LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN I
INDEKS PERBANDINGAN SEKUENSIAL KEARAGAMAN BENTOS DI
EKOSISTEM PERAIRAN
NAMA
: NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM
: H41113504
KELOMPOK
: V (LIMA) B
HARI/TGL. PERCOBAAN :
SELASA/ 18 MARET 2014
ASISTEN
: MUH. NURDIN
PUBI INDASARI
LABORATORIUM
ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Ekosistem
perairan pesisir di Indonesia merupakan kawasan yang akhir-akhir ini mendapat
perhatian cukup besar dalam berbagai kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan
di Indonesia. Wilayah ini kaya dan memiliki beragam sumber daya alam yang
telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani
(Resosoedarmo, 1993).
Penggunaan bentos sebagai indikator
kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi. Cara ini telah
dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme
tertentu yang hidup di perairan tercemar. Jenis-jenis organisme ini
berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak
tercemar. Kemudian oleh para ahli biologi perairan, pengetahuan ini
dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan
karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan (Resosoedarmo, 1993).
Cairns
et al (1971) mengembangkan suatu metode sederhana, tetapi cukup baik untuk
mengestimasi keanekaragaman biologis secara relatif, yang disebut “Sequential Comparison Indeks” (S.C.I.).
Indeks keragaman ini dalam bahasa Indonesia disebut Indeks Perbandingan Sekuensial (I.P.S.). Menurut ahli tersebut di
atas bahwa indeks ini dapat memenuhi keperluan untuk menilai secara cepat
akibat adanya pencemaran terrhadap ekosistem, misalnya sungai, kolam danau dan
laut. Cara ini tidak memerlukan keterampilan untuk mengidentifikasi hewan-hewan
dalam komunitas, sehingga dapat menghemat waktu dan pekerjaan (Ruslan, 2014).
Untuk
itu, percobaan ini dilakukan agar dapat diketahui keragaman bentos yang menjadi
salah satu indikator pencemaran dalam ekosistem perairan dengan menggunakan metode
Indeks Perbandingan Sekuensial. Pada praktikum ini objek yang diamati adalah
ekosistem di perairan danau Unhas.
I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk mengetahui keragaman bentos dalam
ekosistem perairan berdasarkan Indeks Perbandingan sekuensial.
2. Mengenalkan dan melatih keterampilan
mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan
keragaman bentos dalam perairan.
I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan Indeks Perbandingan
Sekuensial Kearagaman Bentos Di Ekosistem Perairan ini
dilaksanakan pada hari Selasa, 18 Maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA
bertempat di Laboratorium Biologi Dasar,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem merupakan
tingkatan organisasi di alam yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan
kesatuan dari komunitas dengan lingkungannya dan di dalamnya terjadi hubungan
keteraturan. Keteraturan ini terjadi oleh adanya arus siklus materi dan aliran
energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem
itu, yang setiap komponen mempunyai fungsi. Keseimbangan itu tidak bersifat
statis, melainkan dapat berubah-ubah (dinamis), perubahan ini dapat terjadi
secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan manusia (Ruslan, 2013).
Dalam ekosistem
terdapat suatu mekanisme keseimbangan yang dikenal dengan istilah
homeostatis, yaitu kemampuan ekosistem
untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Keseimbangan
ini diatur oleh berbagai fak-tor yang rumit dan di dalamnya termasuk mekanisme
yang mengatur penyimpanan bahan-bahan, pelepasan hara makanan, pertumbuhan
organisme, produksi, dan dekomposisi bahan organik (Ruslan, 2013).
Meskipun suatu
ekosistem mempunyai daya tahan yang besar sekali terhadap perubahan, tetapi
biasanya batas mekanisme homeostatis tersebut dengan mudah dapat diterobos oleh
kegiatan manusia. Sebagai contoh sungai yang menerima limbah dan sampah yang
tidak terlalu banyak, maka sungai dapat menjernih-kan kembali airnya secara
alami, sehingga air sungai dianggap tidak tercemar. Tetapi bila limbah dan
sampah yang masuk itu banyak dan kontinyu, apalagi bila mengandung bahan
beracun, maka batas homeostasis alami sungai akan terlampaui, sehingga mungkin
saja sistem sungai tersebut tidak memiliki lagi sistem homeostasis alami dan
secara permanen airnya berubah atau rusak sama sekali (Ruslan, 2013).
Hewan bentos hidup
relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan,
karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok
hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor
lingkungan dari waktu ke waktu. Karena hewan bentos terus menerus terdesak oleh
air yang kualitasnya berubah-ubah. Diantara hewan bentos yang relatif mudah
diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah
jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini
lebih dikenal dengan bentos (Odum,
1993).
Bentos sering dijadikan
uji parameter terhadap permasalahan lingkungan seperti pencemaran, sebab jenis
biota laut tersebut hidup di dasar laut dan cenderung sangat lambat
pergerakannya dibandingkan jenis lainnya seperti ikan. Disamping itu bentos
sangat sensitif dan peka terhadap suatu perubahan dalam air (Odum, 1993).
Bentos mempunyai
peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.
Montagna menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan
sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari
alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi (Sumarwoto, 1980).
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik
yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber
makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air
yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi
(BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan
substrat dasar (Sumarwoto,
1980).
Berdasarkan kebiasaan hidup organisme dibedakan sebagai berikut (Sumarwoto, 1980):
1. Plankton adalah organisme yang biasanya melayang-layang (bergerak
pasif) mengikuti gerakan aliran air.
2. Nekton adalah hewan yang aktif berenang dalam air. Misalnya,
ikan.
3. Neuston adalah organisme
yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan
air, misalnya serangga air.
4. Perifiton adalah tumbuhan
atau hewan yang melekat atau bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya
keong.
5. Bentos adalah hewan atau tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup
pada endapan. Bentos dapat melekat atau bergerak bebas, misalnya cacing.
Berdasarkan
ukuran tubuhnya bentos dapat dibedakan menjadi makrobentos, mesobentos, dan
mikrobentos. Makrobentos adalah jenis bentos terbesar yang ukuran tubuhnya
lebih besar dari 1,0 mm jenis hewan yang termasuk dalam kelompok ini adalah
mollusca, annelida, crustaceae, beberapa jenis insekta air, dan larva dari
dipteral, odonata dan lain sebagainya (Resosoedarmo,
1993).
Mesobentos adalah jenis bentos
dengan ukuran tubuh antara 0,1 sampai 1,0 mm. kelompok adalah jenis hewan kecil
yang bisa ditemukan di pasir atau di lumpur. Hewan yang termasuk jenis ini
adalah mollusca kecil, cacing kecil, dan cristaceae kecil. Mikrobentos adalah
kelompok bentos yang ukurannya lebih kecil dari 0,1 mm, ini adalah jenis bentos
terkecil yang termasuk di dalamnya adalah protozoa khususnya ciliata (Resosoedarmo, 1993).
Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua
faktor utama yaitu unsur-unsur penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal
ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang membentuk suatu rantai makanan di
dalam perairan tersebut. Faktor lainnya yang menentukan
keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya
baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang
ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam
perairan tersebut (Resosoedarmo,
1993).
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik
yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber
makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air
yang diantaranya (Lakitan, 1987):
·
Suhu
·
Arus
·
Oksigen terlarut (DO)
·
Kebutuhan
oksigen biologi (BOD)
·
Kimia (COD)
·
Kandungan
nitrogen (N)
·
Kedalaman air
·
Substrat
dasar
Zona litoral
memperlihatkan keanekaragaman yang besar dalam kondisi dasar air. Secara
beragam, wilayah di bagi lagi berdasarkan hubungan air atau zone pertumbuhan. Biasanya
daerah pinggiran atau tepi air sampai batas akar tumbuhan dianggap sebagai zone
litoral. Daerah yang memanjang dari batas terendah akar tumbuhan sampai batas
penyusupan sinar matahari dikenal sebagai zone sublitoral. Dengan demikian,
terdapat perbedaan yang cukup besar mengenai pendapat dalam pengkelasan zone
besar. Setiap zone dalam suatu wilayah litoral memerlukan cara penelitian yang
khas dengan menggunakan peralatan yang secanggih mungkin. Berbagai pengambilan
sampel telah dirancang atau di buat tergantung pada sumber (Lakitan, 1987).
Untuk mendapatkan data
kuantitatif maupun kualitatif, mengenai jenis-jenis hewan yang hidup dalam
suatu perairan, hewan tersebut dapat ditangkap dengan mengggunakan kombinasi
bebagai macam cara. Mulai dari penangkapan dengan tangan, pinset, jala, alat
pengeruk (Eickman Grab) maupun alat-alat lainnya (Ruslan, 2014).
Eikman grab digunakan untuk
pengambilan bentos di badan air yang dasarnya berlumpur dan berpasir lunak.
Peterson grab digunakan untuk mengambil bentos di perairan yang dasarnya agak
keras yang terdiri dari lempung, pasir dan batu. Ponar grab digunakan untuk
mengambil bentos di perairan yang agak dalam seperti danau. Prinsip kerja
ketiganya sama yaitu grab dibenamkan ke dasar perairan setelah menyentuh dasar
grab tersebut ditutup dan contoh subtract dapat terambil (Lakitan, 1987).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu botol sampel, Eickman Grab, ayakan,
kaos tangan karet, pinset, nampan, baskom, dan kaca pembesar.
III.2 Bahan
Bahan
yang digunakan yaitu alkohol, 70 %, tissue roll, dan organisme bentos/ sampel.
III.3 Prosedur Kerja
Cara Pengambilan Sampel
Cara
kerja dari pengambilan sampel dengan menggunakan Eikman Grab pada percobaan ini
adalah :
1.
Kedua penutup Eickman Grab dibuka dan
kawatnya dikaitkan pada bagian atas alat tersebut.
2.
Eickman Grab dimasukkan secara vertikal
dan perlahan-lahan ke dalam air sampai menyentuh dasar danau.
3.
Dalam kondisi vertikal lurus serta tali
tidak merenggang, logam pembeban dijatuhkan agar terjadi dorongan yang
menyebabkan Eikman Grab tertutup dan menghimpun lumpur pada dasar peairan
tersebut.
4.
Eikman Crab ditarik perlahan-lahan
keatas dan isinya ditumpahkan ke dalam baskom.
5.
Sampel lumpur yang didapatkan diayak di
atas permukaan air untuk menyisihkan lumpur dan sampah.
6.
Hewan bentos yang ditemukan diseleksi
kemudian dimasukkan dalam botol sampel yang telah dilabeli.
7.
Pengambilan sampel dilakukan kembali di
titik yang berbeda.
8.
Bentos dalam botol sampel
dipisahkan/dicuci dari pasir yang masih terbawa lalu diberikan larutan alkohol.
Cara kerja dari pengambilan sampel dengan menggunakan ayakan (Mess) pada
percobaan ini adalah :
1.
Pada titik yang ditentukan, lumpur
diambil dari dasar danau dengan mengggunakan ayakan
2.
Ayakan diangkat perlahan dan lumpur
diayak di atas permukaan air.
3.
Hasil ayakan dipindahkan ke dalam baskom
untuk memudahkan pengamatan
4.
Hewan bentos yang ditemukan diseleksi
dan dimasukkan pada botol sampel yang telah dilabeli.
5.
Pengambilan sampel dilakukan kembali di
titik yang berbeda.
6.
Bentos dalam botol sampel
dipisahkan/dicuci dari pasir yang masih terbawa lalu diberikan larutan alkohol.
Cara
Pengamatan:
Adapun cara pengamatan
menggunakan metode indeks perbandingan sekuensial adalah:
1.
Sampel diambil
dari botol dan dituangkan ke dalam baskom dan mengambil satu persatu secara
acak dan meletakkannya pada baki sambil disusun.
2.
Dari sampel
tersebut ditentukan ada berapa spesies yang terdapat di dalamnya
3.
Tiap-tiap jenis diberi nama/kode dengan
berdasarkan sifat-sifatnya yang sama atau berbeda. Jika ada
bentos yang sama jenisnya dianggap satu run.
4. Lalu sampel
yang sudah diambil ditentukan jumlah taksa, run dan spesimennnya.
5.
Penghitungan
dilakukan untuk menentukan berapa indeks perbandingan sekuensialnya.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
IV.1
Hasil
IV.1.1
Tabel Pengamatan untuk Eikman Ayakan
A A
B A A A D D C A D B
A A A A
D B A D C C C B B
D
C C A A B A C D D D A A
C D D A B D D D C A B A
D D D D D D D D
D D
B A C
D D D D D D D D
D D D D D
B
D D D D D D D D C D D D D D D C D D
Jumlah Run : 44
Jumlah
Taksa : 4
Jumlah Spesimen: 95
IV.1.2 Tabel Pengamatan untuk Eikman
Grab
A
B C A A A A B A A A B C
B B
A B B A A B B A A B C
A
B B B A B A A B B A B A
Jumlah
Taksa : 3
Jumlah Run : 24
Jumlah Spesimen
: 39
IV.1.3 Tabel Petunjuk Tingkat
Pencemaran
|
Derajat
Pencemaran
|
S.C.I. / I.P.S.
|
|
Belum tercemar
|
>2
|
|
Tercemar ringan
|
1,6 – 2,6
|
|
Tercemar sedang
|
1,0 – 1,5
|
|
Tercemar berat
|
1
|
IV.1.4 Analisis Data
A.
Menggunakan ayakan
N
Runs : 24
N Taksa :
3
N Spesimen :
39
S.C.I. =
=
=
1,846 (Tercemar ringan)
B.
Menggunakan Eikman Grab
N
Run : 44
N Taksa : 4
N Spesimen : 95
S.C.I. =
=
=
1,853 (Tercemar ringan)
IV.2
Pembahasan
Pada percobaan Indeks
Perbandingan Sekuensial Keragaman Bentos di Ekosistem Perairan ini dilakukan pengambilan sampel dengan dua cara,
yaitu dengan menggunakan ayakan dan Eickman Grab.
Sampel yang diperoleh dengan menggunakan ayakan
yaitu berjumlah 95 spesimen, dengan jumlah runs 44 dan jumlah taksa 4. Setelah dilakukan analisis data maka Indeks
Perbandingan Sekuensialnya adalah 1,846 dan berdasarkan
patokan derajat pencemaran, daerah tempat pengambilan sampel termasuk kategori tercemar ringan.
Pada pengambilan sampel dengan cara Eickman crab
diperoleh jumlah specimen 39, dengan jumlah runs 24 dan jumlah taksa 3. Setelah diuji dengan menggunakan Indeks
Perbandingan Sekuensial, hasil yang diperoleh yaitu 1,853 dan
ini berarti tempat pengambilan sampel tersebut tergolong tercemar ringan.
Klasifikasi
Derajat Pencemaran dan Interpretasi Diversitas Komunitas dengan menggunakan Indeks
Perbandingan Sekuensial.
|
Derajat pencemaran
|
Diversitas Komunitas (S.C.I)
|
DO (mg/L)
|
BOD (mg/L)
|
|
Belum tercemar
Tercemar ringan
Tercemar sedang
Tercemar berat
|
> 2
2,0 - 1,6
1,5 - 1,0
< 1
|
> 6,5
4,5 - 6,5
2,0 - 4,4
< 2
|
< 3
3 - 4,9
5 - 15
> 15
|
Artinya dari kedua alat
yaitu ayakan dan Eikman Grab sama-sama menunjukkan bahwa kondisi perairan danau
Unhas tercemar ringan. Akan tetapi, ayakan lebih bagus dalam mengambil sampel
karena jumlah bentos yang didapatkan menggunakan ayakan lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah bentos yang didapatkan menggunakan Eikman Grab.
Meskipun ada pula kemungkinan perbedaan jumlah tersebut diakibatkan karena
memang jumlah bentos di perairan lebih banyak di pinggir danau daripada bagian
tengahnya disebabkan bentos membutuhkan cahaya matahari untuk aktivitas dan
metabolismenya.
Sampling bertempat
di danau Unhas dan dilakukan sebanyak dua kali sampling. Danau Unhas yang
ditempati adalah wilayah yang berdekatan dengan gedung IPTEKS dan kondisi
airnya cukup keruh. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pencemaran
danau yang merupakan tempat pembuangan limbah RS Wahidin dan RS Unhas.
BAB
V
PENUTUP
V.
1 Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari percobaan ini adalah:
1. Berdasarkan Indeks Perbandingan sekuensial keragaman
bentos dalam ekosistem perairan danau Unhas adalah 1,8 yang berarti danau Unhas
tergolong tercemar ringan.
2. Alat yang digunakan dalam
percobaan yang berhubungan dengan keragaman bentos dalam perairan adalah
eickman grab dan ayakan yang berfungsi untuk mengambil spesimen dari dasar
perairan.
V.2
Saran
Adapun saran untuk percobaan ini akan
lebih baik jika dapat mengusahakan pembelian alat khususnya Eikman Grab agar
tidak harus menunggu giliran dengan jumlah 6 titik yang dapat mengulur waktu
pengambilan sampel.
DAFTAR
PUSTAKA
Lakitan,
B. 1987. Bentos
Sebagai Indikator Kualitas Perairan Pesisir. Grafindo. Jakarta.
Odum, Eugene.
1993. Dasar-Dasar Ekologi.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Resosoedarmo. 1993. Polusi
Domestik dan Kualitas Air. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sumarwoto, 1980. Ekologi Perairan.
Universitas Padjajaran, Bandung.
Umar, M. Ruslan. 2013. Modul Ekologi Umum. Jurusan Biologi, Universitas Hasanuddin.
Makassar. http://lms.unhas.ac.id/. Diakses pada 10 Februari 2014 pukul 22:09 WITA. Makassar.
Umar, M. Ruslan.
2014. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Jurusan Biologi, Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar