Sabtu, 29 Maret 2014

Genetika: Pewarisan Kuantitatif

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN IV
PEWARISAN KUANTITATIF
NAMA                               : NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM                                   : H41113504
KELOMPOK                   : V (LIMA) B
HARI/TGL. PERC.         : KAMIS/ 27 MARET 2014
ASISTEN                          : RISKY NURHIKMAYANI         
              
UH

LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Karakter yang bervariasi di dalam suatu populasi bisa bersifat diskret atau kuantitatif. Karakter diskret, misalnya warna bunga ungu atau putih pada tumbuhan ercis Mendel, dapat digolongkan berdasarkan prinsip ‘ya-atau-tidak’ karena setiap tumbuhan memiliki bunga ungu saja atau putih saja. Banyak karakter diskret ditentukan oleh satu locus gen tunggal dengan alel-alel berbeda yang menghasilkan fenotip berbeda. Akan tetapi, kebanyakan variasi tak terwariskan melibatkan karakter kuantitatif, yang bervariasi dalam suatu kontinum dalam populasi. Variasi kuantitatif yang terwariskan biasanya merupakan hasil dari pengaruh dua atau lebih gen (gen ganda) pada satu karakter fenotipik (Campbell, dkk., 2008).
Pada tahun 1908 informasi mengenai pewarisan kuantitatif memberikan pemecahan masalah atas pewarisan sifat tersebut. Ahli genetika asal Swedia Nielsen Ehle, menelaah pewarisan warna biji gandum. Dengan menggunakan metode Mendel, ia menyilangkan galur-galur biji-merah tangkar-murni dengan galur-galur tangkar murni. Keturunannya semua merah, tetapi intensitas warnanya jauh lebih tipis dibandingkan dengan tetua merah (Kimball, dkk., 1983).
Pada kasus warna biji gandum, interaksi itu bersifat kumulatif. Maka banyak suatu tanaman mewarisi gen dominan, makin tua warnanya. Situasi semacam ini disebut pewarisan poligen melibatkan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur pengaruhnya gen-gen ganda dari masing-masing pengaruhnya kecil. Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi nilai fenotip. Mekanisme pewarisan seperti ini sering juga disebut pewarisan faktor majemuk (Agus, dan Sjafaranaen, 2014).
Berdasarkan teori tersebut, maka dilakukan percobaan untuk mengetahui bagaimana pewarisan kuantinitatif itu dan perbandingannya dengan pewarisan kualitatif.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1.        Menjelaskan perbedaan antara genetika kuantitatif dan genetika kualitatif
2.        Mengetahui cara mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data penelitian tentang pewarisan kuantitatif.
I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan  pada hari Kamis, 27 Maret 2014 pukul 14.00-17.00 WITA  bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mendel mempelajari karakter-karakter yang biasa digolongkan sebagai ini-atau-itu misalnya warna bunga ungu atau putih. Akan tetapi untuk banyak karakter, misalnya warna kulit dan tinggi manusia klasifikasi ini-atau-itu mustahil karena karakter tersebut bervariasi dalam populasi sepanjang suatu kontinum atau kesinambungan (bergradasi). Karakter semacam ini disebut karakter kuantitatif (Campbell, dkk, 2008).
Salah satu dari kekeliruan dari kegagalan Mendel berasal dari studi tentang pewarisan sifat-sifat yang secara kuantitatif berbeda-beda dengan cara yang kualitatif yang mudah dikenal dan nyata. Namun manusia tidak ada yang tinggi atau pendek, tidak pula berat atau ringan. Banyak sifat berlainan secara kuantitatif yang berlanjut di seluruh populasi (Kimball, dkk., 1983).
Biasanya kita beranggapan bahwa suatu kelas fenotip itu selalu mudah dibedakan dari kelas fenotip yang lain. Misalnya, bunga suatu tanaman ada yang merah dan ada yang putih, warna kulit orang ada yang hitam dan ada yang putih, tubuh orang ada yang tinggi dan ada yang pendek. Akan tetapi bila diperhatikan dengan baik, dalam kenyataannya kelas fenotip tadi tidak dapat dibedakan semudah itu. Sebabnya karena seringkali masih dapat diketahui adanya beberapa variasi didalam suatu kelas fenotip. Misalnya saja, bunga merah muda .Kulit hitam pada orang ada yang hitam sekali, hitam biasa, sawo matang. Tubuh orang ada yang tinggi sekali, tinggi, sedang (Suryo, 2010).
Mendel mempelajari karakter yang dapat dipisahkan (contoh warna ungu dan warna putih pada bunga) namun banyak karakter yang tidak dapat dipisahkan dengan jelas seperti warna kulit manusia dan tinggi manusia karena karakter ini bervariasi sepanjang continum (memiliki gradasi). Hal tersebut dikatakan sebagai quantitatif characters. Variasi kuantitatif pada umumnya menunjukkan adanya polygenic inheritance, yaitu suatu efek tambahan dari dua atau lebih gen terhadap satu karakter fenotip (kebalikan dari pleiotropy dimana satu gen mempengaruhi beberapa karakter fenotip). Pigmentasi kulit manusia ditentukan oleh paling sedikit tiga gen terpisah yang diwariskan (Campbell, dkk, 2008).
Dengan membandingkan hasil percobaan Kölreuter dan Mendel dapatlah ditarik kesimpulan adanya perbedaan sebagai berikut (Suryo, 2010):
·         Kölreuter: pada waktu menyilangkan dua tanaman dengan memperhatikan satu beda sifat didapatkan tanam-tanaman F1 yang semuanya intermedier, sedangkan F2 berupa tanam-tanaman yang memperlihatkan banyak variasi antara kedua tanaman induknya.
·         Mendel: pada waktu menyilangkan dua tanaman dengan memperhatikan satu beda sifat didapatkan tanam-tanaman F1 yang semuanya memiliki sifat dominan, sedangkan dalam F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan fenotip 3 : 1.
Maka jelaslah perbedaannya, yaitu bahwa sifat keturunan yang dikemukakan Kölreuter itu ditinjau secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel meninjau sifat keturunan secara kualitatif, artinya sifat keturunan itu tampak atau tidak  (Suryo, 2010).
Variasi kuantitatif biasanya mengidentifikasi pewarisan sigat poligenik, efek adiktif dari dua gen  atau lebih pada satu karakter fenotipik tunggal (kebalikan dari pleiotropi, yaitu satu gen memengaruhi beberapa karakter fenotipik) (Campbell, dkk., 2008)
Pada tahun 1909, seorang ahli genetika Swedia Nilson Ehle menganalisis hasil pewarisan warna biji gandum terigu  dan berhasil menyumbangkan suatu konsep yang sangat penting dalam genetika. Arti penting dari hasil analisis Nilson Ehle terletak pada faktor bahwa sifat-sifat itu tidak selalu ditentukan oleh pasangan gen yang berbeda yang berinteraksi menghasilkan suatu fenotip tertentu (Agus dan Sjafaraenan, 2014).
Sebelumnya pada tahun 1760 Kolreuter telah memperhatikan peristiwa tersebut dari percobaannya dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana tabacum). Akan tetapi karena pada waktu itu hukum-hukum keturunan keturunan dari Mendel belum ditemukan, maka Kolreuter tidak dapat berbuat banyak (Suryo, 2010).
Ada tiga kelompok sifat yang pewarisannya langsung sebagai sifat kuantitatif, masing-masing adalah (Susanto, Agus Hery, 2011) :
1.      Sifat kontinyu, yaitu sifat yang bervariasi diantara kedua ekstrim tanpa ada pemisahan tegas dari satu fenotip ke fenotip berikutnya. Contohnya antara lain produksi susu sapi, produksi padi, laju tumbuh tanaman, serta tekanan darah pada manusia, dapat dipahami bahwa pada sifat kontinyu banyaknya fenotip yang mungkin muncul di antara kedua ekstrim menjadi tidak terbatas.
2.      Sifat meristik, yaitu sifat kuantitatif yang fenotipnya ditentukan melalui perhitungan. Karena penentuannya dilakukan dengan perhitungan, maka sifat meristik mempunyai sifat sebaran fenotip yang tidak kontinyu. Akan tetapi dilihat dari cara pewarisannya, sifat ini termasuk sifat kuantitatif. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor ayam betina, jumlah bulir padi tiap malai, jumlah biji kedelai tiap polong merupakan contoh sifat meristik.
3.      Sifat ambang (threshold character), yaitu sifat yang hanya mempunyai dua atau beberapa kelas fenotip, tetapi pewarisannya ditentukan oleh banyak gen dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti halnya sifat kuantitatif pada umumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan berbagai kelainan bawaan pada manusia. Dalam hal ini kita mungkin hanya mengenal individu yang normal dan abnormal. Namun, sebenarnya tiap individu memiliki resiko dasar menuju kondisi abnormal tersebut. Jika besar resikonya berada di bawah nilai ambang, maka individu yang bersangkutan akan memiliki fenotip normal. Sebaliknya, jika besarnya resiko berada di atas nilai ambang, muncullah kondisi itu.
Perbedaan mendasar antara sifat kualitatif dengan sifat kuantitatif, ialah sifat kuantitatif ditentukan oleh banyaknya gen yang disebut poligen dan semuanya memberikan efek kumulatif terhadap pembentukan suatu fenotip. Pada sifat kualitatif gen tunggal memberikan pengaruh yang jelas dapat dibedakan. Perbedaan lainnya yaitu sifat kuantitatif sifatnya berupa spektrum, variasi berkesinambungan, berkenaan dengan perkawinan populasi, dilakukan analisis statistik untuk estimasi perkiraan. Sedangkan sifat kualitatif sifatnya berupa jenis, variasi tidak berkesinambungan, dapat dikategorikan dalam kelas, berkenaan dengan perkawinan individu, dan dianalisa dengan perhitungan atau rasio-rasio (Agus dan Sjafaraenan, 2014).
Beberapa contoh sifat keturunan pada manusia yang diwariskan lewat poligen (Suryo, 2005) yaitu :
1. Perbedaan Pigmentasi Kulit
Davenport menemukan pengaruh poligen pada pigmentasi kulit manusia yang memperlihatkan variasi kuantitatif antara warna muda sampai hitam-arang. Mereka membedakan 5 derajat warna yaitu dari 0 sampai dengan 4. Pigmentasi kulit itu ditentukan oleh dua pasang gen (misalnya A dan B), yang dominan terhadap masing-masing alelnya a dan b.
Akan tetapi penilaian oleh Curt Stern dan kawan-kawan menyatakan bahwa empat pasang gen itu terlalu sedikit untuk menentukan perbedaan warna kulit pada manusia. Mereka berpendapat bahwa empat pasang gen adalah lebih sesuai.
2.  Perbedaan Tinggi Tubuh
Menurut penyelidikan ada 4 pasang gen yang ikut mempengaruhi tinggi tubuh orang. Akan tetapi disini dapat dibedakan adanya gen-gen dasar (ialah gen-gen yang memberi tambahan pada tinggi dasar). Gen-gen dasar di nyatakan dengan simbol a, b, c, d. Gen-gen ganda dinyatakan dengan simbol T (untuk tinggi) dan t (untuk rendah).
3.        Sidik Jari
Sidik jari orang merupakan contoh yang indah untuk mengetahui peranan poligen. Berdasarkan sistem Galton, dapat dibedakan 3 pola dasar dari bentuk sidik jari yaitu bentuk lengkung atau arch, bentuk sosok atau loop,  dan bentuk lingkaran atau whorl.
Jumlah rigi dari sidik jari seseorang akan tetap pada waktu kira-kira minggu ke dua belas setelah konsepsi dan tidak akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Klasifikasi dari bentuk sidik jari tersebut didasarkan atas banyaknya triradius, yaitu titik-titik dari mana rigi-rigi menuju ketiga arah dengan sudut kira-kira 1200. Dua buah triradius terdapat pada bentuk lingkaran, sedangkan bentuk  sosok memiliki sebuah triradius. Jika bagian yang terbuka dari bentuk sosok dinamakan sosok radial. Tetapi jika bagian yang terbuka itu menuju ke pangkal jari, maka bentuk sosok disebut sosok ulnar.
Deaton melaporkan bahwa pola sidik jari tangan, telapak tangan dan telapak kaki mempunyai hubungan erat dengan berbagai macam penyakit keturunan atau cacat karena kelainan kromosom, misalnya pada penderita sindrom down. Penderita sindrom down mempunyai garis pada telapak tangan seperti kepunyaan kera dan banyak yang memiliki sidik jari bentuk lingkaran atau sosok ulnar.
4.   Bibir sumbing dan Celah langit-langit
Kelainan ini disebabkan oleh poligen. Di Amerika Serikat terdapat seorang diantaranya 750 sampai 1000 kelahiran yang memiliki kelainan ini.
5.        Warna Mata Manusia
Apabila mata manusia diperhatikan dengan baik, nampak jelas bahwa warnanya berbeda-beda tergantung dari pengandungan pigmen melanin di dalam iris. Kecuali pada orang albino yang tidak memiliki pigmen melanin. Meskipun menurunnya warna mata sangat kompleks namun menurut Davenport (1913) dapatmembedakan 5 kelas fenotipe. Hughes (1944) bahkan dapat mengenal 7 kelas fenotip. Apabila kita berpedoman pada aturan bahwa banyaknya kelas fenotip ialah satu lebih banyak dari dua kali jumlah pasangan poligen, maka 9 kelas fenotip dapat dibedakan sebagai hasil dari berperannya 4 pasang gen.
6.  Hidrosefali
Hidrosefali, yaitu membesarnya kepala karena berisi cairan, tidak selalu genetis. Akan tetapi ada salah satu tipe penyakit hidrosefali yang disebabkan oleh poligen. Sebelum atau segera setelah anak lahir, cairan serebrospinal menggumpal dalam tengkorak dan menyebabkan  kepala menjadi membesar. Biasanya disertai dengan cacat mental dan kebanyakan hidupnya tidak lama.
7. Diabetes, tekanan darah tinggi, beberapa penyakit jantung, dan intelegensia. Penyakit-penyakit ini pun diduga disebabkan oleh poligen.





DAFTAR PUSTAKA
Agus, Rosana dan Sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Campbell, Neil A., dkk. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Kimball, J.W., Tjitrosomo, S.S., Sugiri, N. 1983. Biologi Jilid 1 Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Susanto, Agus Heri.2011. Genetika. Graha ilmu. Yogyakarta.

Suryo.2005. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Stansfield, William D., 1991, Genetika, Erlangga, Jakarta.













BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alat tulis menulis, kuas, wadah cat air, dan uang koin.
III.2 Bahan
        Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah air, kertas A4, cat  air warna hitam dan putih.
III.3 Prosedur Kerja
1.      Dipersiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.      Pada kertas yang disiapkan dibuat bulatan menggunakan uang koin. Pada baris pertama dibentuk dua bulatan (sebagai parental), baris kedua dibentuk dua bulatan (sebagai F1) dan baris ketiga dibentuk  9 bulatan (sebagai F2). Pada tiap bulatan diberikan keterangan.
3.      Bulatan parental ♂ (kiri) dan bulatan nomor 1 diberi warna dengan cat air berwarna hitam.
4.       Bulatan parental ♀ (kanan) dan bulatan nomor 9 diberi warna dengan cat air berwarna putih.
5.      Warna parental dicampurkan lalu hasil pencampurannya diwarnai pada F1 dan bulatan nomor 5.
6.      Warna bulatan nomor 5 dan bulatan nomor 1 dicampurkan pada bulatan nomor 3.
7.      Warna bulatan nomor 3 dan bulatan nomor 1 dicampurkan pada bulatan nomor 2.
8.      Warna bulatan nomor 5 dan bulatan nomor 3 dicampurkan pada bulatan nomor 4.
9.      Warna bulatan nomor 5 dan bulatan nomor 9 dicampurkan pada bulatan nomor 7.
10.  Warna bulatan nomor 5 dan bulatan nomor 7 dicampurkan pada bulatan nomor 6.
11.  Warna bulatan nomor 7 dan bulatan nomor 9 dicampurkan pada bulatan nomor 8.
12.  Kesembilan bulatan F2 dibuat sesuai dengan ketentuan dari kanan ke kiri semakin gelap.
13.  Dibuat kemungkinan genotip dari masing-masing warna yang ada dengan menggunakan simbol gen ganda.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
P1   =          ♀g1g1g2g2g3g3g4g4            x          ♂G1G1G2G2G3G3G4G4
                          (Putih)                                         (Hitam)

F1   =                                 G1g1G2g2G3g3G4g4
                                                                     (Abu-abu)

P2   =          ♀ G1g1G2g2G3g3G4g4     x         ♂ G1g1G2g2G3g3G4g4
                             ( Abu-abu)                                (Abu-abu)

F2   = 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar