LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN I
IMITASI PERBANDINGAN GENETIS
NAMA
: NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM
: H41113504
KELOMPOK
: V (LIMA) B
HARI/TGL. PERCOBAAN
: KAMIS/ 6 MARET 2014
ASISTEN
: RISKY NURHIKMAYANI

LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam sejarah
perkembangan ilmu genetika, Gregor Mendel dikenal sebagai orang pertama yang
memperkenalkan suatu sistem sederhana untuk menganalisis sifat-sifat genetik.
Prinsip yang digunakan oleh Mendel cukup sederhana yaitu dengan membuat
persilangan antar bunga Pisum sativum yang
mempunyai fenotipe berbeda-beda. Warna bunga dan kenampakan biji yang muncul
dari hasil persilangan tersebut kemudian dijadikan dasar untuk melakukan
analisis matematik (Yuwono, 2005).
Melalui ekperimen
yang dilakukannya, Mendel kemudian mengajukan konsep mengenai segregasi.
Prinsip ini pada dasarnya mengatakan bahwa hanya satu gen yang diturunkan dari
sel induk ke sel keturunannya. Prinsip kedua yang dikemukakan oleh Mendel
adalah prinsip pemisahan dan pengelompokan secara bebas (independent assortement). Prinsip ini pada dasarnya menyatakan
bahwa segregasi suatu pasangan sifat berlangsung secara independen satu sama
lain (Yuwono, 2005).
Prinsip-prinsip yang
dikemukakan oleh Mendel kemudian dipergunakan sebagai dasar analisis genetik
pada jasad-jasad hidup yang lain, misalnya untuk mengetahui ada atau tidaknya
tautan gen (gene linkage) antara
gen-gen pada jasad renik. Perlu dipahami bahwa hukum mendel yang kedua yaitu
pengelompokan secara bebas, hanya berlaku untuk lokus-lokus yang terletak pada
kromosom bukan homolog. Seringkali didapatkan penyimpangan dari hukum Mendel
pada hasil persilangan suatu jasad karena adanya efek tautan gen. Meskipun
demikian, prinsip-prinsip seperti yang dikemukakan oleh Mendel masih dapat
diterapkan sebagai dasar analisis genetik (Yuwono, 2005).
Oleh karena itu,
dalam percobaan ini akan dilakukan pengujian
untuk melihat penyimpangan yang terjadi pada hukum mendel.
1.2
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen
yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak atau random.
I.3
Waktu dan Tempat
Percobaan Imitasi Perbandingan Genetis ini
dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA
bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Genetika adalah ilmu yang
mempelajari sifat -sifat keturunan
(hereditas). Orang yang dianggap sebagai bapak
genetika adalah Gregor Mendel. Prinsip dasar hereditas ditemukan oleh Gregor Mendel
dengan membudidayakan kacang ercis (Pisum
sativum) sebagai objek penelitian (Harahap,
2012).
Pada
tahun 1866 Mendell melaporkan hasil penyelidikannya selama bertahun-tahun atas kacang
ercis/kapri (Pisum sativum). Untuk mempelajari
sifat menurun Mendell menggunakan kacang ercis ini dengan alasan antara lain (Adityno,
2012):
- memiliki pasangan sifat yang menyolok
-
bisa melakukan penyerbukan sendiri
-
segera menghasilkan keturunan atau umurnya pendek
-
mampu menghasilkan banyak keturunan, dan
-
mudah disilangkan
Ketika Mendel
menyilangkan tanaman berbunga ungu dan tanaman berbunga putih maka semua
keturunan memiliki bunga ungu. Tidak ada pencampuran sifat dalam percobaan
Mendel. Mendel harus muncul dengan teori pewarisan untuk menjelaskan hasil itu.
Ia mengembangkan teori yang disebut hukum segregasi (Harahap, 2012).
Hukum Mendell I dikenal juga dengan Hukum
Segregasi menyatakan: “Pada
pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam
dua sel anak”. Hukum ini
berlaku untuk persilangan monohibrid yaitu persilangan dengan satu sifat beda. Contoh
dari terapan Hukum Mendell I adalah persilangan monohibrid dengan dominansi. Persilangan dengan dominansi adalah
persilangan suatu sifat beda dimana satu sifat lebih kuat daripada sifat yang
lain. Sifat yang kuat disebut sifat dominan dan bersifat menutupi, sedangkan
yang lemah/tertutup disebut sifat resesif (Adityno, 2013).
Hukum Mendell II dikenal
dengan Hukum Independent Assortment, menyatakan: ‘Pada
pembentukan gamet, apabila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua
pasang sifat atau lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak
bergantung pada sifat pasangan lainnya’. Hukum ini berlaku untuk
persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih. Contoh: disilangkan ercis
berbiji bulat warna kuning (dominan) dengan ercis berbiji kisut warna hijau
(resesif) (Adityno, 2013).
Faktor keturunan pada setiap individu terdapat secara
berpasangan dalam bentuk unit. Mendel berpendapat bahwa pasangan tersebut
secara terpisah dan secara seimbang dalam bentuk komponen reproduksi jantan dan
betina (gamet). Dengan demikian masing-masing karakter ini akan diwariskan pada
generasi berikutnya (Agus dan Sjafarenan, 2014).
Fenotipe adalah suatu karakteristik baik struktural,
biokimiawi, fisiologis, dan perilaku yang dapat diamati dari suatu organisme
yang diatur oleh genotipe dan lingkungan serta interaksi keduanya. Fenotipe adalah
sifat-sifat yang dapat diamati secara
fisik, misalnya bentuk dan ukuran sel, warna daun, dan sebagainya ( Yuwono, 2005).
Pengamatan fenotipe
dapat sederhana (misalnya warna bunga, bentuk biji, dan sebagainya) atau dapat
pula sangat rumit hingga memerlukan alat dan metode khusus. Namun demikian,
karena ekspresi genetik suatu genotipe bertahap dari tingkat molekular hingga
tingkat individu, seringkali ditemukan keterkaitan antara sejumlah fenotipe
dalam berbagai tingkatan yang berbeda-beda. Fenotipe, khususnya yang bersifat
kuantitatif, seringkali diatur oleh banyak gen. Cabang genetika yang membahas
sifat-sifat dengan tabiat seperti ini dikenal sebagai genetika kuantitatif
(Yuwono, 2005).
Sedangkan genotipe adalah
komposisi genetik yang dipakai
untuk menyatakan keadaan genetik dari suatu individu atau sekumpulan individu
populasi. Genotipe dapat merujuk pada keadaan genetik suatu lokus maupun
keseluruhan bahan genetik yang dibawa oleh kromosom (genom). Genotipe dapat
berupa homozigot atau heterozigot. Setelah orang dapat melakukan transfer gen,
muncul pula penggunaan istilah hemizigot (Yuwono, 2005).
Dalam persilangan terdapat 3 jenis persilangan, yaitu (Adityno,
2013) :
1.
Testcross : persilangan antara suatu individu yang tidak
diketahui genotipnya dengan induk yang genotipnya homozigot resesif. Tujuan
dari persilangan ini adalah untuk menguji heterozigositas suatu persilangan.
2.
Backcross : persilangan antara anakan F1 yang heterozigot
dengan induknya yang homozigot dominan, karena disilangkan seperti ini maka
kemungkinan anak hasil dari persilangan itu hanya satu macam.
3.
Resiprok : persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan. Meskipun sifat induk jantan dan betina bila
dibolak-balik/dipertukarkan tetapi tetap menghasilkan keturunan yang sama
Interaksi–interaksi di
dalam tubuh makhluk hidup dapat menyebabkan adanya penyimpangan semu hukum
mendel. Ada 2 jenis penyimpangan, yaitu penyimpangan karena interaksi alel dan penyimpangan karena reaksi genetik (Adityno
, 2013)
Penyimpangan
karena interaksi alel antara lain dominasi tidak sempurna (incomplete
dominance), kodominan, alel ganda dan alel letal. Selain itu, terdapat juga
interaksi genetik yaitu adalah suatu keadaan dimana dua atau lebih gen
mengekspresikan protein enzim yang mengkatalis langkah-langkah dalam suatu
jalur yang sama (Adityno,
2013).
Penyimpangan Hukum mendel karena
reaksi genetik diantaranya (Harahap, 2012):
1. Intermediet
2. Polimeri
3. Kriptomeri
4.
Epistasis
dan Hipostasis
5.
Komplementer
Intermediet
adalah munculnya suatu sifat baru karena
adanya interaksi dari beberapa gen. contoh : jengger ayam (persilangan antara
rose dan pea menghasilkan walnut 100%, lalu disilangkan lagi sesama walnut). Perbandingan hasilnya
adalah 9 : 3 : 3 : 1 (walnut : rose : pea : single) (Harahap,
2012).
Polimeri adalah bentuk interaksi gen yang kumulatif atau salin menambah sebagai akibat
dari interaksi dua gen atau lebih, atau bisa disebut sebagai gen ganda. Contoh
: percobaan H. Nillson-Ehle pada biji gandum (persilangan antara gandum berbiji
merah gelap dengan putih menghasilkan merah sedang 100%, lalu disilangkan lagi
sesama merah sedang). Perbandingan hasilnya 15 : 1 (merah : putih) (Harahap, 2012).
Kriptomeri adalah sifat gen dominan yang
tersembunyi jika gen tersebut berdiri sendiri, namun setelah berinteraksi
dengan gen dominan lainnya akan muncul sifat yang tersembunyi itu. Contoh:
bunga Linaria maroccana (persilangan anatar bunga merah dan
putih yang menghasilkan keturunan ungu 100%, kemudian disilangkan sesama ungu). Perbandingan
hasilnya adalah 9 : 3 : 4 (ungu : merah : putih) (Harahap, 2012).
Epistasis adalah gen yang menutupi dan hipostasis
adalah yang ditutupi. Terdapat
epistasis dominan, epistasis resesif, epistasis dominan rangkap dan epistasis
resesif rangkap. Pada epistasis dominan gen dengan alel dominan yang menutupi
kerja gen lain. Pada epistasis resesif gen dengan alel homozigot resesif yang
menpengaruhi gen lain. Sedangkan epistasis dominan rangkap adalah peristiwa dua
gen dominan atau lebih yang bekerja untuk munculnya satu fenotip tunggal. Dan komplementer / epistasis resesif rangkap : interkasi beberapa gen yang
slaing melengkapi. Contoh : bunga Lathyrus odoratus. (perbadingan
akhirnya 9 : 7 (ungu : putih) (Harahap, 2012).
Selain karena adanya interaksi
genetic dan alel, penyimpangan dalam hukum mendel juga bisa berasal dari adanya
tautan dan pindah silang. Hal ini menyebabkan terjadinya rekombinasi di antara
gen-gen pada sepasang kromosom (Harahap, 2012).
Adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut juga
terjadi dalam dalam melakukan percobaan. Pada saat melakukan pencampuran antara
biji genetik yang dapat direka sebagai tahap segregasi bebas dalam meiosis,
pengambilan secara acak tidak selalu sesuai dengan teori perbandingan Mendel.
Dan untuk itu pula, dilakukan uji chi square dengan rumus sebagai berikut:
X2
= 
Chi
Square merupakan salah satu cara untuk menguji percobaan yang dilakukan
menyimpang atau tidak dari teori. Dalam percobaan biologis tidak mungkin
didapatkan data yang segera dapat dipertanggungjawabkan seperti halnya dengan
matematika. Berhubung dengan adanya penyimpangan (deviasi) antara hasil yang
didapat dengan hasil yang diharapkan secara toeritis harus dievaluasi, untuk
itulah dilakukan chi square test (Suryo, 2005).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini alat tulis menulis,
kalkulator, dan kantong.
III.2 Bahan
Bahan yang digunakan yaitu biji genetik berbagai warna.
III.3 Prosedur Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam
percobaan ini sebagai berikut:
1.
Masing-masing kelompok dibagikan 40 biji
genetik yang terdiri dari 10 biji kuning hijau, 10 biji kuning hitam, 10 biji
merah hijau, 10 biji merah hitam dan dimasukkan secara acak pada 2 kantong.
Pada tiap kantong, berisi 20 biji genetik.
2.
Satu biji dari kedua kantong tersebut lalu
diambil secara acak agar dihasilkan kombinasi genetik.
3.
Hasil warna kombinasi biji genetik yang
didapat kemudian dicatat. Genotipe K (berbiji kuning) disimbolkan oleh warna
kuning, genotipe k (berbiji hijau) disimbolkan oleh warna merah, genotipe B
(berbiji bulat/bernas) disimbolkan oleh warna hitam, dan genotipe b (berbiji
kisut/keriput) disimbolkan oleh warna hijau.
4.
Biji yang terambil dikembalikan ke kantong
asalnya dan dicampur kembali (untuk menirukan segregasi bebas pada meiosis).
5.
Langkah ke-2 sampai langkah ke-4 diulang
sampai 16 kali pengambilan.
6.
Data yang diperoleh dikumpulkan untuk
keperluan pengolahan data selanjutnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil
A. Data Kelompok
|
Perc. Ke-
|
K_B_
|
K_bb
|
kkB_
|
kkbb
|
|
1
|
Ö
|
|||
|
2
|
Ö
|
|||
|
3
|
Ö
|
|||
|
4
|
Ö
|
|||
|
5
|
Ö
|
|||
|
6
|
Ö
|
|||
|
7
|
Ö
|
|||
|
8
|
Ö
|
|||
|
9
|
Ö
|
|||
|
10
|
Ö
|
|||
|
11
|
Ö
|
|||
|
12
|
Ö
|
|||
|
13
|
Ö
|
|||
|
14
|
Ö
|
|||
|
15
|
Ö
|
|||
|
16
|
Ö
|
|||
|
å
|
11
|
0
|
3
|
2
|
Keterangan:
Ʃ
Total Keseluruhan = 11 + 0 + 3 + 2 = 16
·
K
B = Kuning bernas
·
K
bb = Kuning kisut
·
kkB = Hijau bernas
·
kkbb = Hijau kisut
Tabel Chi Square
|
K_B_
|
K_bb
|
kkB_
|
kkbb
|
|
|
O
|
11
|
0
|
3
|
2
|
|
E
|
9
|
3
|
3
|
1
|
|
D
|
2
|
-3
|
0
|
1
|
|
d2/e
|
0,444
|
3
|
0
|
1
|
|
X2
|
3.407
|
|||
Keterangan:
·
(Observed)
= Hasil yang diperoleh dari percobaan
·
E
(expected) = Hasil yang diharapkan/
diramalkan oleh teori Mendel
·
D
(deviation) = Penyimpangan antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang
diharapkan
B. Data
Kelas
|
Kelompok
|
K_B_
|
K_bb
|
kkB_
|
kkbb
|
|
1
|
8
|
2
|
6
|
0
|
|
2
|
12
|
1
|
1
|
2
|
|
3
|
9
|
1
|
4
|
2
|
|
4
|
11
|
2
|
3
|
0
|
|
5
|
11
|
8
|
3
|
2
|
|
6
|
8
|
5
|
3
|
0
|
|
å
|
59
|
11
|
20
|
6
|
Keterangan:
Ʃ Total Keseluruhan = 59 + 11 + 20 + 6 = 96
·
K B = Kuning bernas
·
K
bb = Kuning kisut
·
kkB = Hijau bernas
·
kkbb = Hijau kisut
Tabel Chi Square
|
K_B_
|
K_bb
|
kkB_
|
kkbb
|
|
|
O
|
59
|
11
|
20
|
6
|
|
E
|
54
|
18
|
18
|
6
|
|
D
|
5
|
-7
|
2
|
0
|
|
d2/e
|
0,463
|
2.722
|
0,222
|
0
|
|
X2
|
3.407
|
|||
Keterangan:
·
(Observed)
= Hasil yang diperoleh dari percobaan
·
E
(expected) = Hasil yang diharapkan/
diramalkan oleh teori Mendel
·
D
(deviation) = Penyimpangan antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang
diharapkan
IV. 2 Pembahasan
Dalam percobaan Imitasi Perbandingan Genetis ini,
dilakukan pengambilan biji genetis sebanyak 16 kali pengambilan. Hal ini
dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang
kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara
acak atau random.
Pada saat melakukan pengambilan dalam kelompok
didapatkan perbandingan fenotip K-
B- : K- bb: kkB- : kkbb atau (Kuning
bernas : Kuning kisut : Hijau bernas : Hijau kisut) sebanyak 11 : 0 : 3: 2.
Sedangkan menurut Mendel perbandingan yang dihasilkan yaitu 9 : 3 : 3 : 1.
Begitu pun dengan perbandingan data kelas yaitu Kuning
bernas : Kuning kisut : Hijau bernas : Hijau kisut (59 : 11 : 20 : 6). Padahal menurut teori ekpetasi yang dikemukakan Mendel seharusnya
perbandingan yang dihasilkan adalah (54 : 18 : 18 : 6). Hal ini menandakan terjadinya
penyimpangan terhadap hasil yang diperoleh dengan hasil yang diharapkan
sehingga dilakukan uji Chi square yang bertujuan untuk menguji percobaan yang dilakukan menyimpang atau tidak
dari teori supaya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dari
data-data yang telah diperoleh, dicari selisih antara hasil yang diperoleh
dengan hasil yang diharapkan sesuai hukum Mendel. Dan hasil dari total deviasi
pangkat dua dibagi dengan total ekspektasi/estimasi. Maka didapatkan nilai chi
square (X2) sejumlah 4,444 (data kelompok) dan 3,407 (data kelas)
dari hasil percobaan yang dilakukan.
Dari
nilai tersebut kemudian dikonversi ke dalam tabel chi square dengan
memperhatikan derajat kebebasannya yaitu n-1 atau 4-1 = 3. Karena terdapat 4
fenotip yang muncul yakni kuning
bernas, kuning kisut, hijau bernas, dan hijau kisut. Jadi nilai yang
diperhatikan adalah nilai-nilai X2 dari kiri ke kanan pada baris 3
dalam tabel. Dan didapatkan bahwa nilai
kemungkinannya diatas 0,05 yaitu antara 0,30-0,50.
Apabila nilai X2 yang didapatkan berada
dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05 maka data yang diperoleh dari percobaan
tersebut buruk. Ini disebabkan adanya penyimpangan sangat berarti. Data
percobaan baru dianggap baik apabila nilai X2 berada di dalam kolom
nilai kemungkinan 0,05 atau di dalam kolom sebelah kirinya.
Maka diambil kesimpulan bahwa data yang diperoleh dari
hasil percobaan sudah signifikan. Deviasi yang terjadi secara kebetulan saja
dan penyimpangannya dari teori kurang berarti. Jadi data percobaan genetik ini
dinyatakan baik atau dengan kata lain sudah memenuhi perbandingan 9:3:3:1.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan
dari percobaan ini adalah setelah melakukan uji penyimpangan genetik didapatkan
gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan
akan bertemu secara acak atau random. Dan perbandingan yang dihasilkan tidak
selalu sesuai dengan perkiraan yang diharapkan dari teori Mendel. Akan tetapi
hasil yang didapatkan cukup signifikan dan dapat diterima serta
dipertanggungjawabkan.
V.2 Saran
Adapun
saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pengambilan biji genetik tidak hanya
dilakukan oleh satu orang perwakilan dari kelompok melainkan dilakukan secara
bergantian agar anggota kelompok yang lain juga dapat mengetahuinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Adityno, Wahyu. 2013. Genetika Hukum Mendel. http://www.biologymediacentre.com.
Diakses 7 Maret 2014 pukul 22:21 WITA. Makassar..
Agus, Rosana dan
Sjafaraenan. 2014. Penuntun Praktikum
Genetika. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Harahap, Ardhi Rizki. 2012.
Rangkuman Biologi. https://www.academia.edu/4630783/ Diakses
8 Maret 2014 pukul 02:48 WITA. Makassar.
Suryo. 2005. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Yuwono, Triwibowo. 2005. Biologi Molekular. Erlangga. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar