Senin, 31 Maret 2014

EKOLOGI UMUM: Metode Sampling Biotik

LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN VII
METODE SAMPLING BIOTIK UNTUK MENDUGA POPULASI
HEWAN BERGERAK
NAMA                   : NUR AFIYAH SULAIMAN
NIM                        : H41113504
KELOMPOK        : V (LIMA) B
HARI/TGL            : SELASA/ 25 MARET 2014
ASISTEN              : MUH. NURDIN
  PUBI INDASARI




LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar  Belakang
Populasi adalah kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu. Salah satu hal yang berkaitan erat dengan populasi adalah jumlah atau yang biasa disebut kepadatan populasi, yang menyatakan cacah individu di dalam satuan luas atau volume tertentu. Ada banyak metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah atau kepadatan populasi tergantung dengan keadaan sekitarnya. Salah satu metode yang paling akurat untuk mengetahui kepadatan populasi di suatu wilayah adalah dengan melakukan sensus tetapi kendala dari diadakannya sensus adalah lokasi penelitian. Misalnya jika penghitungan sensus dengan lokasinya berada di hutan terbuka dengan hewan liar seperti ular yang akan dihitung kerapatan populasinya. Pergerakan hewan yang akan dihitung juga mempengaruhi keakuratan sensus (Soegianto, 1994).
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Oleh karena itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin, 1989).
Berdasarkan materi tesebut, percobaan ini dilakukan untuk mengaplikasikan metode dan rumus dalam menduga populasi hewan bergerak pada suatu komunitas serta untuk melatih mahasiswa menggunakan peralatan sederhana dalam percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah :
1. Untuk menduga atau mengetahui populasi dari suatu areal dengan   menggunakan metode Lincoln-Peterson dan metode Zippin.
 2.      Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan  pada hari Selasa, 25 Maret 2014, pukul 14.00-17.00 WITA  bertempat di Laboratorium Biologi Dasar,  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin,  Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan selama 2 hari. Pengambilan dan penandaan sampel pertama dilakukan pada hari Senin, 24 Maret 2014 pukul 06.00 - 07.30 WITA dan pengambilan sampel kedua dilakukan pada hari Selasa, 25 Maret 2014 pukul 06.00 – 08.00 WITA, bertempat di danau Universitas Hasanuddin, Makassar.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di suatu daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Biasanya untuk metode sampling biotik hewan bergerak digunakan metode Capture-Recapture. Merupakan metode yang sederhana untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang dianggap sebagai populasi yang tersebar di alam (Resosoedarmo, 1990).
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi yang relatif konstan sedangkan populasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami di alam (Naughton dan Wolf, 1973).
Untuk mengetahui jumlah atau kepadatan populasi dapat dilakukan dengan banyak metode tergantung dengan keadaan sekitarnya. Salah satu metode yang paling akurat untuk mengetahui kepadatan populasi di suatu wilayah adalah dengan melakukan sensus, akan tetapi kendala dari diadakannya sensus adalah lokasi penelitian. Misalnya jika penghitungan sensus dengan lokasinya berada di hutan terbuka dengan hewan liar seperti ular yang akan dihitung kerapatan populasinya. Pergerakan hewan yang akan dihitung juga mempengaruhi keakuratan sensus (Soegianto, 1994).
Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih untuk mengukurnya. Karakteristik sampel disebut statistik dalam hal ini parameter dari statistic harus diperhatikan secara cermat. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus (Soegianto, 1994).
Banyaknya variabel yang diteliti dan rancangan analisis yang akan digunakan. Semakin banyak variabel yang akan dianalisis, misalnya dengan menggunakan rancangan analisis tabulasi silang atau uji  chi-square of independent (uji chi kuadrat), mengingat adanya persyaratan pengujian hubungan antarvariabel yang tidak membolehkan adanya nilai frekuensi hasil penelitian < 1, maka ukuran sampelnya harus besar serta alasan-alasan peneliti (waktu, biaya, tenaga, dan lain-lain) (Suin, 1989).
Terdapat dua cara untuk menghitung populasi hewan bergerak yakni secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung yaitu dengan perkiraan. Misalnya untuk menghitung populasi rumput di suatu kebun dapat digunakan metode kuadrat rumput, untuk hewan yang relatif mudah ditangkap dapat dilakukan dengan metode CMR atau Capture-Mark-Recapture dalam bahasa indonesia adalah “tangkap tandai dan tangkap kembali” (Soegianto, 1994).
Metode Capture-Recapture merupakan metode yang sudah populer digunakan untuk menduga ukuran populasi daari satu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung, atau mamalia kecil. Adapun metode Capture-Recapture yang biasa digunakan antara lain Metode Lincoln Peterson. Pada dasarnya metode ini menangkap sejumlah individu dari suatu populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang tertangkap diberi tanda, kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu 1 hari. Setelah jangka waktu tertentu dilakukan penangkapan kedua terhadap sejumlah hewan individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua  ini lalu diidentifikasi individu yang bertanda yang berasal dari hasil penangkapan kedua. Maka dapat diduga populasi hewan dalam suatu areal melalui hasil yang didapatkan (Umar, 2014).
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus (Resosoedarmo, 1990).
Metode Capture-Recapture seringkali sulit digunakan untuk menduga ukuran populasi alami. Hal ini disebabkan karena asumsi-asumsi dalam metode Capture-Recapture sulit dilaksanakan di lapangan. Berdasarkan hal itu maka dilakukan metode Removal Sampling yang tidak  melepaskan kembali hewan yang telah disampling. Contoh metode Removal Sampling adalah Metode Zippin yang dilakukan dengan cara penangkapan pertama tidak dilepaskan kembali, kemudian dalam jangka waktu tertentu dilakukan kembali penangkapan kedua dan juga hewan tidak dilepaskan kembali sehingga dengan menggunakan persamaan Zippin dapat diduga populasi hewan dalam suatu areal (Umar, 2014).
Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sejumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat (24 jam). Setelah itu dilakukan pengambilan penangkapan ke-2 terhadap sejumlah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi individu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan kedua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ketidakvalidan dalam metode Peterson. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali dan untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda serta dilepaskan kembali (Tarumingkeng, 1994).
Terdapat beberapa metode sampling lain contohnya metode simple random sampling yang dilakukan dengan memberikan suatu nomor yang berbeda terhadap setiap anggota populasi, kemudian memilih sampel dengan menggunakan angka-angka random. Dalam metode ini semua elemen dari kerangka sampel diperlakukan sejajar dan tidak dilakukan  pembagian atau sub-sub lagi (Suin, 1989).
Keuntungan menggunakan teknik ini, peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya, bebas dari kesalahan klasifikasi yang memungkinkan dapat terjadi dan dengan mudah data dianalisis serta kesalahan-kesalahan dapat dihitung. Kelemahan dalam teknik ini, peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dipunyainya tentang populasi dan tingkat kesalahan dalam menentukan ukuran sampel lebih besar (Suin, 1989).
Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Pada sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Jadi untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel yang bisa dilakukan. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design) (Heddy, 1986).
Penentuan besar kecilnya ukuran sampel tergantung pada antara lain, derajat keseragaman populasi (degree of homogenity). Semakin tinggi tingkat homogenitas populasi semakin kecil ukuran sampel yang boleh diambil, semakin rendah tingkat homogenitas populasi semakin besar ukuran sampel yang harus diambil. Semakin tinggi tingkat presisi yang diinginkan peneliti (level of precisions), semakin besar pula sampel yang harus diambil (Soegianto, 1994).

BAB III
METODE PERCOBAAN


III. Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sweeping net, botol sampel, pulpen dan kertas.
III. Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tinta cina warna merah dan sampel yang akan diamati.
III. Cara Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah:
Pengambilan Sampel
A.  Metode Lincoln Peterson
1.      Ditentukan areal yang areal yang akan diamati populasinya, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi tersebut (periode penangkapan pertama)
2.      Dilakukan penangkapan dengan sweeping net. Pada daerah yang telah ditentukan, sweeping net diayunkan sebanyak 2 kali dalam satu langkah dengan total keseluruhan langkah 10 langkah ke depan dan 10 langkah ke belakang dan penangkapan ini dilakukan sebanyak 2 kali.
3.      Serangga yang diperoleh ditandai dengan tinta cina, selanjutnya dilepaskan kembali ke habitatnya (tempatnya ditangkap), dicatat jumlahnya sebagai M.
4.      Selang 24 jam dilakukan penangkapan kedua dengan jumlah ulangan penangkapan sesuai dengan jumlah ulangan penangkapan pada periode pertama.
5.      Serangga yang ditangkap kemudian dikumpulkan dan dicatat jumlahnya sebagai n.
6.      Serangga yang diperoleh diperiksa untuk diidentifikasi ada atau tidaknya serangga yang bertanda yang tertangkap pada penangkapan kedua. Jumlah serangga bertanda yang tertangkap tersebut kemudian dicatat jumlahnya sebagai R.
B.  Metode Zippin
1.      Ditentukan areal yang areal yang akan diamati populasinya, kemudian dilakukan penangkapan hewan pada lokasi tersebut (periode penangkapan pertama)
2.    Dilakukan penangkapan dengan sweeping net. Pada daerah yang telah ditentukan, sweeping net diayunkan sebanyak 2 kali dalam satu langkah dengan total keseluruhan langkah 10 langkah ke depan dan 10 langkah ke belakang.
3.      Serangga yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam botol sampel sebagai nilai n1. Pada metode ini tidak dilakukan pelepasan hewan kembali.
4.      Selang 24 jam dilakukan penangkapan yang kedua dengan jumlah ulangan penangkapan sesuai dengan jumlah ulangan penangkapan pada periode pertama.
5.      Serangga yang telah berhasil ditangkap kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam botol sampel yang kedua serta dicatat jumlahnya sebagai n2.
     Cara Analisis Data :
      A.    Metode Lincoln-Peterson
1.      Sampel diambil dari botol, diletakkan pada suatu wadah.
2.      Serangga yang diperoleh kemudian dihitung dengan ketentuan M adalah jumlah individu yang ditangkap pada penangkapan pertama dan ditandai, n adalah jumlah individu tertangkap pada penangkapan kedua baik yang bertanda maupun tidak bertanda, dan individu yang bertanda yang tertangkap pada penangkapan kedua adalah R.
3.      Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Lincoln-Peterson.
B.     Metode Zippin
1.    Sampel dikeluarkan dari botol, diletakkan ke dalam suatu wadah
2.    Serangga yang terdapat di dalam botol sampel 1 dan 2 kemudian dihitung sebagai nilai untuk n1 dan n2.
3.    Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Zippin.








DAFTAR PUSTAKA
Heddy, S. 1986. Pengantar Ekologi. Rajawali. Jakarta.

Naughton, S. J dan Wolf, L. L. 1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. Remaja Rosdakarya. Jakarta.

Soegianto,  Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya.
Suin, N. M., 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Umar, M. Ruslan. 2014. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar