan kelenjar
meiboom pada sudut-sudut mata juga merupakan modifikasi kelenjar minyak. Fungsi
kelenjar ini adalah menghasilkan minyak yang menutupi
kornea dan berfungsi sebagai pelumas.
4. Kelenjar keringat
Kelenjar ini hanya terdapat pada mamalia. Pada manusia, kelenjar keringat tersebar di seluruh permukaan tubuh, sedangkan pada mamalia lainnya
penyebarannya lebih terbatas, misalnya di daerah telinga, bibir, kepala, punggung, jari
kaki, telapak kaki, sekitar anus, dan kelenjar susu.
Sekret kelenjar keringat bersifat seperti air serta mengandung garam-garam dan urea. Komposisi sekret tersebut berubah-ubah
menurut keadaan metabolik hewannya. Evaporasi keringat menyebabkan penyejukan,
sehingga membantu memelihara suhu tubuh yang konstan.
5.
Kelenjar
susu
Kelenjar susu (glandula mammae) hanya dimiliki oleh mammalia. Kelenjar ini merupakan modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar susu terbentu sepanjang
garis susu, yang terentang dari ketiak sampai lipat paha. Berdasarkan wilayah-wilayah tempat kelenjar susu tumbuh, dapat dibedakan kelenjar susu aksila (ketiak), thoraks
(dada), abdominal (perut), dan inguinal (lipat paha).
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa diambil
dari makalah ini adalah :
1.
Sistem integumen adalah sistem organ yang
membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap
lingkungan sekitarnya.
2.
Fungsi-fungsi kulit dapat dibedakan menjadi
fungsi proteksi (perlindungan), absorpsi ,ekskresi, persepsi, pengaturan
suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D.
3.
Perbandingan
susunan kulit pada hewan cukup jelas. Pada pisces terdapat lendir dan sisik.
Pada amphibi tersusun atas epidermis, dermis yang
terbagi atas jaringan lain seperti
kelenjar lendir dan kelenjar racun. Pada kulit
reptilia terdapat adaptasi dengan terbentuknya penutup tubuh berupa sisik
tanduk. Pada
aves kulit terbungkus bulu sebagai hasil pertumbuhan
epidermis. Sedangkan
pada mamalia (manusia) terdiri atas lapisan epidermis dan dermis.
4.
Kulit tersusun atas lapisan epidermis, lapisan
dermis, dan lapisan hypodermis. Epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum
lusidium, stratum
granulosum, dan stratum
germonativum. Dermis terdiri dari.
akar rambut, pembuluh darah, kelenjar, dan saraf.
5.
Keratin berfungsi melindungi kulit
dari mikroba, gesekan, panas, dan zat kimia. Terdapat dua macam
keratin, yaitu keratin lunak dan keratin keras.
6.
Pada ikan dikenal beberapa macam sisik
seperti sisik kosmoid, sisik ganoid, sisik plakoid, sisik leptoid,
sisik sikloid, dan sisik ktenoid. Sedangkan beberapa bentuk sisik
yang umum pada reptil adalah sikloid, granular dan berlunas.
7.
Bulu merupakan hasil pertumbuhan epidermis
menjadi bentuk ringan, fleksibel, dan sebagai pembungkus tubuh secara resisten.
Rambut adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit hewan terutama mamalia.
Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan
kelenjar keringat merokrin.