Sabtu, 29 Maret 2014

Genetika; Lalat Buah Dosophila melanogaster

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN III
LALAT BUAH DROSOPHILA MELANOGASTER
NAMA                               : NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM                                   : H41113504
KELOMPOK                   : V (LIMA) B
HARI/TGL. PERC.         : SENIN/ 24 MARET 2014
ASISTEN                          : RISKY NURHIKMAYANI         
              

LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Drosophila melanogaster (Lalat buah) merupakan sejenis lalat buah yang biasa terdapat di buah-buahan dan biasanya digunakan sebagai objek dalam percobaan genetika karena daur hidupnya sangat cepat. Selain itu, lalat ini sangat  subur yang betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya yang pendek (Kimball, 2001).
Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembangbiak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangkan setiap dua minggu. Karasteristik ini menunjukkan lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2008).
Kebanyakan penemuan di bidang genetika didapatkan melalui penelitian dengan menggunakan lalat tersebut sebagai bahan (Suryo,2004).
Pilihan ini tepat sekali karena pertama, lalat ini kecil sehingga suatu populasi yang besar dapat dipelihara dalam laboratorium. Kedua, daur hidup sangat cepat. Tiap 2 minggu dapat dihasilkan satu generasi dewasa yang baru. Ketiga, lalat ini sangat  subur yang betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi   dalam hidupnya yang pendek itu (Kimball, 2001).
Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Borror, 1992):
Kingdom        : Animalia
Phyllum          : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo               : Diptera
Famili             : Drosophilidae
Genus             : Drosophila
Spesies            : Drosophila melanogaster
Menurut Borror (1992) menyatakan bahwa telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut. Kemudian pada tahap larva terjadi dua kali pergantian kulit dan periode di antara masa pergantian kulit dinamakan stadium instar. Di akhir stadium instar, larva keluar dari media makanan menuju ke tempat yang lebih kering untuk berkembang menjadi pupa.  Tahap pupa berlangsung sekitar 2 hari sampai 4 hari. Lalat dewasa yang baru keluar dari pupa sayapnya belum mengembang, tubuhnya berwarna bening.  Kemudian akan berkembang hingga tahap imago. 
ciri-ciri  morfologi yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara lain (Suryo, 2008) yaitu:
Betina
Jantan
Ukuran tubuh lebih besar dari jantan
Ukuran tubuh lebih kecil dari betina
Sayap lebih panjang dari sayap jantan
Sayap lebih pendek dari pada betina
Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb)
Terdapat sisir kelamin (sex comb)
Ujung abdomen runcing
Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam
Alasan digunakannya Drosophilla melanogaster sebagai bahan penelitian adalah karena lalat ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain (Suryo, 1984):
1.        Mudah diperoleh sehingga tidak menghambat penelitian
2.        Mudah dipelihara pada media makanan yang sederhana, pada suhu kamar dan  didalam botol  susus berukuran sedang
3.        Memiliki siklus hidup pendek (hanya kira-kira 2 minggu) sehingga dalam waktu satu tahun dapat diperoleh 25 generasi
4.        Mempunyai tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan.
5.        Hanya mempunyai delapan kromosom saja, tiga pasang kromosom autosom dan satu pasang kromosom seks.
            Inti sel tubuh lalat buah hanya memiliki 8 buah kromosom saja, sehingga mudah sekali diamati dan dihitung. Delapan buah kromosom tersebut dibedakan atas  (Suryo, 1984) yaitu:
1.        6 buah kromosom (atau 3 pasang) yang pada lalat betina maupun jantan bentuknya sama. Karena itu kromosom-kromosom ini disebut autosom (kromosom tubuh), sisingkat dengan huruf A.
2.        2 buah kromosom (atau 1 pasang) disebut kromosom kelamin (seks kromosom), sebab bentuknya ada yang berbeda pada lalat betina dan jantan.
Kromosom kelamin dibedakan atas suryo:
1.        Kromosom X yang berbentuk batang lurus. Lalat betina memiliki 2 kromosom X.
2.        Kromosom Y yang sedikit membengkok pada salah satu ujungnya. Kromosom Y lebih pendek dari pada kromosom X. Lalat jantan memiliki sebuah kromosom X dan Y. Lalat betina normal memiliki kromosom Y. Lalat betina memiliki 2 kromosom kelamin sejenis maka lalat betina dikatakan homogametik sedangkan jantan bersifat heterogametik
Berhubungan dengan itu formula kromosom untuk lalat buah ialah sebagai berikut:
a.       Lalat betina ialah 3 AAXX (= 3 pasang autosom + 1 pasang kromosom X)
b.      Lalat jantan ialah 3 AAXY (= 3 pasangan autosom + sebuah kromosom X + sebuah kromosom Y).
Dalam keadaan normal, lalat betina membentuk satu macam sel telur saja yang bersifat haploid (3AX). Tetapi lalat jantan membentuk 2 macam spermatozoa yang haploid. Ada spermatozoa yang membawa kromosom X (3AX) dan ada yang membawa kromosom Y (3AY). Apabila sel telur itu dibuahi spermatozoon yang membawa kromosom X, terjadilah lalat betina yang diploid (3AAXX). Tetapi bila sel telur itu dibuahi spermatozoa yang membawa kromosom Y, terjadilah lalat jantan yang diploid (3AAXY). Kadang-kadang diwaktu meosis selama pembentukan sel-sel kelamin, sepasang kromosom kelamin itu tidak memisahkan diri, melainkan tetap berkumpul.  Peristiwa ini disebut “nondisjunction”. Andaikan terjadi nondisjunction selama oogenesis (pembentukan sel telur) akan terbentuk dua macam sel telur, yaitu sebuah sel telur yang membawa dua kromosom X (3AXX) dan sebuah sel telur tanpa kromosom X (3AO) (Suryo, 2008).
Adanya nondisjunction ini tentu saja mengakibatkan terjadinya berbagai macam kelainan dan keturunan yaitu (Suryo, 2008):
1.    Lalat betina super (AAXXX), yaitu apabila spermatozoa membawa kromosom Xmembuahi sel telur yang mempunyai dua kromosom X. Lalat ini tidak sempurna pertumbuhannya, steril, sangat lemah, dan hidup tidak lama.
2.    Lalat AAXXY, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosomY membuahi sel teluryang mempunyai 2 kromosom X. Lalat ini betina subur, tak ada bedanya  dengan lalat beyina biasa. Berarti  kromosom Y pada drosphila tidak memberipengaruh pada seks.
3.    Lalat AAXO, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosom X membuahi sel telurtanpa kromosom X. Lalat ini jantan dan steril
4.    Lalat ginandromorf, ialah lalat yang tubuhnya separuh bersifat betina dan separuhnya bersifat jantan. Untuklalat ini tidak dapat diberikan formulasi kromosomnya
5.    Lalat interseks AAAXX, yaitu lalat yang merupakan campurann antara lalat betina dan jantan, triploid (3n) untuk autosomnya dan memiliki 2 kromosom X, steril.
6.    Lalat jantan super AAAXY, yaitu lalat jantan triploid untuk autosomnya,  sperti halnya  dengan lalat betina super maka pertumbuhannya tidak sempurna, steril, sangat lemah, dan hidup tidaklama.
7.    Lalat dengan kromosom X melekat pada salah satu ujungnya (attached X cromosomes) AAXXY  .lalat ini memiliki fenotip seperti lalat betina normal,tetapi bila diperiksa menggunakan mikroskop maka inti selnya mengandung sepasang kromosom X yang saling melekat pada ujungnya ditambah dengan adanya kromosom Y.
Orang pertama yang menggunakan Lalat buah (Drosophila melanogaster) sebagai objek penelitian genetika adalah Thomas Hunt Morgan yang berhasil menemukan “pautan seks” dan “gen rekombinan”. Ada beberapa keuntungan sehingga lalat buah banyak dijadikan objek untuk kajian-kajian genetik, di antaranya :
1.      Lalat buah (Drosophila melanogaster) mudah dipelihara dalam laboratorium karena makanannya sangat sederhana, hanya memerlukan sedikit ruangan dan tubuhnya cukup kuat.
2.      Pada temperatur kamar (suhu ruangan), Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menyelesaikan siklus hidupnya kurang lebih dalam 12 hari.
3.      Jumlahnya di alam sangat berlimpah dan mudah didapati.
4.      Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menghasilkan keturunan dalam jumlah yang besar.
5.      Jumlah kromosom relatif sedikit, yaitu 4 pasang dan memiliki “Giant Chromosme”. kromosom ini terdapat dalam sel-sel kelenjar ludah yang besarnya 100 kali lipat dari kromosom biasa, sehingga mudah diamati di bawah mikroskop cahaya.
6.      Lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki berbagai macam perbedaan sifat keturunan yang dapat dikenali dengan pembesaran lemah. Lalat buah (Drosophila melanogaster) ini memiliki beberapa jenis mutan (individu yang dihasilkan karena adanya mutasi) yang dapat diamati dengan perbesaran yang lemah pula.
7.      Perkembangan dari siklus hidupnya mudah di amati, karena terjadi di luar tubuhnya mulai dari telur, larva, pupa hingga menjadi dewasa (imago).

Pada percobaan morgan mengenai drosphila melanogaster terdapat  seekor jantan dengan mata putih, dan tidak cemerlang yang menjadi ciri khas spesies itu. Ketika jantan bermata putih ini dikawinkan dengan betina bermata merah, semua keturunannya bermata merah. Ini suatu tanda bahwa  jika sifat mata putih itu ditentukan  oleh sutau gen khusus, maka gen itu bersiifat resesif.  Ketika morgan melakukan persilangan morgan menemukan semua keturunan yang bermata putih itu jantan.  Tidak terdapat seekor betiina pun yang bermata putih. Morgan menyimpulkan bahwa jika diasumsikan bahwa alela yang bersangkutan terletakdikromosom X.  Lalat betina mempunyai 2kromosom X harus homozigot untuk mata putih agar sifat itu dapat  dilihat. Sebaliknya lalat jantan karena hanya memiliki satu kromosomX alela apapun yang terdapat pada kromosom tersebut  akan memperlihatkan sifat itu.  Morgan menamakan sifat menurun demikian itu terpaut X karena gen terletak  pada kromosom X (Kimball, 1990).
Sifat keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka itu ditentukan oleh gen yang terdapat pada autosom. Mempelajari menurunnya warna bunga atau sifat albino pada manusia, keturunan F1 maupun F2 tidak pernah disebut jenis kelaminnya. Terdapat juga gen- gen yang terdapat pada kromosom kelamin. Gen ini disebut gen- gen terangkai kelamin. Peristiwanya disebut rangkai kelamin atau dalam bahasa inggrisnya “sex linkage”.(Suryo, 1994).
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003).
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003).
 Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror, 1992).
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia, 2003).
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi.Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashburner, 1985).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa.
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985).
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003).
Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan.
Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio. (Borror, 1992)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut:
Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.
            Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks, 1972).

Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.
Intensitas Cahaya
Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap.http://www.gen.cam.ac.uk/Research/ashburner
DAFTAR PUSTAKA
(Ashburner, Michael. 2002. Drosophila Genomics and Speciationhttp://www.gen.cam.ac.uk/Research/ashburner. diakses tanggal 14 Maret 2010
     Borror.J.D,Triplehorn. 1992Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
       Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Bandung : Jurusan Biologi Universitas Padjdjaran.

    Suryo, 2005. Genetika Strata 1.Yogyakarta: Gajah MAda University Press

Belum selesai diedit laporannya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar