Minggu, 14 September 2014

Anatomi Akar dan Morfologi Batang

http://simlitabmas.dikti.go.id/fileUpload/pengumuman/Panduan_PKM_2014_Final_cetak.pdf

Nama : Nur Afiyah Sulaiman
NIM: H41113504
Kelas : SPT A

ANATOMI AKAR DAN MORFOLOGI BATANG
Anatomi akar.
Secara umum, jaringan yang membentuk akar tumbuhan dari bagian terluar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, endodermis, dan stele (silinder pusat).
Epidermis akar. Epidermis akar merupakan lapisan luar akar. Ciri khas epidermis yaitu dapat bermodifikasi membentuk rambut-rambut akar.
Korteks akar. Pada korteks akar terdapat ruang-ruang antarsel untuk pertukaran gas. Korteks juga berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan.
Endodermis akar. Endodermis berperan sebagai pengatur jalannya larutan yang diserap dari tanah masuk ke silinder pusat.
Stele akar (silinder pusat). Stele pada akar tersusun atas perisikel (perikambium), xilem (pembuluh kayu), dan floem (pembuluh tapis).
Morfologi Batang
Batang atau caulis merupakan bagian tumbuhan yang menyokong tubuh tumbuhan.
Terdapat berbagai macam batang:
a.    Tumbuhan yang tidak berbatang (planta acaulis).
Tumbuhan tampak tidak memiliki batang karena batang amat pendek
b.    Tumbuhan yang jelas berbatang.
Yaitu tumbuhan yang jelas terlihat batangnya pada umumnya. Batang tumbuhan dapat dibedakan menjadi batang basah (herbaceous), batang berkayu (lignosus), batang rumput (calmus), dan batang mendong (calamus).
Berdasarkan sudut bentuk penampang melintangnya tumbuhan dapat dibedakan menjadi:
a.         Bulat (teres)
b.        Bersegi (angularis) baik itu segitiga (triangularis), atau segi empat (quadrangularis).
c.         Pipih
Permukaan batang dapat dibedakan menjadi :
a.         Licin (laevis), misalnya batang jagung (Zea mays L.),
b.        Berusuk (costatus), misalnya iler (Coleus scutellarioides Benth.),
c.         Beralur (sulcatus), misalnya pada Cereus peruvianus (L.) Haw.
d.        Bersayap (alatus), misalnya pada ubi (Dioscorea alata L.)
            Selain dari itu permukaan batang dapat pula :
e.         Berambut (pilosus), misalnya pada tembakau (Nicotiana tabacum L.),
f.         Berduri (spinosus), misalnya pada mawar (Rosa sp),
g.        Memperlihatkan bekas-bekas daun, misalnya pada kelapa (Cocos nucifera L.),
h.        Memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu, misalnya nangka (Artocarpus integra Merr.).
i.          Memperlihatkan banyak lentisel, misalnya pada sengon (Albizzia stipulate Boiv.),
j.          Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak (bagian kulit yang mati) seperti terlihat pada jambu biji (Psidium guajava L.).
4)  Arah tumbuh batang
Berdasarkan arah tumbuhnya batang dibedakan menjadi:
a.         Tegak lurus (erectus),
b.        Menggantung (dependens, pendulus),
c.         Berbaring (humifusus),
d.        Menjalar atau merayap (repens),
e.         Serong ke atas atau condong (ascendens),
f.         Mengangguk (nutans),
g.        Memanjat (scandens),
h.        Membelit (volubilis), membelit ke kiri (Sinistrorsum volubilis) maupun membelit ke kanan (Dextrorsum volubilis).
5)  Percabangan pada batang
Cara percabangan biasanya dibedakan 3 macam, yaitu cara percabangan monopodial, percabangan simpodial, dan percabangan menggarpu atau dikotom.
Cabang-cabang dapat dibedakan seperti di bawah ini:
a.   Geragih (flagellum, stolo),
b.   Wiwilan atau tunas air (virga singularis),
c.    Sirung panjang (virga),
d.    Sirung pendek (virgula atau virgula sucrescens).
Berdasarkan pada besar kecilnya sudut ini arah tumbuh cabang dapat dibagi menjadi:
a.    Tegak (fastigiatus),
b.   Condong ke atas (patens),
c.    Mendatar (horizontalis),
d.    Terkulai (declinatus),
e.     Bergantung (pendulus).
Tumbuhan seringkali dibedakan menurut panjang atau pendek umurnya, yaitu:
1. Tumbuhan annual (annuus), tumbuhan umur pendek
2. Tumbuhan biennial (biennis), yaitu tumbuhan berumur dua tahun.
3. Tumbuhan menahun atau tumbuhan keras, yaitu tumbuhan yang umurnya bertahun-tahun.
6)  Modifikasi batang

Beberapa modifikasi batang antara lain stolon/geragih, rhizoma/rimpang, umbi batang, umbi lapis, kormus, umbi sisik, dan umbi semu.

Minggu, 07 September 2014

Makalah sistem integumen/kulit (mata kuliah Anatomi Perbandingan Hewan)

BAB 1
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
      Sistem integumen/ sistem penutup tubuh (covering) adalah suatu sistem penyusun tubuh suatu makhluk hidup yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Fungsinya antara lain sebagai pelindung, penerima rangsangan dari luar /eksteroreseptor, respirasi, ekskresi, termoregulasi dan osmoregulasi /homeostatis.
Fungsi lain dari sistem integumen diantaranya :
1. Sebagai tempat cadangan makanan. Lemak pada hewan yang hidup di daerah 4 musim.
2. Sebagai alat nutrisi / kelenjar susu, pada mammalia. 
3. Sebagai alat gerak, sayap pada burung, sirip pada ikan,selaput renang pada katak. 
4. Sebagai tempat pembentukan vitamin D.
Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal dari bahasa Latin "integumentum", yang berarti "penutup".
        Secara ilmiah kulit adalah lapisan terluar yang terdapat di luar jaringan yang terdapat pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh, kulit merupakan organ yang paling luas permukaan yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia.
Cahaya matahari mengandung sinar ultra violet dan melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh misalnya menjadi pucat, kekuning-kunigan, kemerah-merahan atau suhu kulit meningkat.Ganguan psikis juga dapat mengakibatkan kelainan atau perubahan pada kulit misanya karna stres, ketakutan, dan keadaan marah akan mengakibatkan perubahan pada kulit wajah.

I.2 RUMUSAN MASALAH
            Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem integumentum?
2.      Apa fungsi dari kulit?
3.      Bagaimana perbandingan susunan jaringan kulit hewan?
4.      Bagaimana struktur epidermis dan dermis?
5.      Bagaimana bentuk-bentuk keratin?
6.      Apa saja macam-macam sisik?
7.      Bagaimana peranan bulu, rambut, kelenjar kulit (chromatophor)?
I.3 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui pengertian integumentum.
2.      Mengetahui fungsi kulit.
3.      Mengetahui perbandingan susunan jaringan kulit hewan.
4.      Mengetahui struktur epidermis dan dermis.
5.      Mengetahui bentuk-bentuk keratin.
6.      Mengetahui macam-macam sisik.
7.      Mengetahui bulu, rambut, kelenjar kulit (chromatophor).










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    PENGERTIAN INTEGUMENTUM
Integumen merupakan suatu sistem yang sangat bervariasi. Pada sistem ini terdapat sejumlah organ ataupun struktur tertentu dengan fungsi yang bermacam-macam. Sistem integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivatnya.
Kulit yang sebenarnya yaitu lapisan penutup yang umumnya terdiri dua lapisan utama, letaknya sebelah luar dari jaringan ikat kendur yang meliputi otot dan struktur permukaan lain. Sedangkan derivat integumen yaitu struktur tertentu yang secara embriogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit sebenarnya. Struktur ini dapat berupa struktur yang lunak, seperti kelenjar eksresi, tetapi dapat juga berupa struktur keras dari kulit ini, dinamakan eksoskelet.
Sehubungan dengan bervariasinya integumen pada vertebrata khusunya ikan, maka fungsinya pun bermacam-macam pula, antara lain : pelindung terhadap gangguan mekanis, fisis, organis atau penyesuaian diri terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk pelindung terhadap hewan lain yang merupakan musuhnya.
Kulit juga digunakan sebagai alat ekskresi dan osmoregulasi dan sebagai alat pernapasan pada beberapa jenis ikan tertentu. Beberapa alat lain yang terdapat dalam kulit sebagai alat untuk mempertahankan diri ataupun menyerang mangsa adalah kelenjar racun, pewarnaan, sumber cahaya, kelenjar mucus (lendir) yang membuat tubuhnya licin dan menghasilkan bau khas sebagai alat komunikasi kimiawi.
B.     FUNGSI KULIT
Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi (perlindungan), absorpsi ,ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D.
1. Kulit sebagai pelindung
Kulit memiliki lapisan kulit yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dari tiap bagian lapisan kulit terdalam sampai luar, seperti :
·         Sel keratin
·         Lipid
·         Sebum
·         Pigmen melanin
Sel keratin berfungsi melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit.
Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi, selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit.
Sebum yang berminyak yang berasal dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi untuk membunuh bakteri di permukaan kulit. Dengan adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
Pigmen melanin yang berfungsi untuk melindungi kulit efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan. Pigmen melanin merupakan lapisan kulit yang berfungsi sebagai pemberi dan perubahan warna kulit. Usaha untuk mencegah kulit terpapar pancaran sinar matahari secara berlebihan dapat berupa menggunakan handbody lotion karena pigmen kulit mudah sekali berubah.
Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Sel imun yang pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans.
2. Fungsi absorpsi
Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl4, dan merkuri. Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat peradangan.
Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar.
3. Fungsi ekskresi
Kulit juga berfungsi sebagai tempat pembuangan suatu cairan yang keluar dari dalam tubuh beruoa keringat dengan perantara 2 kelenjar keringat yang dimiliki, yakni kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
  1. Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin.
  1. Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 ml air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Bagi seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 ml keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif bekerja di luar ruangan akan menghasilkan kelenjar keringat yang lebih terbuka sehingga keringat yang dikeluarkan lebih banyak dari mereka yang bekerja di dalam ruangan. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.
4. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung syaraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.
5. Fungsi sebagai pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)
Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua cara yaitu pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh.
6. Fungsi pembentukan vitamin D
Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah.
Tubuh memang mampu menghasilkan vitamin D dengan sendirinya tetapi masih belum mampu memenuhi kebutuhan tubuh secara menyeluruh sehingga pemberian vitamin D secara buatan atau yang dapat diperoleh dari sumber makanan, buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung vitamin D masih tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.
C.    STRUKTUR SUSUNAN KULIT
Pada hewan vetebrata, terdapat beberapa perbedaan dalam susunan kulit. Maka, dapat diperbandingkan diantaranya dari Pisces, Amphibi, Reptil, Aves dan mamalia (manusia sebagai contohnya) sebagai berikut:
1.      Kulit Pisces
 Kulit ikan terdiri at as lapisan epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis. Lapisan epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Lapisan dermis berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit lainnya.
Lendir - Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam epidermis. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu, misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada saat atau keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang dengan lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi sebagai lapisan semipermeable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit.
Pada beberapa ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan, misalnya ikan paru-paru (Protopterus) yang menanamkan diri pada lumpur selama musim panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba. Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar, misalnya anggota dari genus Trichogaster.
Sisik - Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitif, sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering diistilahkan sebagai rangka dermis.  Di samping ikan bersisik terdapat pula ikan yang sama sekali tidak bersisik, ditemukan pada ikan lajur (Trichiurus, Lepturancanthus, Demissolinea), ikan subordo Siluroidea (Pegasius, Clarias, Fluta alba). Pisces tersebut memiliki lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin sebagai suatu kompensasi dari tidak terdapatnya lendir pada tubuhnya.
            Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja. Namun adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat (Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil dan dilapisi lendir yang tebal.
  1. Kulit Amfibi
Pada amfibi, kulit merupakan organ yang penting. Kulit katak memiliki sifat permeabilitas, dimana air dan gas dapat “keluar-masuk”. Kulit katak juga berfungsi sebagai alat pernafasan dan harus lembab sehingga tidak kekeringan. Oleh karena itu katak harus mengembangkan adaptasi yang berhubungan erat dengan sifat dari kulit mereka. Untuk mengurangi kemungkinan kulit mengering maka adaptasi yang dilakukan antara lain:
1.  Merapatkan tubuh untuk mengurangi luas permukaan yang bisa mongering,
2.  Hidup dekat badan air,
3.  Berlindung di tumbuhan teduh atau permukaan batu,
4.  Menutupi kulit dengan bahan licin dan
5.  Masuk ke dalam tanah. Seperti juga pada beberapa jenis reptil (yang terlihat jelas adalah ular) yang mengelupaskan kulitnya maka pada waktu-waktu tertentu katak juga akan mengelupaskan kulit bagian atas (stratum corneum) secara berkala, terutama saat tumbuh. Kebanyakan dari jenis amfibi akan memakan kulit lamanya, yang merupakan sumber air dan unsur hara. Kulit yang lemas sebagai penutup tubuh berfungsi menutupi tubuh terhadap gangguan yang bersifat  fisis  dan pathologis. Disamping itu sebagai alat untuk mengisap air karena katak tidak minum.
Kulit tersusun atas epidermis, dermis yang terbagi atas jaringan lain. Pada epidermis sebelah bawah merupakan lapisan germ yang selalu menghasilkan lapisan jangat yang setiap waktu bisa terkelupas. Tiap bulan selama musim hujan di bsawah lapisan jangat baru, sehingga setiap waktu lapisan jangat yang lama terlepas sudah siap penggantinya. Pada dermis terdapat jaringan ikat, di sebelah luar jaringan tersebut terdapat jaringan seperti karet busa yang mengandung banyak kelenjar dan pigmen. Bagian sebelah dalam dari dermis terdapat  saraf dan pembuluh darah yang mempunyai peranan penting  dalam proses pernafasan melalui kulit. Kelenjar kulit  menghasilkan sekresi yang berupa cairan untuk membasahi kulit luar. Kelenjar kulit terbagi atas 2 yaitu:
1.        Glandulae mucosa (kelenjar lendir) yang menghasilkan lendir bening untuk memudahkan katak melepaskan diri bila ditangkap.
2.        Glandulae toxicon (kelenjar racun) yang menghasilkan zat racun yang pada tingkat tertentu dapat secara efektif mematikan hewan lain.
Dalam kulit terdapat butir-butir pigmen pada epidermis dan sel pigmen pada dermis. Beberapa jenis katak mempunyai kelenjar beracun (glanular gland) pada kulit yang pada saat terganggu akan mengeluarkan cairan berwarna susu ataupun bening (kadang-kadang berbau dan lengket) yang bersifat racun yang secara kimiawi terdiri dari bicyclic dan steroid alkaloid. Kelenjar ini biasanya terkonsentrasi pada kepala atau pada bintil-bintil di sepanjang tubuh dan disebuat sebagai kelenjar paratoid.  Jenis-jenis katak dari Amerika Selatan memiliki racun yang sangat kuat yang dapat mematikan manusia. Katak Dendrobates memiliki warna yang indah sebagai “tanda” bahwa mereka beracun. Hasil penelitian menunjukan bahwa racun ini sebagian besar berasal dari serangga yang dimakan mereka, oleh karena itu katak-katak Dendrobatidae yang ditangkarkan dan diberi makana biasa akan kehilangan daya racunnya.  Racun kodok umumnya memiliki kandungan kimiawi berupa Biogenic amines yaitu epinephrine, nor epinephrine, dopamine, epinine, indolealkylamines yang dapat mengakibatkan halusinasi dan melembutkan otot.
3.       Kulit Reptil
            Kulit/Integument pada Reptilia umumnya tidak mengandung kelenjar keringat. Integument adalah jaringan penutup permukaan, seperti kulit dan mukosa. Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Pada calotes (bunglon) integument mengalami modifikasi warna. Perubahan warna ini dikarenakan adanya granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar karena pengaruh yang bermacam-macam. Pada calotes (bunglon) perubahan ini relatif cepat, karena selalu dibawah kontrol sistem nervosum outonomicum.
Untuk mempertahankan diri dari mangsa dan penyakit ataupun memudahkan menangkap mangsa, reptil mengembangkan berbagai pertahanan diri.  Pewarnaan berfungsi baik sebagai kamuflase maupun peringatan terhadap predator potensial atas keberadaan racun. Secara morfologi, bentuk dan warna yang menyerupai lingkungan sekitar menyulitkan predator memangsa mereka. Kulit amfibi memiliki kelenjar mucus. Sekresi mucus membuat kulit tetap lembab, mencegah masuknya bakteri dan pathogen lainnya.
Kulit reptilia menunjukkan adaptasi untuk membuat kulit menjadi kedap air dengan terbentuknya penutup tubuh berupa sisik tanduk. Hubungan antara sisik berupa daerah-daerah dimana bahan tanduk tipis dan dapat melipat. Pada lepidosauria seluruh generasi epidermis menyilih menjadi satu unit. Dalam stadium istirahat, epidermis terdiri atas stratum germinativum dan suatu generasi epidermis luar yang khas terdiri atas 5 lapisan. Lapisan ini dari luar ke dalam mula-mula tebal dengan sel-sel yang menanduk oleh B-keratin. Lapisan permukaan mempunyai duri-duri yang mikroskopis. Lapisan ini  disebut oberhautchen. Di bawah lapisan B-keratin terdapat lapisan tengah, kemudian diikuti suatu lapisan yang cukup tebal dari bahan yang lepas-lepas, mati, tidak berintiserta  mengandung a-keratin. Di bawah lapisan ini terdapat 2 lapisan sel hidup, yaitu suatu lapisan yang nantinya akan termasuk a-keratin dan suatu lapisan dalam yang nantinya menjadi jernih dan menyebabkan pemisahan dengan lapisan yang akan menyilih. Pada akhir stadium istirahat, epitel germinal secara cepat berproliferasi untuk membuat lapisan-lapisan generasi epidermis dalam. Bila generasi epidermis dalam ini menjadi dewasa, lapisan tersebut akan memisahkan diri dari lapisan yang paling dalam dari generasi epidermis luar dan penyilihan dapat berlangsung.
Lempeng keratin pada permukaan luar suatu sisik datar yang besar disebut skutum (scute). Skutum buaya dan kura-kura tidak pernah ditanggalkan. Pertumbuhan skutum berlangsung dengan menambah bahan keratin pada seluruh permukaan dalam skutum. Setiap gelombang pertumbuhan terentang hingga di luar batas skutum yang lama, membentuk cincin konsentris pada batok kura-kura (turtle shell).
4.       Kulit Aves
Tubuh dibungkus oleh kulit yang seolah-olah tak melekat pada otot. Dari kulit akan muncul bulu, yang merupakan hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel, dan sebagi pembungkus tubuh sangat resistensi. Pertumbuhan serupa sisik pada reptil. Pada mulanya bulu sebagai papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar kuncup bulu itu melekuk kedalam  pada tepinya sehingga terbentuk foliculus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Setral kuncup bulu itumempunyai bagian epidermis yang lunak yang mengandung pembuluh darah sebagi pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
            Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi :
·       Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
·       Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail.
·       Plumae, Bulu yang sempurna.
·       Barbae
·       Barbulae, ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.
Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile.
Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi :
·       Tectrices, bulu yang menutupi badan.
·       Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi.
·       Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
·       remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia.
·       Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
·       Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder daerah siku.
·       Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
·       Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari
Bentuk bulu ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan berujung runcing.
Warna bulu dihasilkan oleh butir pigmen, dengan difraksi dan refleksi cahaya oleh struktur bulu atau oleh pigmen dan struktur bulu. Pigmen pokok yang menimbulkan warna pada bulu adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid sering disebut dengan lipokrom yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam metanol, eter atau karbon disulfida. Karotenoid terbagi menjadi 2, yaitu zooeritrin (animal red) dan zoosantin (animal yellow). Pigmen melanin terklarut dalam asam. Butir-butir eumelanin beraneka macam yaitu dari hitam sampai coklat gelap. Feomelanin yaitu hampir tanpa warna hingga coklat kemerahan.
            Bulu-bulu burung sebenarnya tidak merata, tetapi dirancang pada bidang-bidang terbatas yang disebut pterilae dan ada bidang kecil yang tidak ditumbuhi bulu disebut apterile. Pengecualian pada penguin dan burung kiwi yang bulunya menutupi hampir sebagian besar tubuhnya. Bulu burung dapat dinamai sesuai dengan bidangnya berada, yaitu:
- capital tract yaitu bulu yang menutup bagian atas, samping dan belakang kepala dan terus ke pterilae berikutnya.
- Spinal tract, bulu yang memanjang dari atas leher ke punggung terus ke dasar ekor dan bisa berlanjut atau terpisah ditengah.
- Ventral tract, berawal diantara cabang rahang bawah dan memanjang turun ke sisi ventral leher. Biasanya bercabang menjadi dua bidang lateral melewati sepanjang sisi tubuh dan berakhir disekitar anus. Bagian apterilae dadabawah dan perut beberapa burung, kaya pembuluh darah selama bersarang dan merupakan daerah mengeram (brood patch). Pada saat mengeram bulu pada brood patch akan rontok dan kulitnya tipis.
- Humeral tract yaitu sepasang pterilae yang sejajar seperti pita sempit yang meluas ke belakang pada sisi pundak.
- Caudal tract termasuk retrices, bulu pada ekor, biasanya panjang dan kuat.
- Alar tract termasuk berbagai pterilae yang terletak pada sayap. Thumb merupakan sisa jari kedua. Sedangkan bulu yang menutupi permukaan atas dan bawah sayap disebut dngan covert dan bulu pada aksial sayap disebut aksillaria.
- Femoral tract, bulu yang meluas sepanjang permukaan luar paha dekat sendi lutut ke tubuh.
- Crural tract, bulu yang menyususn sisa bidang bulu lainnya pada kaki
Bulu burung terbentuk dari struktur tak hidup sehingga mudah kusut akibat oksidasi dan gesekan. Bulu-bulu yang telah lama akan lepas secara periodik dan digantikan oleh bulu yang baru. Pelepasan dan pergantian bulu ini disebut dengan molting. Pergantian bulu terjadi pada waktu tertentu dalam satu tahun dan diselesaikan dalam satu periode (selama beberapa minggu).
5.      Kulit Mamalia
Penutup tubuh berupa kulit lunak dan tipis kecuali bagian tertentu mengalami  penebalan dan cornifikasi. Pada umumnya seluruh kulit ditutupi oleh rambut. Pada kulit (integumen) merupakan lapisan terluar tubuh manusia dan pelindung bagian dalam tubuh.
Mamalia memliki integumen yang terdiri dari 3 lapisan: paling luar adalah epidermis, yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya terdiri atas 30 lapis sel yang berfungsi menjadi lapisan tahan air. Sel-sel terluar dari lapisan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis, memiliki ketebalan 15-40 kali dibanding epidermis. Dermis terdiri dari berbagai komponen seperti pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis tersusun atas jaringan adiposa dan berfungsi untuk menyimpan lemak, penahan benturan, dan insulasi. Ketebalan lapisan ini bervariasi pada setiap spesies.
Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu epidermis (lapisan luar/kulit ari), dermis (lapisan dalam/kulit jangat), hipodermis (jaringan ikat bawah kulit):
1) Epidermis.
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum. stratum granulosum, dan stratum germinativum. Stratum korneum tersusun dari sel-sel mati dan selalu mengelupas. Stratum lusidum tersusun atas sel-sel yang tidak berinti dan berfungsi mengganti stratum korneum. Stratum granulosum tersusun atas sel-sel yang berinti dan mengandung pigmen melanin. Stratum germinativum tersusun atas sel-sel yang selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar.
* Stratum korneum, merupakan lapisan zat tanduk, mati dan selalu mengelupas.
* Stratum lusidium, merupakan lapisan zat tanduk
* Stratum granulosum, mengandung pigmen
* Stratum germonativum, selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar
2) Dermis
Dermis terletak di bawah epidermis. Lapisan ini mengandung akar rambut, pembuluh darah, kelenjar, dan saraf. Kelenjar yang terdapat dalam lapisan ini adalah kelenjar keringat (glandula sudorifera) dan kelenjar minyak (glandula sebasea). Kelenjar keringat menghasilkan keringat yang di dalamnya terlarut berbagai macam garam. terutama garam dapur. Keringat dialirkan melalui saluran kelenjar keringat dan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui poripori. Di dalam kantong rambut terdapat akar rambut dan batang rambut. Kelenjar minyak berfungsi menghasilkan minyak yang berfungsi meminyaki rambut agar tidak kering. Rambut dapat tumbuh terus karena mendapat sari-sari makanan pembuluh kapiler di bawah kantong rambut. Di dekat akar rambut terdapat otot penegak rambut.
* Akar rambut
* Pembuluh darah
* Syaraf
* Kelenjar minyak (glandula sebasea)
* Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
* Lapisan lemak, terdapat di bawah dermis yang berfungsi melindungi tubuh dari  pengaruh suhu luar
3) Hipodermis
Hipodermis terletak di bawah dermis. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh.
D.    EPIDERMIS DAN DERMIS

Gambar 2.1
Kulit tersusun atas lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan hipodermis :
1) Epidermis
Epidermis merupakan lapisan teratas pada  kulit manusia dan memiliki tebal yang  berbeda-beda: 400-600 μm untuk kulit  tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki)  dan 75-150 μm untuk kulit tipis (kulit  selain telapak tangan dan kaki, memiliki rambut). Selain sel-sel epitel, epidermis  juga tersusun atas lapisan: Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan  melanin melalui proses melanogenesis. Sel Langerhans, yaitu sel yang merupakan  makrofag turunan sumsum tulang, yang  merangsang sel Limfosit T, mengikat,  mengolah, dan merepresentasikan antigen  kepada sel Limfosit T. Dengan demikian, sel  Langerhans berperan penting dalam imunologi kulit. Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai  mekanoreseptor sensoris dan berhubungan  fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.
Epidermis yang merupakan lapisan terluar terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, dan stratum germinativum. Stratum korneum tersusun dari sel-sel mati dan selalu mengelupas. Stratum lusidum tersusun atas sel-sel yang tidak berinti dan berfungsi mengganti stratum korneum. Stratum granulosum tersusun atas sel-sel yang berinti dan mengandung pigmen melanin. Stratum germinativum tersusun atas sel-sel yang selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar.
2) Dermis
Dermis yaitu lapisan kulit di bawah  epidermis, memiliki ketebalan yang  bervariasi bergantung pada daerah tubuh  dan mencapai maksimum 4 mm di daerah punggung. Dermis terdiri atas dua lapisan  dengan batas yang tidak nyata, yaitu stratum papilare dan stratum reticular. Stratum papilare, yang merupakan bagian  utama dari papila dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel mast, makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi). Stratum retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun atas jaringan ikat padat tak teratur.
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung syaraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh.
3) Hipodermis
Hipodermis terletak di bawah dermis. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh.
E.     BENTUK-BENTUK KERATIN
Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit.
Keratinisasi merupakan suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel yang membelah. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu seterusnya. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0,1 mm. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus, seperti pada abrasi atau terbakar, maka sel-sel basal akan membelah lebih cepat. Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh hormon epidermal growth factor (EPF).
Di dalam kulit serta apendiksnya terdapat dua macam keratin, yaitu keratin lunak dan keratin keras. Keratin lunak selain terdapat pada folikel rambut juga terdapat di permukaan kulit. Keratin lunak dapat diikuti terjadinya pada epidermis yang dimulai dari stratum granulosum dengan butir-butir keratohyalinnya, kemudian sel-sel menjadi jernih pada stratum lucidum dan selanjutnya menjadi stratum korneum yang dapat dilepaskan. Sedangkan keratin keras terdapat pada cuticula, cortex rambut dan kuku. Keratin keras dapat diikuti terjadinya mulai dari sel-sel epidermis yang mengalami perubahan sedikit demi sedikit dan akhirnya berubah menjadi keratin keras yang lebih homogen. Keratin keras juga lebih padat dan tidak dilepaskan, serta tidak begitu reaktif dan mengandung lebih banyak sulfur.
F.     MACAM-MACAM SISIK
Sisik secara umumnya berarti semacam lapisan kulit yang keras dan berhelai-helai, seperti pada ikan, ular atau kaki ayam. Sisik-sisik pada hewan, secara struktur umumnya merupakan bagian dari sistem integumen, yakni penutup luar tubuh binatang.
A.    Sisik Ikan
Ada beberapa macam sisik ikan yang dikenal, yakni:
1.      Sisik kosmoid (cosmoid
    Sisik kosmoid yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin. Ikan coelacanth memiliki semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
2.      Sisik ganoid 
Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan  suku Lepisosteidae  dan Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoin terletak di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
3.      Sisik plakoid 
Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
4.    Sisik leptoid 
Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).
a)  Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper.
b) Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘modern’ yang memiliki sirip-sirip berduri.
B.       Sisik Reptil
Beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah sikloid (cenderung datar membundar),  granular  (berbingkul-bingkul), dan  berlunas  (memiliki gigir memanjang di tengahnya, seperti lunas perahu). Perbedaan bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada berbagai bagian tubuh reptil biasa digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan tersebut. 

G.    Bulu, Rambut, Kelenjar Kulit (Chromatophor)
·         Bulu
Bulu merupakan hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel, dan sebagai pembungkus tubuh secara resisten. Pada mulanya bulu sebagai papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar kuncup bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk foliculus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedangkan epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral kuncup bulu itu mempunyai bagian epidermis yang lunak yang mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
·         Rambut
Rambut atau sering disebut bulu adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit hewan dan manusia, terutama mamalia. Rambut muncul dari epidermis (kulit luar), walaupun berasal dari folikel rambut yang berada jauh di bawah dermis. Struktur mirip rambut, yang disebut trikoma, juga ditemukan pada tumbuhan.
·         Kelenjar Kulit
Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
a)      Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin.
b)      Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.
Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin:
·           Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah aksila, payudara dan pubis, serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau yang khas. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan luar.
·           Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat di daerah telapak tangan dan kaki. Sekretnya mengandung  air, elektrolit, nutrien organik, dan sampah metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0 – 6.8. Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan, mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin, sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik.
       Kelenjar kulit yang terdapat pada hewan khususnya vetebrata juga dapat terbagi menjadi :
1. Kelenjar lendir (mukus)
Kelenjar lendir dapat dijumpai pada pisces dan amphibi. kebanyakan kelenjar lendir pada ikan bersel tunggal. Lendir membuat suatu lapisan pelindung di permukaantubuh yang berperan untuk mengurangi gesekan tubuh dengan air, serta menghalau mikroorganisme oleh karena itu lendir selalu ditanggalkan dan dibuat baru. Kelenjar lendir pada amphibia bersifat multiseluler dengan bagian sekretorinya terbenam di dalam dermis. Selain itu terdapat pula kelenjar bisa yang disebut kelenjar serous. Kelenjar ini menghasilkan zat-zat toksik untuk menghalau lawannya.
2. Kelenjar bau
Kelenjar ini terdapat misalnya pada kaki kambing, rodentia, karnivora. Pada sigung (skunk) terdapat kelenjar bau di dekat anus, sedangkan pada ular terdapat di dekat kloaka. Fungsi kelenjar bau adalah untuk komunikasi intraspesies, seperti membatasi teritori, untuk menarik pasangan, atau untuk pertahanan.
3. Kelenjar minyak
Kelenjar ini terbatas terdapat pada mammalia dan biasanya berhubungan dengan rambut. Fungsi kelenjar minyak adalah menggetahkan sebum yang berguna untuk melumasi rambut dan lapisan tanduk kulit. Modifikasi kelenjar minyak berupa kelenjar serumen yang terdapat pada telinga luar mammalia. Selain itu, kelenjar tarsal pada kelopak mata sebelah dalam dan kelenjar meiboom pada sudut-sudut mata juga merupakan modifikasi kelenjar minyak. Fungsi kelenjar ini adalah menghasilkan minyak yang menutupi kornea dan berfungsi sebagai pelumas.
4. Kelenjar keringat
Kelenjar ini hanya terdapat pada mamalia. Pada manusia, kelenjar keringat tersebar di seluruh permukaan tubuh, sedangkan pada mamalia lainnya penyebarannya lebih terbatas, misalnya di daerah telinga, bibir, kepala, punggung, jari kaki, telapak kaki, sekitar anus, dan kelenjar susu. Sekret kelenjar keringat bersifat seperti air serta mengandung garam-garam dan urea. Komposisi sekret tersebut berubah-ubah menurut keadaan metabolik hewannya. Evaporasi keringat menyebabkan penyejukan, sehingga membantu memelihara suhu tubuh yang konstan.
5.    Kelenjar susu
Kelenjar susu (glandula mammae) hanya dimiliki oleh mammalia. Kelenjar ini merupakan modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar susu terbentu sepanjang garis susu, yang terentang dari ketiak sampai lipat paha. Berdasarkan wilayah-wilayah tempat kelenjar susu tumbuh, dapat dibedakan kelenjar susu aksila (ketiak), thoraks (dada), abdominal (perut), dan inguinal (lipat paha).







BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
          Kesimpulan yang bisa diambil dari makalah ini adalah :
1.         Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya.
2.         Fungsi-fungsi kulit dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi (perlindungan), absorpsi ,ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D.
3.         Perbandingan susunan kulit pada hewan cukup jelas. Pada pisces terdapat lendir dan sisik. Pada amphibi tersusun atas epidermis, dermis yang terbagi atas jaringan lain seperti kelenjar lendir dan kelenjar racun. Pada kulit reptilia terdapat adaptasi dengan terbentuknya penutup tubuh berupa sisik tanduk. Pada aves kulit terbungkus bulu sebagai hasil pertumbuhan epidermis. Sedangkan pada mamalia (manusia) terdiri atas lapisan epidermis dan dermis.
4.         Kulit tersusun atas lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan hypodermis. Epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidium, stratum granulosum, dan stratum germonativum. Dermis terdiri dari. akar rambut, pembuluh darah, kelenjar, dan saraf.
5.         Keratin berfungsi melindungi kulit dari mikroba, gesekan, panas, dan zat kimia. Terdapat dua macam keratin, yaitu keratin lunak dan keratin keras.
6.         Pada ikan dikenal beberapa macam sisik seperti sisik kosmoid, sisik ganoid, sisik plakoid, sisik leptoid, sisik sikloid, dan sisik ktenoid. Sedangkan beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah sikloid, granular dan berlunas.

7.         Bulu merupakan hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel, dan sebagai pembungkus tubuh secara resisten. Rambut adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit hewan terutama mamalia. Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin.